SAVIOR

749 81 8

Happy reading
----------------------------

Laki-laki berparas tampan dan bermata abu-abu tengah duduk di kursi kebesarannya sambil mendengar sekretarisnya membacakan sebuah laporan untuknya. Raut arogan dan tatapan tajamnya ternyata selalu mampu membuat sekretaris di hadapannya dilanda kegugupan saat menyampaikan laporannya. Diam-diam Max Devon Adelard–sang atasan menikmati ekspresi gugup laki-laki yang sudah bekerja padanya setahun belakangan ini. Selama bekerja padanya, pekerjaan sekretarisnya ini belum pernah mengecewakan. Max sengaja tidak mempekerjakan wanita lagi sebagai sekretarisnya, karena ia malas melihat mantan-mantan sekretarisnya selalu berlomba mencari perhatiannya.

"Tony, letakkan saja laporan itu di atas mejaku. Aku akan mempelajarinya di rumah. Sekarang kembali ke mejamu dan lanjutkan pekerjaanmu," pinta Max sehingga Tony seketika mengatupkan bibirnya.

"Baik, Tuan." Tony langsung menuruti perintah atasannya.

"Jika ada pertemuan setelah jam makan siang, batalkan saja. Aku tidak akan ke kantor usai makan siang," ujar Max sambil memainkan pulpen yang dipegangnya.

"Akan saya laksanakan, Tuan. Saya permisi, Tuan." Setelah berpamitan, Tony membungkuk dan meninggalkan ruangan Max selaku pemilik Adelard Corporation.

Sepeninggal sekretarisnya, Max memasukkan laporan yang tadi di letakkan oleh Tony di mejanya. "Aku membutuhkan udara segar sekaligus ingin cuci mata," gumamnya dan ia langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di samping komputer.

***

Akhirnya Alana dan Lusiana bisa menghela napas lega setelah bersama-sama hampir seharian membersihkan kamar flat yang mereka sewa. Meski kamar tersebut tidak berubah menjadi mewah, setidaknya setelah dibersihkan ruangan itu terlihat lebih layak untuk ditempati. Alana berencana menggunakan uangnya sedikit untuk membeli vas bunga agar kamarnya terlihat lebih cantik. Untungnya selama dipekerjakan oleh Revayah, Alana tidak pernah menggunakan upahnya, apalagi ia dan Lusiana tinggal di rumah wanita itu. Saat kabur pun, yang paling diutamakan untuk dibawa adalah uangnya. Ia tidak mau mengulang insiden kaburnya dari penyekapan Mrs. Emily, yang saat itu mereka tidak membawa apa-apa.

"Alana, hari sudah mulai sore. Sebaiknya kita ke supermarket di depan sana membeli makanan siap saji untuk makan malam, sekaligus kebutuhan kamar mandi," ajak Lusiana setelah merengangkan otot-ototnya yang kaku setelah usai mengepel lantai. Perutnya juga mulai lapar karena saat makan siang tadi, ia dan Alana hanya memakan roti.

"Lusi, mulai hari ini kita tidak akan membeli makanan siap saji, melainkan bahan makanan. Aku sendiri yang akan memasak untukmu. Terlalu sering menyantap makanan siap saji tidak baik untuk kesehatanmu," Alana menanggapi ajakan Lusiana sambil tersenyum. Ia tidak mau kesehatan Lusiana memburuk karena keadaannya kini. Sebisa mungkin ia akan menjaga agar kesehatan Lusiana tetap stabil, salah satunya dengan cara gadis itu harus mengonsumsi makanan sehat.

Memahami maksud dan kekhawatiran Alana, Lusiana pun mengangguk. "Baiklah, nanti aku akan membantumu memasak," balasnya. "Kalau begitu sebaiknya kita ganti pakaian, agar tidak disangka gelandangan seperti dulu," sambungnya sembari menyengir.

Melihat Lusiana sudah melesat memasuki kamar mandi, Alana tersenyum miris mengingat pelariannya dulu dari penyekapan Mrs. Emily. "Sampai kapankah semua ini akan berakhir?" Alana membatin memikirkan nasibnya sendiri bersama Lusiana ke depan.

"Sekarang giliranmu mengganti pakaian, Alana." Teguran Lusiana menyadarkan Alana dari lamunannya. Ternyata Alana melamun kurang lebih lima menit.

Alana mengangguk. "Lusi, kamu terlihat cantik," pujinya saat melihat senyuman manis tersungging pada bibir Lusiana.

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!