☕ b a n g i n h o

35 16 3

.
.

[  Minho seperti Kopi, dia tetap kucintai tanpa perlu menyembunyikan pahitnya diri  ]

.
.

➳  Pertemuan mereka dimulai disebuah cafe.

Saat itu, Lee Minho sedang duduk dimeja dekat jendela. Dengan secangkir Espresso yang sudah mendingin, ia menatap kosong keluar jendela. Ia baru saja dicampakkan oleh seseorang yang selalu ia inginkan tanpa alasan.

Berbagai pertanyaan berkecamuk diotaknya. 'Kenapa aku ditinggalkan? Apa salahku? Kapan aku melakukannya?'

"Maaf, aku duduk disini, gapapa?" Suara berat itu menyadarkannya, ia menoleh dan mendapati seorang lelaki pirang berdiri disamping mejanya.

"Silahkan." jawab Minho pendek.

Lelaki itu mendudukkan diri didepan Minho dengan canggung. Lalu meminum Espresso Icenya dengan pelan. Sementara Minho sudah kembali kedalam lamunannya.

Lelaki itu menepuk tangan Minho yang berada diatas meja pelan, menyadarkannya lagi, "Aku Bangchan, kamu?"

Memaksakan sebuah senyum, Minho membalas "Ah, aku Lee Minho. Salam kenal."

Semuanya dimulai sejak saat itu. Mereka mengobrol ringan disana, sebelum pulang dengan saling menyimpan nomor masing-masing.

.
.


➳  Mereka mempunyai janji untuk kembali bertemu dicafe yang sama. Dimeja yang sama. Bangchan mengajukan sebuah pertanyaan, "Waktu itu kamu kenapa, Minho?"

Minho menegang dan Bangchan melihatnya, "Kalau gamau cerita gapapa, kok. Kali aja aku bisa bantu."

Manik Minho berpendar, dengan gugup ia berkata, "Aku waktu itu diputusin. Aku gatau sebabnya apa, tiba-tiba aku ditinggalin gitu aja."

Minho menerawang saat ia diputuskan Lee Juyeon tanpa alasan. Juyeon meninggalkannya sebatang kara. Ia merasa bahagianya hilang dan hatinya patah. "Aku jadi gak percaya sama cinta apalagi bahagia." ungkapnya pelan.

Hening menyelimuti. Bangchan tidak tahu harus membalas apa. Karna ia juga sedang merasakan hal serupa. Itu, cukup dirinya saja yang tahu.

Mereka berdua sedang merasakan hal yang tak jauh berbeda. Dan Bangchan merasa mereka mempunyai hal yang sama. Hal yang ia percaya sebagai sesuatu yang bisa menyatukan mereka. "Minho, jadi pacarku mau?" Bangchan menawarkan sebuah perasaan. Minho menerimanya.

Mereka menjalin sebuah hubungan. Mereka saling mencari kebahagiaan yang hilang. Saling menghidupkan rasa bahagia. Saling menghadirkan rindu. Hingga akhirnya, Minho mulai nyaman lagi, Minho mulai percaya lagi. Ia hanya perlu menunggu, menyakini semuanya akan pulih lagi.

.
.

➳  Siang itu, saat mereka berada di unit Bangchan, Minho bertanya dengan gusar, "Mantanku mau nikah, aku harus gimana?" sembari memperlihatkan undangan ditangannya pada Kekasihnya.

Bangchan meraih jemari Minho, lalu menariknya agar lelaki itu duduk disampingnya. "Yaudah kita dateng berdua. Emang kamu kira harus gimana lagi?" kata Bangchan.

Alih-alih menyetujui, Minho memeluk Bangchan lalu menangis tiba-tiba. Dan yang lebih tua merasa, bahwa selama ini Minho pura-pura bahagia dengannya. Bahwa selama ini Minho tidak benar-benar bahagia dengannya.

"Ternyata aku ditinggalin karna dia milih sama yang lain." Minho berkata setelah hening beberapa menit, "Aku udah gak cinta lagi sama dia. Aku cuma- kaget." lanjutnya.

Bangchan bergeming dan Minho mempererat pelukannya dipunggung sang kekasih lalu berbisik, "Kamu tau? Kebahagiaanku yang dulu sempat hilang kini ada lagi karna orang baru. Seseorang yang kupercaya itu, kamu."

Dengan itu, Bangchan melingkarkan tangannya dipinggang Minho. Balas memeluk Minho tak kalah erat.

Hari-hari mereka berjalan dengan hal yang membuat mereka seolah hilang ingatan. Rasa pedih mereka memudar bersama kebersamaan. Mereka percaya bahwa semua akan baik-baik saja, dan tidak perlu takut lagi. Dua orang yang dulu sedih kini bahagia kembali.

 Dua orang yang dulu sedih kini bahagia kembali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada saran dan kritik?

Ini fail sekali, maaf.

Aku, Kamu dan Kopi •chanBaca cerita ini secara GRATIS!