Delapan

13 8 0

23.45 WIB

Mutiara kembali membuka matanya, kembali menutup lagi. Begitu seterusnya, dia tidak merasa nyaman. Entah karena apa dia pun tidak tau pasti,

Kamarnya tidak lah sempit bahkan terlalu luas, tidak juga pengap, kamar itu bahkan menggunakan AC --- warna cat dindingnya pun kalem, hanya dengan putih dan ungu soft yang sangat di sukai Mutiara.

Mutiara kembali menghela nafas, dirinya tidak bisa tidur kembali.

Clek~

Mutiara melangkahkan kakinya ke beranda, mencoba mencari udara segar. Dirinya sudah sangat lelah, tetapi matanya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi.

Yah, setidaknya matanya bisa di manjakan dengan pekarangan hijau milik keluarga Dirga.
Mutiara mengedarkan pandangannya, hingga matanya bertemu

Dengan mata

Gion.

Lama Mutiara terdiam, hingga Gion berdehem, membuyarkan lamunan Mutiara.

"Belum tidur?" Tanya Gion dari seberang sana.

"Belum, aku enggak bisa tidur" jawab Mutiara seraya melemparkan pandangannya ke sembarang arah.

"Kenapa? Enggak nyaman ya?"

"I don't know. Maybe?"

"Tidurin aja. Paling juga entar lagi tidur"

Mutiara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seraya menggembungkan pipinya.

"Kenapa enggak pulang?" Tanyanya

"Kepengen nginep aja, and kok aku enggak tahu kalau kamu ini saudaranya Dirga? Padahal aku dan Dirga udah lama banget kenalnya"

Mutiara menghela nafas
"Ayah Dirga itu kakaknya ayah aku. Memang ayah enggak terlalu dekat sama kakaknya, dulu aku main ke Bogor pun cuma beberapa kali karena kebetulan ayah ada urusan bisnis di Bogor." Jelas Mutiara.

Gion hanya mengangguk kembali, seraya melemparkan pandangannya kembali ke arah taman itu.

"Tidur gih. Udah malem, enggak baik buat cewek" Titah Gion sembari masuk kembali ke dalam kamarnya.

Mutiara hanya mendelik ke tempat semula Gion, tidak lagi menemukan pria itu diluar. Matanya yang mulai lelah akhirnya terlelap di tengah malam.

* * *

"Pagi" sapa Mutiara sembari memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya.

"Pagi kak Mut, udah bangun aja. Emang kakak masuk jam berapa?" Tanya Clara.

"Aku? Setengah delapan, nih masuknya. Aku berangkat duluan ya" ucap Mutiara.

"Hati-hati di jalan ya nak" ucap ibu Dirga di sela-sela dirinya mengoleskan selai pada roti.

"Kamu perginya sama Gion aja Muti" titah Dirga membuat Mutiara menghentikan langkahnya.

Baru saja Mutiara ingin mengeluarkan suaranya untuk menentang hal tersebut, Dirga sudah menyelanya.

"Jangan pikir kamu lupa halte bus dari sini jauh, lagian Gion masuk siang jadi bisa ngantar kamu. Atau mau aku yang antar?" Ekspresi Dirga dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak menerima penolakan sedikitpun dari gadis yang sedang menatap kesal ke arahnya.

"Enggak usah, aku sama Gion aja" Jawab Mutiara.

Terkesan dingin, karena dirinya yang tidak suka diperintah kesana dan kemari --- tetapi di antar ke kampus oleh seorang Dirga adalah boomerang baginya.

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang