TUJUH

53 6 0

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ia membuka mata esok paginya. Berharap apa yang ia takutkan tak akan terjadi.

Entah apa yang telah dipikirkan perempuan itu hingga ia membayangkan sebuah perpisahan. Hujan tak pernah menyatakan akan pergi. Namun ia juga tak pernah menjanjikan keberadaan selamanya.

Perempuan itu tersenyum mendapati Hujan duduk di dipan dengan secangkir teh hangat dan beberapa potong pisang goreng. Ia menyapa dengan sapaan selamat siang, lalu menyesap teh hangat itu perlahan-lahan. Seolah pagi sudah terlewat, dan perempuan itu bangun terlalu siang. Hujan menepuk-nepuk satu sisi dipan, meminta perempuan itu ikut bergabung.

"Gue kira lo udah nggak ada," ujar perempuan itu, mengungkapkan kekhawatiran yang menyelimutinya semalaman.

"Lho, emang gue mau ke mana?"

Perempuan itu mengedikkan bahunya. Itu hanyalah sebuah praduga. Namun Hujan juga tak menolak kekhawatiran itu. Ia bertanya, sekiranya ia pergi, apa yang akan perempuan itu ingat selalu?

"Nggak ada," jawab perempuan itu, ketus.

"Kenapa nggak ada?"

"Karena lo nggak boleh pergi. Kalo lo pergi, gue sama siapa?"

"Kan gue nggak bakal pergi dalam waktu dekat."

"Berarti beneran lo mau pergi?"

Kali ini tatapan perempuan itu berubah menjadi amat serius. Ia menuntut kepastian. Ia ingin jawaban dari Hujan untuk pertanyaannya itu.

"Everybody has their own way. Live has its own way too. Kalo besok jalan kita bersimpangan, kita nggak bisa menyalahkan keadaan, kan?"

"Tapi gue maunya sama-sama terus."

"Kita udah cukup lama bareng-bareng. Dari kecil sampai sekarang. Dan selama ini dalam lingkaran kehidupan lo cuma ada lo, keluarga lo, dan gue. Lo bahkan nggak punya banyak teman di sekolah."

"Tapi lo sendiri yang bilang kalo kita punya pilihan untuk diri kita sendiri. Kalo gue nggak mau berteman sama mereka, itu karena gue memilih begitu."

Hujan tak menyahut lagi sederet kalimat yang diucapkan perempuan itu. Sebab ia tahu, apapun yang akan dikatakannya, tak mengubah pendirian dan keinginan perempuan itu. Kalau ia selalu ingin bersama. Kalau ia butuh kebersamaan dengannya.

Sampailah aku pada detik di mana aku mesti mengambil napas dalam-dalam dan kamu memerhatikanku sedemikian rupa. Kamu bertanya, adakah sebab lain yang mesti membuatku demikian selain cerita yang kubaca?

"Apa bedanya antara ada dan nggak?"

"Kalo ada, siapa tahu gue bisa bantu. Kalo nggak ada, ya berarti gue nggak bisa bantu."

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!