SEPERTI YANG DULU [FIRMAN DAN HANIFA]

Mulai dari awal

"Bolehkah aku menangis?" Bisik Firman, kemudian ia pun mengeluarkan air mata kerinduannya.

Tidak lama Firman kembali seperti semula. Ia mencoba untuk lebih banyak bercerita dengan Hanifa.

"Selama tujuh tahun aku masih bisa membayangkan dirimu, kamu begitu nyata di ingatanku, sampai saat ini aku masih tak percaya jika ini benar-benar nyata." Ucap Firman.

"Akhh... Aduhh... Sakiit..!!" Teriak Firman.

Hanifa memberi bukti jika yang terjadi saat ini adalah nyata. Ia mencubit pipi Firman dengan sangat keras.

"Kalau sakit berarti ini nyata kan mas?" Kata Hanifa bercanda.

Firman begitu senang bisa bertemu dengan Hanifa. Ia bercerita cukup banyak, kebanyakan yang ia bicarakan tentang Nana. Meskipun senenarnya sebagian dari kisah kehidupan Nana sudah diketahui oleh Hanifa namun tetap saja ia mendengarkan dan tetap merahasiakan cerita tentang hubungan dia dan anaknya yang sebenarnya.

Di ruang tamu terdapat beberapa album foto masa kecil Nana. Mereka membuka lembar demi lembar foto tersebut sambil tertawa mereka bercerita dan berandai-andai.

"Mas apakah kamu tidak pernah berpikir untuk mengajakku jalan- jalan seperti dulu lagi?" Gombal Hanifa.

"Heh? Memang kamu mau kemana? Baiklah ayo kita keluar!" Jawab Firman dengan semangat.

"Kamu yah... Masih seperti yang dulu, masih tak pernah peka! Hahaha.." Tawa Hanifa.

Mereka berencana untuk pergi bersama namun sebelum mereka berangkat, Hanifa memilihkan baju buat Firman, layaknya pasangan suami istri mereka saling bercanda meski dalam memilih pakaian.

"Nah sekarang bolehkah kita berangkat? Andai Nana bisa ikut dengan kita." Kata Firman.

"Baiklah sekarang kita berangkaat!! Kalau masih ada waktu kita boleh menjemput dan mengajak Nana kok mas." Kata Hanifa tersenyum.

Kemudian mereka menuju garasi bersiap naik ke mobil dan berangkat.

"Apakah perlu aku membuka pintu? Atau kamu bisa menembus pintu mobil? Hahaha..." Tanya Firman meledek Hanifa.

"Ihh... Perlakukan aku sebagai istri dong jangan sebagai hantu!" Jawab Hanifa pura-pura ngambek.

"Baiklah ratukuu... Silahkan naik." Firman membuka pintu mobil buat Hanifa.

Merekapun memulai perjalan bersama. Selama perjalanan Firman banyak bercerita, hampir setiap jalan dan tempat ia ceritakan pada Hanifa. Hanifa hanya menatap mendengar sambil tersenyum kepada Firman.

Tak lama mereka jalan Hanifa bertanya, "Mas apakah selama ini hanya aku yang ada di hatimu? Apakah kamu tidak pernah berpikir untuk menikah lagi?"

"Entah harus bagaimana cara membahasakannya padamu. Selama ini aku tak pernah menyimpan perasaan kepada wanita selain dirimu namun di satu sisi aku juga kasihan dengan anak kita yang terus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu." Jawab Firman.

"Apakah kamu tidak ingin mencari ibu buat Nana? Katanya kamu kasihan sama anak kita yang tumbuh tanpa seorang ibu?" Tanya Hanifa.

"Entahlah, untuk saat ini aku belum menemukan yang tepat." Jawab Firman singkat.

"Belum menemukan orang yang tepat atau belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan kepadaku? Ayo ngaku mas, hehehe.." Tanya Hanifa yang menggoda Firman.

"Serius, aku belum menemukan yang tepat." Jawab Firman tersenyum.

"Apakah menurutmu Fina bukan orang yang tepat mas?" Tatap Hanifa.

1 Kisah 4 Cinta 2 DuniaBaca cerita ini secara GRATIS!