DELAPAN

51 7 0

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Sudah berapa lama kah kita duduk di sini?

Aku menoleh pada jam besar yang berada di salah satu sudut Moscato. Jam analog dengan lingkar bingkai hitam, serta lempengan logam yang digunakan sebagai pengganti angka. Kesan klasik ditampilkan di sana. Seolah ingin memberi tahu siapapun juga, bahwa waktu adalah usang. Tak ada yang bisa memperbarui waktu. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengisi yang ada saat ini dengan cara sebaik-baiknya.

Kucari perpisahan itu dari kedua bola matamu. Sebab hanya itu yang mampu kulakukan. Dan entah sudah berapa kali juga kulakukan itu sepanjang kita duduk berdua di sini. Abangku pernah berkata, bahwa mata tak bisa menyembunyikan kebenaran sesungguhnya. Namun yang kutemukan, bukanlah perpisahan yang kamu katakan. Melainkan rindu. Rindu yang entah sudah tergenapi ataukah belum.

Hanya kamu yang tahu...

"Apa kita bisa bertukar peran?" tanyaku. "Kalo lo nggak keberatan itu juga." Aku menawarkan, mana tahu kamu ingin bercerita soal perpisahan itu. Sejak tadi kamu hanya menjadi pendengar? Mungkin dengan bercerita, kamu akan merasa lebih baik. Dan bukankah itu tujuan kita duduk di sini? Bukan obrolan namanya kalau hanya dilakukan satu arah.

"Kesedihan kan nggak selalu untuk diceritakan," jawabmu. Aku merasa kamu sok kuat. Atau malah kamu sedang meledekku kini?

"Bercerita membuat beban di pundak lo lebih ringan."

"Maybe it works to you."

"Memangnya lo udah nyoba? Memangnya ada cara lain?"

Kamu mengedikkan bahu sebagai jawaban. Udara dingin mulai menguap seiring hujan lebat yang berganti menjadi gerimis. Tak lama lagi, mungkin hujan akan berhenti sepenuhnya.

Kamu memain-mainkan bibir cangkir kembali. Kita semua punya cara untuk mundur dari semesta pembicaraan. Mungkin itu caramu. Ketika kamu tak punya ide lain untuk memperpanjang waktu. Atau mengisi bagian kosong dari percakapan ini. Maka kamu akan melakukannya.

"Hujannya udah mau berhenti." Kamu bicara kemudian.

"Kalo udah nggak hujan, lo mau pergi?" tanyaku, spontan. Tiba-tiba membayangkan meja ini kembali kosong. Menyisakan aku dan buku catatan ini saja.

Aku takut akan perpisahan itu lagi.

Lalu jika nanti kamu pergi dan aku mesti kembali ke balik meja barista bersama abangku. Aku hanya bisa memandangi pemandangan di luar Moscato. Sambil sesekali kutuliskan kalimat-kalimat ini, untuk melanjutkan cerita tentang Hujan dan si perempuan yang belum selesai.

Semestinya, itu adalah aktivitas biasa yang mampu kulakukan untuk membunuh waktu. Semestinya, aku tak perlu merasa bosan sebab telah kulewati hari-hari yang panjang hanya dengan cara itu. Namun, mengapa sekarang aku lebih menginginkan untuk duduk dan berbagi waktu bersamamu? Seandainya itu adalah pilihan yang bisa kubuat.

"Bukan bercerita yang membuat beban lo berkurang. Tapi rasa percaya lo sama seseorang. Lo percaya, sehingga lo merasa nyaman untuk berbagi dengan orang yang tepat."

Begitu katamu. Dan kini, aku semakin ingin kamu tetap tinggal di sini.

Hari dimulai dengan warna yang tak menggairahkan.

Tak ada penantian kini. Tak ada harap untuk sebuah temu. Perempuan itu bangun pagi untuk sebuah rutinitas yang tak berarti. Sebuah sarapan dan sapaan selamat pagi dari orangtuanya hanyalah agenda wajib yang dilalui sebagai formalitas untuk memulai hari. Lalu berangkat ke sekolah, dan kembali dengan aktivitas di dipan kayu itu, atau kamarnya sendiri hingga malam menjelang.

Ibu dan ayahnya mengupayakan beberapa cara. Ibunya mengambil peran untuk lebih dekat dan terbuka padanya. Mengajaknya mengobrol banyak hal tentang sekolah dan dirinya. Juga meyakinkan kalau ia bisa menjadi teman curhat yang handal. Sang Ayah diam-diam menelusuri jagat media sosial untuk mencari keberadaan Hujan. Mengirimi pesan kepada Hujan agar tak menghentikan kebersamaan mereka walau terpisah ruang dan jarak kini.

Namun keberadaan menjadi tak berarti jika hanya sekadar temu lewat pesan percakapan ataupun wajah yang dilihat dalam layar ponsel. Hujan tak mengingkari sepenuhnya. Ia hadirkan pertemuan kembali meski hanya sua dalam telepon. Obrolan yang lebih sering diisi dengan keheningan karena perempuan itu memilih diam dan Hujan nyaris kehabisan usaha untuk menghiburnya.

"Kok diam aja?" tanya Hujan suatu kali.

"Kapan lo main ke sini?" Perempuan itu malah balik bertanya. Dan Hujan yang terdiam kali ini, tak punya jawaban.

"Gue bosan kita cuma bisa ngobrol di telepon atau chatting. Kalo gue ada masalah di sekolah, gue nggak bisa langsung cerita sama lo."

"Kalo gue di situ juga kan lo harus nunggu pulang ke rumah dulu baru ketemu gue."

"Tapi kan beda ngobrol langsung sama chatting."

Hujan kembali diam tak menanggapi. Perempuan itu kembali menunggu. Detik-detik seperti ini adalah hal yang paling tak disukai perempuan itu. Jika mereka duduk bersama di halaman belakang rumah, ketika hening datang di antara mereka, perempuan itu tak merasa sepi seperti yang ia rasakan saat ini. Sebab ia tahu keberadaan dan ketiadaan tak bisa disiasati dengan cara seperti ini.

"Gue kangen tahu." Perempuan itu melanjutkan. "Dan kalo chatting atau ngobrol sama lo. Kangen gue nggak sembuh. Malah tambah kangen."

Hujan memahami. Ia sangat memahami. Namun mewujudkan keinginan perempuan itu tidak sesederhana janji temu. Ada prioritas yang mesti diutamakan, ada tanggung jawab yang mesti diselesaikan. Percakapan malam itu diakhiri segera. Perempuan itu memilih untuk tidak melanjutkan obrolan, alih-alih perasaan ini tak bisa tertanggulangi.

Sebab, ia tak mau terjaga sepanjang malam hanya untuk menginginkan sesuatu yang tak pasti.

"Yang tidak pasti dalam hidup adalah kepastian itu sendiri."

Hanya komentarmu yang pasti kudapati, selepas cerita dalam jeda obrolan kita. Tak ada lagi yang lain. Bahkan langit tak bisa menjamin apa yang akan kita dapati saat keluar dari pintu ruangan ini nanti. Apakah hujan ataukah terik? Mendung ataukah panas tak berkesudahan.

Gerimis perlahan mulai berhenti. Hanya tempias air yang jatuh dari atap dan daun-daun di ranting pohon. Keberadaanmu di sini juga tak pasti. Kamu tak berniat untuk singgah. Aku yang mengundangmu. Aku yang mengajakmu masuk dan duduk di sini, dan kebersamaan kita hanyalah cara untuk mengisi waktu yang kosong; waktuku di balik meja barista, dan waktumu untuk duduk sendirian. Kita hanyalah sebuah kebetulan yang dipertemukan.

Namun seperti yang kubilang. Bagaimana jika kuinginkan keberadaanmu? Sedikit lebih lama lagi di sini. Sejenak waktu untuk merepih kenangan yang terserak, dan kucoba satukan menjadi kolase cerita.

Aku kini merasakan hal yang sama seperti perempuan itu. Menanti yang tak pasti, sebab hujan di luar sudah pergi.

"Kok diam aja?" tanyamu. Seperti tanya Hujan kepada perempuan itu.

"Merasa tak pasti," jawabku.

"Tentang?"

"Apa yang kita alami saat ini."

* * *

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!