Pasal 3: You're my best of best-friends

487 74 31


Sahabatku tidak hanya Mean. Kami memiliki gang dengan anggota 4 orang; Mean, lelaki paling tampan di kelompok kami. Dirinya adalah yang paling kaya, paling cerdas, paling brengsek, dan paling tidak peka padahal ia adalah calon dokter. Sahabatku yang lain adalah Perth dan Mark. Mereka berdua sama-sama dari fakultas seni jurusan penyutradraan dan sinematografi. Aku tidak mengerti mengapa kami berakhir menjadi satu gang. Perth dan Mark bukan dari kelompok yang sama saat penerimaan mahasiswa baru. Dari kami berempat, mungkin kalian berpikir aku adalah asisten mereka yang selalu mengintil setiap kali mereka bergerak dari satu titik kampus ke titik lain. Orang-orang mungkin berpikiran Mean, Perth, dan Mark dalam kondisi tidak stabil saat memilihku menjadi salah satu bagian dari gang. Persamaan mereka bertiga adalah mereka datang dari keluarga berada dengan level brengsek yang nyaris sama; pecinta wanita! Sampai saat ini aku bahkan masih menanyakan mengapa aku bisa bergabung dengan mereka?


Kantin kampus di fakultas kedokteran pada jam sepuluh siang terlihat cukup padat. Jangan tanyakan padaku mengapa aku akhirnya mendarat di area kekuasaan Mean. Bukan karena aku ingin melihat Mean, well, ralat sedikit, aku ingin sebenarnya tapi bukankah teknik melupakan Mean masih terus kujalani? Perth yang tidak ada kuliah hingga siang nanti, menyeretku yang baru saja keluar dari kelas dan membawaku kemari. Kau akan tahu mengapa Perth, yang sekarang duduk di depanku, tengah memanjangkan lehernya berkali-kali lipat layaknya jerapah dan mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru sambil memasang senyum bodohnya.


Fakultas kedokteran adalah sarang burung-burung betina berkualitas internasional. Di sini, ratusan perempuan dapat dengan mudah ditemukan.


"Bisakah kau sedikit tenang? Hanya lihat cewek-cewek di sini udah netes aja liurmu?" kataku bosan sambil menyuap makan siang sekaligus sarapanku.


Perth berdecak pelan. "Kamu enggak akan ngerti rasanya mereka. Jangan sering-sering baca novel erotis."


"Siapa bilang bacaanku begitu?" sambarku tersinggung.


"Sensi banget, Ibu Plan yang imut ini?"


"Aku cowok ya. Cowok itu tampan."


"Kamu bilang aku tampan?" Kedua alis Perth naik-turun. Jijik rasanya.


"Rese'!"


"Plan, kamu harusnya belajar buat menikmati hidup."


"Aku sedang menikmati hidup," balasku sambil mengangkat satu sendok sedikit ke arahnya, "makanan tidak akan pernah mengecewakanmu dalam kondisi apapun." Kututup dengan melahap ayam goreng di sendok dengan semangat.


Ketenangan akan nikmatnya ayam goreng dan nasi di depanku mendadak menguap ketika sosok bertubuh tinggi yang sangat kukenal berjalan mendekat. Langkahnya seperti raja membuat kerumunan membuka jalan secara otomatis bagi bagindanya.


Perth langsung berdiri, melambai pada Mean yang berjalan bak raja yang disambut oleh ajudan setianya: Mark.


Ketika Mean sampai di meja kami, ia menarik tempat duduk di sampingku dengan kasar. Wajahnya yang biasa dipenuhi cengiran khas yang menyebalkan, berubah kusut, jutek, seolah sedang mendapatkan masa periodenya. Ini adalah hal langka bagiku. Hingga aku mengenalnya, Mean jarang sekali menunjukkan wajah kurang kerennya itu.

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now