Satu

119K 2.3K 32

EDITED

Happy reading ^^

-SW-

"Ed.. aku udah gak kuat lagi, aku gak bisa hidup tanpa dia," rintih seorang wanita dalam posisi berbaring di tempat tidur putih itu.

Putih. Ruangan itu didominasi warna putih, aroma khas rumah sakit pun tersebar di dalamnya. Wanita itu terbaring lemah setelah melahirkan, dengan infus dan alat bantu nafas melekat padanya.

"Apa yang harus lakukan, kak?" tanya pria yang duduk menungguinya sejak beberapa hari belakangan itu dengan lemah.

"Dia tidak akan kembali untukku, bukan?" tanya wanita itu dengan pelan, bahkan pria itu hanya dapat mendengarnya samar.

"Kak, hidup harus tetap berjalan, dengan atau tanpa bajingan itu. Kakak harus cepat pulih, ada bayi perempuan cantik yang menunggu kakak," ucap pria itu sambil menggenggam tangan mungil wanita itu.

"Tidak, Ed. Aku tau bila hariku akan datang tidak lama lagi. Dia terlihat begitu terang dan mengulurkan tangannya padaku. Bagaimana bisa aku menolak?" tawa pelan wanita itu kemudian terdengar.

Pria itu, Ed, menggeleng, "Tidak kak, berhenti berbicara seperti itu. Tidak ada yang akan ikut dengan kak Bryan." ucapnya tegas.

Tangan wanita itu bergerak menelusuri rahang kokoh 'adik'nya yang masih berusia dua puluh satu tahun. Tampan, seperti biasa. Naomi beruntung karena mendapatkan hati pria ini, sungguh. Pria tampan beretika baik, hanya saja, wajah dingin itu menyembunyikan kehangatan hatinya.

"Kutitipkan Naomi dan Olivia padamu, ya, Ed? Maafkan bila sampai akhir nafasku, aku masih saja sangat merepotkanmu. Di kehidupan selanjutnya, semoga kita bertemu lagi, dan akan kubalas semua ini. Aku berjanji.

"Berjanjilah padaku, Ed? Berjanjilah kau akan selalu menjaga dan menyayanginya? Mereka yang sangat berharga untukku." katanya dengan perih.

"Iya kak, aku berjanji." ucap lelaki itu dengan mantap. Wanita itu, Nasya, tersenyum. Wajah yang biasanya dipenuhi rona merah keceriaan, kini pucat pasi.

"Aku bisa tidur dengan tenang sekarang. Terima kasih, Ed. Terima kasih." ucapnya tulus.

"Kak, berhenti bicara seperti itu. Kak Nasya akan segera sembuh dan bisa membuatkanku kue keju yang enak lagi." ucap Ed dengan riang. Tangannya kemudian bergerak merapikan selimut Nasya dan mengelus rambut cokelatnya.

Nasya tertawa, mengangguk mengiyakan.
-

Tapi sepertinya takdir tidak berpihak padanya. Keesokan harinya, Ed datang dan mengetuk pintu, "Kak, Ed masuk ya," senyum merekah mengiringi langkah lelaki tegap itu, tangannya membawa sebuket mawar putih yang masih segar.

Namun ruangan itu kosong, tidak berpenghuni. "Kak? Kak Nasya?" panggilnya dengan khawatir. Senyum menawannya hilang sama sekali.

Karena tidak menemukan siapapun di dalam, Ed berlari mencari suster atau siapapun yang bisa menolong. Memberitahunya, di mana Nasya berada sekarang.

Hingga seorang suster menghentikannya, "Jangan berlari seperti itu di rumah sakit, tuan. Siapa yang anda cari?" tanya suster itu.

"Pasien.. Pasien yang menempati kamar nomor 143, ada di mana, suster?" tanyanya dengan khawatir.

"Mohon maaf, Pak. Saya turut berdukacita. Tadi subuh, pasien telah meninggal. Tidur dengan tenang." ucapnya menyesal, meninggalkan Ed yang tercengang.

"Tidak mungkin, tidak mungkin." bisiknya pelan, dan hanya dapat didengar olehnya.

Sebuket bunga mawar putih jatuh di lantai rumah sakit itu. Sebuket mawar yang belum menemui pemiliknya, dan tidak akan pernah lagi.

Second WifeBaca cerita ini secara GRATIS!