CINTA DAN IKHLAS [FINA DAN HANIFA]

17 7 4

Beberapa hari berlalu begitu saja. Firman kembali menjalani hari dengan aktifitas seperti biasanya, mengantar Nana sekolah, ke kantor dan menghabiskan waktu bersama Nana. Sedangkan Fina melanjutkan hari dengan skripsi dan bimbingan di kampus dan tak lama lagi ia akan ujian. Seakan tak pernah bertemu, mereka beberapa hari ini tak lagi saling menghubungi. Semenjak pertemuan mereka dengan orang yang ia rindukan seakan semua dimulai dari awal. Firman begitu semangat untuk melanjutkan hari demi masa depan anaknya sedangkan Fina begitu sedih karena kembali berpisah dengan Raihan. Sesekali mereka saling mengingat namun tak ada yang ingin memulai percakapan atau sekedar saling menghubungi.

Sehabis bimbingan skripsi, Fina berjalan menuju arah parkiran, ia menyempatkan diri menyapa dan bercerita ke beberapa teman yang duduk di bangku taman. Hari ini Fina ingin bertemu satu dosen lagi kemudian ia bisa mendapatkan jadwal ujian. Sambil menunggu dosen tersebut ia memilih untuk duduk menyendiri di sudut taman kampus. Tempat itu tak begitu jauh dari tempat ia terakhir bersama Raihan. Di tengah keramaian orang, tempat itu memang jarang untuk di tempati melirik ke arahnya pun jarang karena letaknya tak begitu nampak dari koridor tempat beberapa orang sibuk berjalan.

Di tempat itu terdapat tembok begitu panjang setinggi pinggang orang dewasa, tembok itu biasa digunakan para mahasiswa untuk duduk dan berkumpul di jam-jam tertentu. Hari ini di tempat itu kosong hanya ada Fina yang duduk fokus membaca beberapa coretan perbaikan pada lembaran skripsinya.

"Terkadang.... Bertahan itu lebih menyakitkan daripada merelakan dan mengikhlaskan." Kata seorang wanita yang tiba-tiba duduk di samping Fina.

Fina mendengar suara dan perkataan itu. Dalam hati Fina berkata, "Sejak kapan wanita ini berada disini? Aku tak pernah merasakan langkahnya. Mungkin karena aku terlalu fokus membaca."

"Terkadang.... Kita harus merelakan sesuatu itu pergi, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi." Kata wanita berbaju putih itu.

Lagi-lagi Fina mendengar perkataannya. Fina merasa jika perkataan itu tertuju padanya. Namun baginya itu tak mungkin sebab tak ada yang tau apa yang ia rasakan setelah kejadian itu. Fina pun berbalik melihat wanita yang ada di sebelahnya.

"Aku belum pernah melihat wanita ini sebelumnya? Dia begitu cantik dan bersih, dia bukan mahasiswi, mungkin ia dosen baru atau mungkin senior alumni? Dia kelihatan masih begitu muda." Kata Fina dalam hati sambil melirik wanita itu.

Tiba-tiba pandangan mereka saling bertemu dan merekapun saling menyapa dengan senyum.

"Hai, maaf yah aku mengganggu, aku lagi latihan mengucapkan sesuatu kepada seseorang yang belum pernah mengenal dan bertemu denganku." Kata wanita itu.

"Iya tidak apa-apa, lagian disini juga tempat umum." Balas Fina.

"Oh iya, kamu sedang apa disini? Kelihatannya kamu memendam sedih dibalik wajah yang ceria itu?" Tanya wanita itu.

"Hehehe... Banyak yang bilang begitu, setiap orang kan memang pernah merasakan sedih apalagi disaat menjelang ujian skripsi tapi setiap kesedihan mengajarkan diriku untuk tegar. Aku selalu berusaha berdamai dengan hati untuk proses menjadi dewasa." Jawab Fina dengan senyum.

"Berusaha berdamai dengan hati? Selama ini hati kamu berontak dengan kerinduan dan kesedihan? Sepertinya kamu pernah kehilangan sesuatu yang begitu kamu sayangi sehingga keikhlasan itu belum begitu tampak di wajahmu." Senyum wanita berbaju putih.

Saat itu entah mengapa Fina tiba-tiba saja menceritakan semua kisahnya, bahkan kisah perasaannya kepada seorang pria yang telah mempunyai satu anak. Ini untuk pertama kalinya Fina curhat kepada orang yang baru ia kenal bahkan belum ia ketahui siapa namanya. Tapi cerita pertemuannya dengan Raihan beberapa hari yang lalu ia tidak ceritakan dengan alasan itu rahasia yang sulit untuk dipercaya manusia.

1 Kisah 4 Cinta 2 DuniaBaca cerita ini secara GRATIS!