KU BAGI CINTAKU DENGANNYA [FINA]

21 4 2

Terkadang aku rindu kepada orang yang tak lagi harus ku rindukan, terkadang aku berpikir bagaimana jika suatu saat ada yang bisa membuatku merubah bahkan membuatku bisa melupakan rasa rindu ini kepadamu. Haruskah aku berpaling? Ataukah aku harus tetap bertahan pada perasaan seperti ini? Jujur ku katakan bahwa saat ini hatiku merasakan perasaan yang disebut cinta.

Semenjak beberapa tragedi yang ku lewati belakangan ini, hatiku berkata ada sesuatu yang sulit untuk ku bahasakan. Aku merasa jika perlahan rasa rinduku dan rasa sedihku mulai tergantikan dengan keceriaan yang diberikan oleh Firman dan Nana. Bahkan aku terkadang menganggap jika aku bagian dari keluarga mereka dan mereka pun menganggapku bukan orang lain lagi. Sesekali aku merasakan getaran di hati ketika berdua bersama Firman dan aku terkadang merasa sangat menyayangi Nana bahkan aku merindukannya disaat aku tak bertemu dengannya.

Setelah hari itu, setelah ulangtahun Nana, aku mulai lagi bisa merasakan bahasa cinta. Hari itu aku tertidur di kamar Nana, disaat aku terbangun dan membuka mata, aku melihat seorang anak kecil menatapku tersenyum tepat di hadapan wajahku. Kami saling berhadapan, sesaat aku mulai tersadar jika anak itu adalah Nana. Entah mengapa aku merasakan jika aku telah mempunyai anak. Kami pun saling berpelukan. Rasanya beda saat berpelukan dengan seorang anak. Dalam hati aku berkata, jika seandainya bisa aku ingin menjadi ibu dari anak ini. Namun disaat yang sama aku berpikir bahwa untuk menjadi ibunya berarti aku harus menjadi istri dari Firman. Di satu sisi sebenarnya aku mulai menyukainya namun di satu sisi aku merasa sangat takut membuat Raihan kecewa. Apakah ada cara untukku agar bisa mencinta lagi tanpa menyakiti perasaan yang lainnya? Aku pun merasa jika Hanifa juga pasti kecewa begitupun dengan Firman, kami mempunyai perasaan yang sama.

Kami terjebak dalam kenangan perasaan. Aku tau dan dia juga tau, ada suatu perasaan yang terlihat namun tak terbahasakan. Ada kenangan yang tersimpan namun hati ingin terbebas. Haruskah ku bagi cintaku dengannya?

Setelah kami terbangun dan bercerita, Firman datang dan ikut bergabung dengan kami. Di dalam satu kamar kami bercanda di atas tempat tidur yang tidak begitu besar. Layaknya seorang keluarga yang lengkap aku merasakan kehangatan dan keceriaan. Tak pernah kurasakan hal seperti ini semenjak aku kehilangan Raihan. Sesekali aku menatap Firman yang juga begitu bahagia, tak jarang pandangan kami saling bertatap dan saling membalas senyum. Lagi-lagi hatiku merasakan perasaan ini, perasaan yang membuatku selalu ingin tersenyum.

Andai aku bisa bertemu dengan Raihan ingin ku katakan aku tetap mencintainya dan aku juga ingin mengetahui dan mendengar apa yang ia rasakan. Apakah kamu ikhlas jika aku membagi cintaku dengannya? Apakah kamu akan tetap mencintaiku seperti dulu? Aku ingin sekali saja bertemu dan mendengat ucapan suara dari mulutmu.

Di hari yang sama, malam itu mereka mengantarku pulang ke rumah. Aku, Firman dan Nana menuju ke rumah. Di tengah perjalanan Nana tertidur, seketika pembahasan terhenti. Kami terdiam seolah tak ada pembahasan lagi. Hingga akhirnya Firman mengajakku bercerita. Ia bercerita tentang masa-masa ia sendiri mengurus rumah dan anaknya. Aku sangat terfokus untuk mendengarkan sambil ku bayangkan diriku ada di dalam ceritanya. Saat itu Firman berbalik menatapku yang begitu terpaku menatapnya. Aku salah tingkah dibuatnya. Firman hanya tersenyum seolah mengerti apa yang terjadi padaku saat ini.

Tak lama kemudian kami sampai di rumahku. Nana terbangun karena ingin buang air kecil. Maka dengan cepat ku antar dia masuk ke rumah menuju wc yang berada di sebelah kamarku. Ayah dan Ibuku melihat kami berlari menuju wc. Ayahku menuju keluar rumah untuk memanggil Firman masuk ke rumah. Merekapun berada di ruang tamu sembari bercerita tentang pekerjaan.

Aku menuju ke dapur bersama Ibu untuk membuat minuman. Saat itu Nana ikut bersamaku. Di dalam dapur Ibu tersenyum melihatku yang kembali bisa bercanda. Kata Ibu ini pertama kalinya aku membawa tamu datang ke rumah. Ibu berbisik padaku katanya aku harus jaga jarak dengan orang yang sudah punya istri. Ibu takut jika aku disebut pelakor. Tapi Ibu begitu tersentuh ketika Nana berkata jika dia tidak punya Ibu seperti aku, katanya ia sangat ingin belajar memasak berdua dengan ibunya di dapur. Seketika Ibuku saat itu memeluk dan menggendong Nana sambil memasak air panas. Melihat mereka membuatku juga ikut terharu.

Setelah semua siap, di ruang tamu kami berkumpul. Nana masih dalam pelukan Ibuku, mereka duduk bersama, Ibu memangku Nana. Disitu kami begitu akrab, ditambah lagi dengan Nana yang cerewet membuat kami semakin ceria.

Di tengah tawa tiba-tiba ayah bertanya kepada Firman tentang rencananya untuk menikah lagi. Saat itu aku merasa malu, kenapa Ayah bertanya seperti itu dengan orang yang baru ia kenal? Namun Firman menjawab dengan tenang dan sedikit bercanda. Suasana di ruang tamu seketika hening. Firman menjawab bahwa awalnya ia berpikir tak akan pernah ingin menikah lagi namun katanya ia akan menikah jika Nana telah membutuhkan seorang Ibu yang bisa mengerti dan sayang dengan Ayahnya, dan kami kembali tertawa.

Disaat tawa kami usai Nana yang berada di pangkuan Ibuku berkata kepada Ayahnya jika ia ingin Ibu yang selalu ada disaat ia berada di rumah dan alangkah terkejutnya aku disaat Nana tersenyum menunjuk ke arahku sambil berkata "Aku ingin Kakak Fina seperti Ibu." Aku sangat merasa malu namun juga merasa senang tapi kenapa Nana ingin aku seperti Ibunya? Apakah dia pernah bertemu dengan Ibunya? Ataukah itu hanya ucapan dari seorang anak kecil yang belum mengetahui susunan kata.

Malam itu Ayahku banyak mengeluarkan kata bijak dan petuah-petuahnya, jika Ibu kebanyakan cerita tentang masa kecilku yang katanya mirip dengan Nana yang cerewet dan banyak tanya. Firman terlihat sangat senang begitupula dengan Nana. Namun malam begitu singkat, membuat Nana mengantuk dan harus pulang. Ayahku bercanda kepada Firman katanya kenapa aku tidak ikut saja sama Nana, ditambah dengan Ibu yang mengajak Nana untuk menginap bersamaku di rumah. Jujur saja aku malu tapi aku anggap ini hanya candaan mereka saja.

Merekapun pulang dan kami kembali masuk ke dalam rumah. Masih terbayang di ingatanku perkataan Nana yang membuatku tersenyum hingga Ibu menegur katanya tidak baik senyum-senyum sendiri di dalam rumah. Malam yang singkat namun berhasil membuatku tersipu malu.

Ayah dan Ibuku yang duduk di kursi memberiku beberapa nasehat. Inti dari nasehat mereka adalah pernikahan. Aku hanya bisa tersenyum sambil membayangkan semuanya.

Apakah dengan menikah bisa membuatku bahagia? Apakah harus ku bagi cintaku? Sangat tak mungkin kenangan bersama Raihan bisa ku hilangkan begitu saja. Ku ucap doaku ini padaMu, pertemukanlah aku dengan Raihan walau hanya dalam mimpi dan pertemukanlah aku dengan Firman jika ia memang jodohku.

1 Kisah 4 Cinta 2 DuniaBaca cerita ini secara GRATIS!