"Gak tau, mungkin cuma liatin dua cowok idiot berantem."

Gilang yang pendengarannya tajam pun menoleh refleks. Menatap kearah Andra yang juga menatapnya dengan ekspresi datar. "Apa lu bilang!"

"Kenapa? Kesinggung?" Gilang menghempaskan kepala Randy yang tadi sedang asik dijambaknya. Ia menatap kesal kearah Andra yang masih setia menatapnya datar.

"Gue bukan idiot! Jaga omongan lu ya!"

Randy yang menjadi korban hempasan manja ala Gilang pun mengusap kepalanya pelan. Ia menatap wajah Gilang heran, tumben sekali cowok itu marah. Biasanya kan Gilang itu tipikal cowok penakut yang bodoamat.

"Lang, lu kesurupan?"

"Diem lu Ran!" Gilang menyentak. Ia menatap wajah dihadapannya kesal.

"Ayok kita iket aja mereka!"

"Lu serius?"

"Kalo lu gak mau, biar gue yang iketin."

Gilang celingukan, ia mencari sesuatu untuk mengikat tangan dua kecebong Keylo itu. Matanya menyipit seketika saat ia melihat sebuah kain panjang bekas praktek tata busana yang terbengkalai dekat tong sampah di sekitar gerbang sekolah.

"Nah kayaknya itu bisa di pake!"

"Hah? Apaan?"

Gilang berjalan riang ke dekat tong sampah. Membuat Randy mengerutkan keningnya heran. Ia menyusul Gilang, lalu menggenggam tangan Gilang yang hendak mengacak-acak tong sampah.

"Lang, stop! Kalo lu laper.. gue masih mampu beliin lu cilok sebiji! Jangan ngacak-ngacak tong sampah lagi!"

"Apaan sih anjir!" Gilang menatap sewot kearah Randy. Ia menunduk untuk melihat kearah tangannya yang di genggam erat oleh Randy. Ini menggelikan gan!

"Jijik atuh bangsat!" Ucap Gilang sambil menghempaskan tangan Randy kasar. Membuat wajah Randy menatap datar kearahnya. "Jagain noh dua curut! Gue cuma mau ambil nih potongan kain buat iket leher mereka!"

"Eh anjir! Mati tar anak orang!"

"Iya iya tangannya aja."

Randy menghembuskan nafasnya pelan. Ia berdiri dan berjalan menghampiri dua kecebong Keylo yang masih setia berdiri ditempatnya.

"Lu berdua gak mau kabur gitu? Mau di iket loh ini."

"Gak mau ah, mager! Capek tau lari-lari!" Ucap Darrel sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangan. Andra hanya mendengus pelan. Ia menatap kearah Gilang yang berjalan menghampirinya dengan sebuah kain panjang di tangannya.

"Mana tangan lu! Biar gue iket." Andra menyodorkan kedua tangannya pasrah. Ia menatap sebal kearah Gilang yang fokus mengikat tangannya erat. "Nah udah."

"Sekarang giliran lu, siniin tangan lu!"

"Aishhh gue pengen makan tutut! Tar susah!" Keluh Darrel tak terima. Ia menyembunyikan tangannya spontan.

"Gue bilang, siniin tangan lu!" Gilang melotot kesal. Ia menarik tangan Darrel cepat.

"Biasa aja kali, gak usah pake nge-gas gitu!"

"Berisik!"

Darrel mengerucutkan bibirnya sebal. Ia mendelikan matanya tajam kearah Gilang. "Gue benci lu!"

"Gue juga."

Randy menghembuskan nafasnya. Ia memijat pelipisnya pelan. "Pusing gue liatin kelakuan lu Lang."

MY STUPID ENEMY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang