Dua

55.5K 1.8K 38

-EDITED-

Happy reading^^

-SW-

Seorang wanita yang tampak telah siap dengan gaun pengantin putihnya yang cantik itu berdiri memandangi jalan raya dengan muram, berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Ia mendesah pelan, semua ini terlalu cepat untuknya. Tapi Ia tidak memiliki pilihan lain, pernikahan ini telah direncanakan bahkan jauh sebelum Ia lahir. Wanita cantik itu dibesarkan dalam sebuah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, tentu saja Ia tidak mau mengecewakan keluarganya, neneknya.

"Ariana.. apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kamar. Wanita itu tampak cantik menggunakan gaun berwarna biru, aura keibuan begitu memancar dari wajahnya.

Ariana, wanita itu menoleh dan memeluk ibunya, "Mami.." panggilnya pelan.

Raut khawatir tersirat dari wajah ibu, tangannya bergerak mengelus punggung terbuka Ariana, "Ada apa sayang? Apa yang kau khawatirkan?" tanyanya sayang.

Ariana menggeleng, "Tidak ada yang perlu kukhawatirkan sebenarnya, Mi. Tapi.. aku takut, Mi." ucapnya sedih.

Indira, Ibu tiri Ariana menarik diri dari pelukan, "Apa yang kau takutkan? Anak mami yang cantik ini takut apa? Hm?" tanyanya. Tangannya bergerak menelusuri wajah Ariana, anak angkatnya, yang kini tertutupi make up.

"Mereka tidak menyukaiku, Mi. Bahkan calon suamiku pun, tampak sangat tidak menyukaiku. Apa aku memang terlihat tidak pantas ya?" tanyanya dengan kepala menunduk, memandangi ujung gaun putihnya yang cantik.

"Hei, chin up, my princess. Kamu pantas, sayang. Kamu sangat pantas. Dan Mami mau, kamu membuktikannya." ucap Indira sambil mengangkat dagu Ariana perlahan.

Ariana tersenyum manis, "Benar. Aku harus merasa pantas, dan membuktikan bahwa aku, memang pantas untuk bersanding dengan Ferdinand. Aku yang akan membuatnya bertekuk lutut di akhir cerita ini, Mi." ucapnya ambisius.

Indira tersenyum, "Ini baru anak Mami." ucapnya bangga.

Ariana mengangguk sekilas dan berkata, "Mi, Nasya.. apa kabar?" tanyanya hati-hati.

Satu pertanyaan yang segera membungkam Indira.

Ia tidak tau apa yang terjadi pada Nasya saat ini. Namun Ia harus terus membohongi semua orang.

"Nasya.. ya, dia baik-baik saja. Dia menitipkan maaf, karena tidak bisa datang ke pernikahanmu." katanya canggung namun berhasil menyembunyikan kegetiran dalam suaranya.

"Nasya, di mana kamu, nak?" tanya Indira dalam hatinya.

--
Seminggu sebelumnya..

"Na, lo serius mau pergi hari ini? Seenggaknya lo dateng dulu lah, ke pernikahannya bang Ferdi. Tega amat lo ninggalin gue." rajuk Lea saat mengantar kepergian Naomi.

Naomi memegang bahu Leana, "Le, gue pergi gak lama kok. Gue janji, gue bakal balik lagi ke sini," ucapnya menenangkan Lea yang mulai berkaca-kaca.

Lea menunjukkan jari kelingkingnya, "Promise me?" tanyanya penuh harap.

Naomi tertawa, "Apaan sih, lo? Basi banget masih pake pinky promise beginian," ejeknya.

Lea mendengus, "No, I still use pinky promise as a foundation of trust, Naomi," ucapnya bersikeras.

Naomi menautkan jari kelingking, telunjuk, dan jempolnya pada Lea, "I promise, dear bitchy," ucapnya usil.

Lea memukul bahu Naomi, "Awas aja kalo lo ingkar janji dan lupain gue. Hidup lo gak bakal tenang, ma lovely bitchy," ancamnya serius namun dengan senyum manis yang seakan dipaksakan.

Naomi hanya tertawa mengiyakan, tatapannya kini beralih pada Kelvin yang ada di samping Lea, "Kelvin, gue titip Lea sama lo ya. Lo jangan main game terus, gak ada yang bakal narik lo buat keluar dari kamar lagi sekarang." ucap Naomi serius.

Kelvin mengangguk, "Iya, tenang aja kali, masih ada kok yang bakal narik gue dari kamar waktu gue nge game nanti," ucapnya sambil tersenyum misterius.

Naomi mengerutkan alisnya, penasaran. Namun ketika melihat jam tangannya, Ia bergegas masuk untuk melakukan check in. "Udah ya, gue harus masuk sekarang. Bye," ucapnya lalu melambaikan tangan pada dua sahabat karibnya.

Lea balik melambaikan tangannya, "Hubungi gue kalo uda nyampe, Na," ucapnya keras.

Naomi hanya mengangguk dan berbalik mendorong kereta berisi dua buah koper besarnya. Dia sudah membulatkan tekad dan tidak mungkin berbalik lagi. Papanya sudah pindah terlebih dahulu ke London sebulan yang lalu, sehingga tidak ada saat ini.

Lea mendesah pelan saat tubuh Naomi berjalan semakin jauh dan tidak terlihat lagi karena banyaknya orang berlalu lalang, "Gue masih gak ngerti kenapa dia pergi secepat ini, Kel. Gue takut, dia bisa gak ya, bertahan di sana sendirian?" tanyanya.

Kelvin tertawa pelan, "Lo akan tau jawabannya secepatnya, Le. Jangan khawatir," katanya.

Lea menoleh, "Jadi lo tau alasannya? Ih kenapa sih lo kalo ngomong gak pernah tuntas? Sok bikin penasaran," omelnya menuntut penjelasan.

"Tuan, ini barangnya sudah siap," ucap seorang pria paruh baya berseragam setelan jas hitam lengkap yang tiba-tiba sudah berada di samping mereka.

Kelvin menoleh, "Ya, letakkan saja di sini. Kalian boleh kembali," ucapnya. Pria itu membungkuk sekilas dan segera berbalik pergi, meninggalkan koper berwarna abu-abu bersama ransel hitam-oranye untuk Kelvin.

Lea memandang Kelvin dengan penuh tanda tanya, "Lo mau pergi juga, Kel? Pergi ke mana? Kok gak bilang-bilang sih?" tanyanya.

Kelvin tersenyum, "Lo pikir, gue bakal biarin Naomi pergi sendiri gitu aja?" tanyanya balik.

Lea membuka mulut, namun tidak ada kata yang bisa keluar. Kelvin memegang bahu Lea, "Lo yang harus bisa jaga diri lo sendiri sekarang. Gue punya alasan kenapa gak ninggalin Naomi sendirian. Lo aman di sini, Le," katanya meyakinkan.

"Tapi, Kel.." ucapnya tertahan.

"Le, gue janji, lo akan tau alasan gue dan Naomi pergi, secepatnya. Paling lambat waktu gue dan dia balik ke Jakarta," katanya.

Kelvin lalu tersenyum singkat, mengusap rambut Lea dan berjalan menuju jalan yang telah dilewati Naomi sebelumnya. Lea memandangi sahabatnya pergi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, "Gue mungkin gak tau alasan Naomi pergi, Kel. Tapi gue tau alasan lo pergi. Lo gak bisa ninggalin dia sendiri. Lo terlalu sayang sama dia, dan gak lihat kalo gue, juga sayang sama lo." ucapnya dalam hati. Perlahan, air mata mulai turun dari pipi putih Lea. Ia menangis, karena untuk ke sekian kalinya, Kelvin lebih memilih Naomi.

--

"Ya, dia sudah berangkat ke sana. Saya mau kalian terus mengawasinya. Menjaganya," ucap seorang pria dengan balutan setelan jas biru. Ia berdiri cukup jauh di belakang Lea, untuk menyaksikan kepergian Naomi, pemilik hatinya.

Pria berwajah menawan itu lalu pergi setelah memutuskan panggilan. Ia tidak bisa berada di sana sekarang, tapi bukan berarti Ia membiarkan Naomi terlepas dari pengawasan. Karena baginya, tidak ada yang boleh mengganggu apalagi menyakiti Naomi, Naominya.

-TBC-

Haiii. Iya, Rissa tau ini udah melenceng jauh dari versi sebelumnya. Karena di versi ini Rissa mau menambah kerumitan cerita dan memunculkan karakter Ariana yang kuat, tidak hanya hadir untuk ditindas. Soo, buat Ariana's team, ini buat kaliaan.

Siapa pria yang menelpon itu? Bagaimana kelanjutan dari kisah ini? Tungguin terus kelanjutannya yaaa. Jangan lupa tinggalin jejak vote dan komentar buat versi baru ini. Terima kasih sebelumnya :)

Oh iya, untuk pemberitahuan, beberapa part ke depan dan selanjutnya Rissa akan private ya. Rissa mau tau siapa yang masih ngikutin cerita ini, hehe. Tapi sama sekali gak maksa buat follow Rissa kok, untuk yang mau baca kelanjutannya aja ^^

Ada komentar tentang cast? Silakan :)

See you soon ^^

Second WifeBaca cerita ini secara GRATIS!