17: Come Back

11.3K 1.8K 177

Aku spamming banget ya, update sampe 3 kali? Haha. But thanks to you, aku seneng bisa sharing Andra sama Adira ini. So, here is the third update for this week. Semoga suka.

Anyway, kalau mau ngamuk sama aku atau sama Andra di akhir, ditahan ya. Minggu depan ketemu lagi. See you!

Regards, ArataKim 💞

---

Adira

Rasanya banyak hal konyol yang terjadi hari ini. Dan banyak juga hal-hal yang terkesan baru untukku. Termasuk pelukan Andra. Meski itu sudah terjadi sejak beberapa jam yang lalu, semuanya seakan masih terasa.

Ya, aku tahu. Memang aku yang tidak waras.

Rasanya masih canggung untuk berkendara bersama dengan Devina, terlebih setelah semua kekonyolan dalam kepalaku menjadi pisau yang membelahku mentah-mentah. Itu memalukan. Tapi yang Devina lakukan hanya tersenyum, dan aku mencoba menyesuaikan.

Karena butuh dokter mata, aku mencoba menghubungi Reza, si om muda yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Mama, yang untungnya sedang punya sedikit waktu luang. Jadi dia meminta teman sesama dokternya untuk mengurus soal Devina.

Aku tidak bercerita soal Devina, tapi nampaknya Reza sudah tahu, karena Reza sendiri berbisik padaku dengan senyuman. "Dia cantik, Ra. Matanya persis kayak lo tuh."

Andai saja aku bisa menyikapi hal itu semudah Reza, mungkin semuanya akan lebih baik.

Aku sengaja menunggu di luar sementara Devina masuk sendirian ke ruangan bersama dengan Dokter Betty, sementara Andra keluar sebentar untuk membeli minum. Untuk beberapa saat, aku masih menunggu di luar, sesekali memeriksa ponsel sebelum kembali menyakukannya, perhatian berpindah pada pamflet kecil yang tersedia.

Ternyata tak butuh waktu lama, Devina sudah keluar. Dia tersenyum padaku dan duduk di sampingku.

"Jadi gimana?" tanyaku.

"Dokter bilang mata saya iritasi, Bu. Untungnya langsung ke dokter, karena bisa lebih parah." Devina justru tertawa. "Makasih banyak sudah mau antarin saya, Bu."

"Nggak papa. Lagian yang nyetik juga Pak Andra kok," sahutku, mencoba untuk bersikap santai. "Tapi serius? Mata kamu nggak papa? Kalau butuh libur..."

"Saya baik-baik saja kok, Bu. Dokter bilang sama obat aja cukup." Dia menunjukkan kertas kecil, resep dokter, kemudian kembali menyakukannya. "Saya tinggal ambil obatnya aja."

Devina kemudian beranjak dari kursi, berdiri tepat di sampingku. Senyum yang sama masih terukir di bibirnya, hanya saja perlahan senyum itu berubah, dan bisikan kecilnya terdengar. "Saya minta maaf juga ya, Bu Adira."

"Lho? Minta maaf buat apa?" tanyaku heran.

"Saya nggak bermaksud buat bikin salah paham. Tapi saya sama Pak Andra nggak ada apa-apa kok."

Spontan keningku mengernyit karena itu. Sungguh. Aku tidak mengerti. Kenapa Devina tiba-tiba bicara begitu?

Aku baru saja ingin mengajukan pertanyaan, tapi Devina sudah kembali bersuara. "Saya takut aja pas tadi Ibu pergi tiba-tiba dari ruang staff, jadinya salah paham. Pak Andra juga jadi kelihatan khawatir gitu. Saya nggak bermaksud mengganggu hubungan orang."

"Hubungan orang? Dev, kayaknya kamu yang salah paham deh," kataku, measih mencoba mencerna. Devina justru kelihatan terkejut. Bisa kulihat alisnya meninggi.

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang