16: Jealousy

10.8K 1.9K 150

Aku mau triple update nih.
Tapi kalo aku minta ramein ini dulu, boleh?

---

Andra

Gue rasa dugaan gue benar. Adira mencoba menghindari gue. Mungkin itu kata yang kurang tepat, tapi yang jelas, ada jarak yang dia coba ciptakan. Bisa saja ini hanya hipotesis tak berfondasi dari otak gue yang seadanya, tapi semakin lama, itu yang gue rasakan.

Di beberapa kesempatan yang gue rasa bisa digunakan untuk berkomunikasi, Adira langsung mengalihkannya kegiatan lain, meniup kesempatan yang gue kira “kesempatan” itu. Dan hal itu yang terjadi selama beberapa hari.

Percayalah, mencoba membuat kesimpulan sendiri itu menyebalkan, dan mencoba mencari kepastian tentang benar salahnya kesimpulan yang kita buat itu menyusahkan. Cara termudahnya, tentu saja, bertanya langsung. Sayangnya, gimana caranya gue mau bertanya sementara Adira bahkan tidak bisa ditanya?

Meski gue ingin berpikir positif, nyatanya gue juga bukan orang bodoh. Kalau memang ada sesuatu yang salah dari gue, paling tidak gue ingin mendengarnya langsung dari Adira.

“Jadi gini, Pak Andra, rincian dana dari Pak Sam. Ini sudah sama kemarin ditambah masukan bagian creative, wardrobe, sama make-up.”

Gue kembali tertarik ke masa gue karena penjelasan itu. Devina kemudian menyodorkan kertas baru ke arah gue, dengan tabel-tabel dan angka-angka yang tertera di sana.

“Berarti tinggal coba dilihatin ke Bu Adira aja, ya? Atau sebelumnya sudah dilihat?”

“Belum sih, Pak. Sebelumnya Pak Sam bilang mau nyari sih, tapi terakhir Bu Adira lagi nggak ada di kan—aduh.”

Desisan tiba-tiba dari Devina membuat gue menoleh, sementara dia sendiri sudah melepas kertas, tangan bergerak mengucek mata sebelah kirinya dengan cepat.

“Devina, kenapa?” Gue tidak bisa menahan diri untuk mencondongkan tubuh. “Jangan dikucek gitu. Kelilipan?”

Kepala Devina mengangguk, namun tangannya tak kunjung berhenti bergerak. “Kayaknya ada yang masuk, Pak. Mata saya perih banget,” katanya lagi. Segera dia berdiri dari kursi. “Sebentar, ya, Pak. Saya mau coba lihat mata—”

“Sini biar saya bantuin,” potong gue. Devina berhenti menggerakkan tangannya, dan di situlah gue bisa melihat matanya. Merah. Kalau harus menambahkan, merahnya kelihatan cukup parah. Rasanya yang begini bukan hanya kelilipan. “Duh, Dev, harusnya nggak kamu kucek begitu matanya. Malah makin iritasi.”

“Dari tadi sebenarnya udah lumayan gatal sih.”

“Coba sini, saya bantu.”

Gue meminta Devina untuk tidak bergerak dulu, tetap berdiri di tempat sementara gue mencoba untuk memeriksa matanya. Yah, gue bukan dokter memang, tapi paling tidak hal begini termasuk pengetahuan dasar. Mencoba jaga jarak—karena penyakit mata itu cukup mudah menular—gue mencoba memerhatikan dengan kepala yang agak menunduk dan condong ke arah Devina.

“Coba kedipin cepat, tapi jangan—”

“Eh?”

Suara itu membuat gue menoleh ke arah pintu, dan yang bisa gue lakukan hanyalah membulatkan mata ketika menemukan sosok Adira berdiri di depan pintu, melemparkan ekspresi yang rasanya menggambarkan raut wajah gue saat ini juga. “Ma-maaf. Saya kira Pak Sam ada di sini.”

Seketika gue merasa kikuk, terutama karena cara Adira menatap gue. Canggung, gue berusaha memberi respon. “Oh, Pak Sam. Dia lagi ke—”

“Oh, oke. Makasih.”

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang