SEPULUH

89 10 0

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Masih mau menunggu?" tanyaku.

"Itu tujuan gue ke luar rumah."

"Menanti senja?"

"Apa lagi?"

Ingatanku memutar balik pada hadirmu di luar sana. Dalam hujan yang menderas dan gigilmu di halaman Moscato. Aku memanggilmu untuk masuk karena abangku yang meminta. Tak kutanya sebab dan tujuanmu. Aku bahkan tak tahu kamu siapa dan apa yang sedang kamu lakukan di bawah derasnya hujan.

Kusajikan kopi dan obrolan, dan kamu menerimanya begitu saja. Kukira itu adalah syaratmu untuk beroleh tempat berteduh. Namun kamu tengah menunggu sesuatu yang lainnya. Kukira, kita adalah semesta yang diciptakan bersama. Bukan persinggahan sementara waktu.

"Jangan khawatir," ujarmu. "Gue nggak akan pergi."

"Kenapa?"

"Lo akan tahu nanti. Sekarang, lanjutkan cerita Hujan dan perempuan itu. Gue semakin menikmati." Kamu meminta dengan jujur. Aku tahu, kamu tidak sedang berpura-pura.

Satu atau dua tahun sepertinya.

Secepat itu waktu berlalu. Membiarkan luka mengering perlahan-lahan. Tanpa perlu obat, perempuan itu tak mencari obat untuk mengobati hatinya yang patah sejak sepeninggalan Hujan. Jika ada pepatah waktu akan menyembuhkan segalanya, maka seperti itulah yang dilakukan perempuan itu.

Proses melupakan juga telah membuat dirinya berubah. Ia bukan yang paling populer di sekolah. Namun teman-teman dalam lingkaran pertemanan bertambah. Di sekolah, ia cukup dikenal kini. Di luar sekolah, ia punya banyak orang yang mengenalnya. Jika ia pergi kemanapun sekarang, akan ada satu pertemanan baru yang dibuat.

Hari-harinya menjadi sibuk dari pagi hingga sore hari. Malah terkadang, perempuan itu pulang hingga lewat maghrib. Kedua orangtuanya tak mempersoalkan dengan satu syarat, sebelum pukul delapan malam, ia sudah harus tiba di rumah. Dan perempuan itu selalu bisa menyanggupi.

Dalam sebuah percakapan di meja makan. Mereka mengobrolkan banyak hal menarik yang terjadi di luar rumah. Ayahnya bertanya kemungkinan kampus yang akan dipilih oleh putrinya. SMA akan segera berakhir, dan menetapkan pilihan lebih awal akan lebih baik.

"Di daerah," jawab perempuan itu. Sesungguhnya ia belum memiliki tujuan pasti. Namun, ia menginginkan suasana baru, dan ingin lepas dari bayang-bayang kedua orangtuanya. Ia ingin menjadi seorang yang mandiri. Dan meninggalkan rumah, dirasa menjadi salah satu cara yang bisa ia lakukan untuk melatih dirinya.

"Kenapa harus di daerah?" Ibu yang bertanya kali ini.

"Ibu nggak mau aku tinggalin ya?" Perempuan itu menggoda ibunya. Sebab, belum pernah ia pergi jauh selama ini. Dan ibunya belum pernah ditinggalkan sejauh dan selama itu.

"Di sini kan ada banyak pilihan bagus." Ibunya mencari alasan yang paling mudah diterima. Namun putrinya punya alasan lebih dari sekadar kampus mana yang bagus dan jurusan terbaik yang ada di kampus itu.

"Aku mau belajar mandiri. Selama ini, aku selalu diurus Ayah dan Ibu. Semuanya dipenuhi, segala kebutuhanku dipermudah. Kalau aku nggak belajar dari sekarang, aku nggak akan jadi sosok yang kuat untuk diriku sendiri."

Ayahnya lebih diplomatis menanggapi keinginan si perempuan. Ia memberi putrinya kesempatan untuk mencari tahu lebih dahulu sebelum memutuskan. Agar ketika keputusan itu telah diambil nanti, itu memang merupakan pilihan yang terbaik.

Perempuan itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan sang ayah. Hari-hari menjelang masa akhir SMA, ia habiskan dengan mengunjungi banyak situs universitas dan menghadiri seminar-seminar pendidikan. Ia juga berdiskusi dan meminta pendapat dari banyak teman dan kenalan, meski pada akhirnya keputusan tetap berada di tangannya.

Banyak referensi, banyak pula yang harus disisihkan. Ia mencoba mempersempit pilihan dari apa yang paling disukainya. Pikirnya, akan lebih mudah menjalankan sesuatu jika ia menyukainya. Lalu alternative kedua dipilih berdasarkan kredibilitas kampus dan alumnusnya. Sampai perempuan itu hanya menyisakan beberapa pilihan saja. Beberapa yang paling ia yakini.

Cara yang perempuan membuat pilihan terbilang cukup unik. Ia menempelkan sehelai kartonn putih di dinding. Menuliskan semua kemungkinan yang akan ia ambil. Data-data tentang kampus yang ingin ia tuju juga dicetak dan ditempelkan di sana. Ia menyiapkan satu sisi khusus untuk pendapat dari kedua orangtuanya. Ia ingin saran mereka menjadi pertimbangan. Komentar Ayah dan Ibu ditulis ulang di sana, Tentu dengan gaya bahasa miliknya. Lalu ada pendapat dari teman-temannya di kolom lain, serta tulisan-tulisan dari dirinya sendiri.

Karton besar itu lebih mirip dengan investigasi kriminal seorang detektif ketimbang pencarian tempat pendidikan. Namun perempuan itu merasa sangat puas, karena dengan tiga pilhan terakhir. Ia sudah bisa menentukan akan ke mana ia nantinya.

Waktu makan malam menjelang. Perempuan itu tak sabar mengabari kedua orangtuanya. Namun langkahnya tak sadar demikian riang. Setelah mengambil air putih dalam gelas kaca dan meneguknya hingga tandas, ia lupa bahwa tujuannya adalah meja makan yang sudah diisi oleh kedua orangtunya. Perempuan itu malah membuka pintu belakang, dan berlari menuju dipan untuk memberi tahu salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya.

"Hujan, aku sudah tahu mau melanjutkan ke kampus mana," ujarnya riang.

Namun di hadapannya hanya ada dipan kayu yang kosong. Tak ada siapa-siapa, karena memang tak pernah ada lagi yang duduk di sana. Tak ada seorang lelaki yang duduk menunggu sahabatnya pulang sekolah. Juga tak ada perempuan yang membawakan camilan untuk mereka nikmati bersama.

Hatinya mencelos. Merasakan sesak tiba-tiba. Mengingat kembali sepi yang terjadi di awal-awal kepergian Hujan. Lalu ia memilih masuk meninggalkan halaman belakang itu dengan gurat wajah yang sendu.

Kedua orangtuanya saling pandang melihat apa yang dilakukan putrinya barusan. Mereka tahu, masih ada nama lelaki itu di hatinya.

"Kenapa kita tetap berkeras menunggu, padahal kita sudah tahu sesuatu itu tak pernah datang."

Entah itu pertanyaan atau pernyataan. Suaramu demikian datar ketika mengucapkannya, hingga aku merasa maknanya menjadi saru.

"Karena kita berharap ada keajaiban. Kita berharap, iman mampu mewujudkan sesuatu yang paling mustahil untuk terjadi." Kamu menjelaskan maksud kalimatmu tadi. Mungkin itu memang pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sudah kamu miliki jawabannya. Atau bisa jadi itu sebuah pernyataan. Dan kamu menguatkan pernyataan itu dengan keyakinanmu.

"Karena itu lo menunggu senja?"

"Selalu..." jawabmu.

"Kalau gue bilang gue mencintai hujan?"

Kamu memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. "Menurut lo, apa yang membuat perempuan itu sampai melakukan hal tak masuk akal tadi? Yang kayak begitu biasanya cuma gue temuin di film."

"Justru cinta mampu membuat seseorang bertindak untuk sesuatu yang jauh lebih tak masuk akal dibanding yang ada di film."

"Lo mencoba menawar kesedihan lo pada diri perempuan itu demi memuluskan patah hati lo sama hujan."

"Apapun itu."

"Jangan menularkan luka ke orang lain, karena..."

"Karena apa?"

"Karena luka lo nggak akan pernah sembuh dengan cara begitu. Berbagi kesedihan nggak membuat lo menjadi bahagia. Lo harus belajar untuk menerimanya, dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."

Senja akan turun sebentar lagi. Kamu bilang, aku akan tahu kenapa kamu menunggunya. Apakah karena keajaiban itu?

Entah.

* * *

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!