Regas yang Menyebalkan

6.3K 260 0

Mak Odah terlihat membantu Lolita packing barang-barang miliknya. Ada sekitar tiga buah koper besar dan dua buah tas berukuran sedang. Lolita dan Jerry pagi ini akan berangkat ke Inggris untuk urusan keluarga. Salah seorang kerabat Jerry akan menikah di bulan ini. Mereka pun sekalian pergi ke Inggris untuk honeymoon.

"Dad, bawakan kami adik kecil ya!" teriak Regas saat Lolita dan Jerry yang akan masuk ke dalam ruang check-in.

"Menyebalkan. Di usia kamu yang sudah dewasa kamu masih ingin punya adik? Lucu sekali" cibir Moza sambil berlalu menuju parkiran bandara

"Loh memangnya kenapa? Aku suka anak kecil. Ah jangan-jangan kamu benci anak kecil ya?" Regas berusaha menyamai langkahnya dengan Moza.

"Bisa nggak sih kalau kau nggak mengangguku?"

"Nggak bisa. Aku orang baru di Jakarta jadi aku akan terus ikut denganmu"

Moza menggeram gemas.

**

MOZA POV

Mimpi apa aku bertemu dengan Regas. Dia menyebalkan. Kelakuan seperti anak kecil. Dan aku tidak suka anak kecil karena masa kecilku dihabiskan dengan rasa takut dan trauma.

Seperti tadi dia ingin mama dan om Jerry membawakan adik untuk kami? Rasanya aku tidak. Dia pikir adik kecil dengan mudah didapat di Inggris?

Tak sampai disitu Regas menyebalkan.Seisi kampus selalu membicarakannya. Seakan Regas adalah salah seorang personil boyband yang lagi booming saat ini. Bahkan ada klub pecinta Regas yang aku dengar bernama Regas Holic. No..ini tidak boleh dibiarkan.

Satu lagi, aku melarangnya untuk bicara kepada siapapun kalau kita adalah saudara tiri. Kalau Regas berani membocorkan rahasia ini, akan aku usir keluar dari rumahku.

"Hey, kenapa kanu melamun?" Tuh kan bocah tengik itu mulai menyebalkan. Aku yang sedari tadi melamun tentang keburukannya sambil menatap keluar jendela mobil membuat tanganku yang menjadi topangan pipi ku meleset dan sukses membuat keningku terpentok kaca mobil.

"Bisa nggak kamu berhenti membuatku marah" teriakku. Regas hanya tersenyum geli melihatku yang seperti Tarzan teriak tidak jelas.

Mobil Regas memasuki halaman rumah.

"Kamu mau kemana?" tanyaku bingung melihat Regas yang tidak ikut turun.

"Aku mau bertemu dengan teman lamaku. Masuklah sana dan istirahat"

Teman lama? Memangnya dia kenal siapa di Jakarta? Di dalam Mak Odah sudah setia menunggu. Bahkan sudah disiapkan susu putih kesukaanku.

"Loh kok Non Moza sendirian? Mas Regas kemana?"

"Aku nggak tahu. Biar saja dia tersesat di Jakarta. Aku lebih suka. Mak, aku mandi dulu"

"Mau Mak sediakan air hangat?" tanya mak Odah menawarkan.

Aku membalikan tubuhnya. "Nggak usah Mak. Aku bisa siapkan semuanya sendiri"

Mak Odah lebih perhatian kepadaku dibanding mamaku sendiri.

♥♥♥♥♥

Regas meminggirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sederhana dipinggiran ibu kota.

Regas mencoba mengetuk pagar berkali-kali namun tak ada jawaban apapun. Salah seorang tetangga keluar dan memberi tahu bahwa si tuan rumah sedang pergi bekerja.

"Sebaiknya aku kembali besok saja" batin Regas dan kemudian pergi.

Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Mak Odah berpapasan dengan Moza di dapur. Moza tidak memakai baju piyamanya melainkan memakai jaket kulitnya yang berwarna hitam bercelana jeans yang sengaja disobek-sobek di bagian lututnya dan bersepatu boot tanpa heels.

"Non Moza mau kemana?" tanya Mak Odah setengah mengantuk.

"Aku nggaak bisa tidur, aku ingin keluar sebentar mencari angin. Tolong Mak kunci pintunya. Aku mungkin akan pulang bila matahari sudah muncul"

Tanpa disadari mereka berdua, Regas menguping di depan pintu dapur.

Moza tiba di jalan layang yang biasa dipakai untuk balapan. Di tempat ini meskipun bukan week end tetap saja ramai oleh anak-anak remaja yang brutal.

"Hay Moz ada angin apa lo kesini?" seru Robi-temannya

"Gur sedang suntuk di rumah jadi kuputuskan untuk kemari. Sudah ada yang turun kah malam ini?"

"Belum. Mungkin 10 menit lagi Gugy dan Anjar yang turun. Lo mau taruhan?"

Moza menggeleng. "Come on Moza, gue pegang Anjar. Kalau lo kalah lo bisa tidur dengan gue!" Moza terperanjat. Biasanya Robi tak pernah merendahkannya seperti itu.

Bruuk..

Hantaman keras itu mengenai rahang Robi. Siapa yang melakukannya? Disana agak gelap tanpa penerangan lampu.

"Hay siapa lo beraninya mukul gue!" hardik Robi. Sosok itu muncul dan membuka hoodienya. Regas?

"Kamu mau apa? Kamu menguntitku ya?" teriak Moza.

"Ya aku menguntitmu. Aku khawatir makanya aku kesini dan benar saja pria berambut mohawk itu merendahkanmu!"

"Itu bukan urusan kamu Regas. Sekarang pulanglah!"

Regas menarik tangan Moza untuk menjauh dari sana. Moza mencoba berontak tapi tenaganya tak cukup kuat melepaskan cengkraman Regas.

Regas memang menyebalkan.

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!