Pasal 2: Gebetan Lama Bersemi Kembali

484 81 8

Mundur sejenak pada masa orientasi menjadi mahasiswa baru. Aku ingin menceritakan sejarah bagaimana saat ini, di tahun ketiga masa perkuliahan, aku bahkan sudah menjadi salah satu sahabat terbaik Mean. Kenyataan bisa jadi sangat konyol, kawan-kawan. Sebut saja ini adalah kesialan seumur hidupku saat 3 tahun yang lalu. Satu kelompok dengan Mean saat masa orientasi mahasiswa baru adalah perjuangan antara keberhasilan dan kegagalan soal melupakan gebetan. Ditambah Mean seolah-olah mengingat wujudku sebagai orang yang satu sekolah menengah dengannya.


Aku menunduk terus-terusan, coba mangkir dari segala pekerjaan kelompok kami dengan berbagai alasan bahkan paling tidak masuk akal seperti terkena diare dan mimisan bersamaan, mundur sejauh mungkin dari jangkauan si Tuan Mean yang terhormat. Aku yakin bahwa masa naksirku dengannya telah berakhir sejak hari kelulusan SMA. Tapi nyatanya, saat Mean maju untuk melakukan orasi, pesona sejuta watt-nya langsung menghajar usahaku untuk melupakannya. Bukannya makin pudar, perasaanku padanya makin menguat. Kurang ajar benar dia, 'kan? Hatiku yang seharusnya disalahkan. Mean tidak tahu apa-apa soal ini, 'kan?


Lagi-lagi dunia menentangku.


Saat ini, tahun ketiga yang berat karena setumpuk tugas kampus semakin gila, aku berbaring sambil lihat langit-langit kamar. Posisi seperti ini membuatku jadi ingat Mean si manusia dengan pesona sejuta watt lagi dan lagi. Saat imajinasi liarku membayangkan bisa kencan dengan Mean, tiba-tiba saja bunyi ponsel membuyarkan adegan di mana Mean sedang menggenggam tanganku. Sial! Dengan malas, aku meraih ponsel yang berkedip-kedip di ujung tempat tidur. Beberapa umpatan lolos lalu berubah jadi tatapan kejut tak terhindarkan.


Panggilan video dari kesayangan.


Butuh waktu untuk meredakan hatiku yang tiba-tiba saja berdetak tak keruan. Berkali-kali kuredakan tenggorokan, memastikan bahwa aku tidak akan terlihat bodoh dan tetiba mengidap gagap akut saat berbicara dengannya.


"Kenapa lama banget, Monyet!"


Ya, perkenalkan si brengsek Mean.


Aku hanya memutar mata dengan panggilan kesayangannya untukku. Mean bilang bahwa Monyet cocok untukku karena tingkahku yang kadang di luar kendali. Itu gara-gara Mean. Khayalanku terkadang tidak hanya berlarian dalam kepala saja. Sering aku tidak sadar bergerak secara tiba-tiba saat membayangkan Mean.


"Barusan selesai ee'," jawabku sekenanya.


"Jijik."


"Kamu baru selesai praktikum sama ee'ku terus bilang jijik? Dasar dokter cabul!" sambarku cepat. Kapan Mean bisa menghasilkan kalimat manis dan lembut untukku? Dalam mimpi!


"Besok aku minta semenmu, ya. Buat praktikum reproduksi."


"Hah? Semen? Emang kamu kira aku koko-koko yang punya toko bangunan?"


Kulihat Mean di sana menatap setengah jengkel. "Itu semen tembok, Nyet! Pejun! Pejun, paham?"


"Brengsek kamu! No way!" tolakku mentah-mentah.


Mean memandangku. Uh, aku benci mengakui pandangannya yang membuatku jadi tidak nyaman. "Daripada spermamu dikeluarin percuma, mending buat pendidikan," Mean beralasan, "mencerdaskan calon-calon dokter bakal dapat pahala besar."


"Kenapa enggak pakai punyamu aja? Jangan-jangan juniormu udah enggak bisa keluar?" ejekku berusaha mati-matian menahan tawa.


"Aku takut kalau ada yang pakai spermaku buat ena-ena. Kalau jadi anak kan repot."


"Banyak omong kamu," kataku sewot, "permintaanmu aneh-aneh. Pertama liur, terus ee', sekarang semen. Kan kampret!"


"Ayolah, Plan. Demi teman tampanmu ini."


"Kenapa enggak yang lain, sih?"


Mean mulai dengan wajah manjanya yang sok-sokan mampu meruntuhkan penolakanku. Dia selalu berhasil. Aku ingin menangis rasanya. "Ayolah, Plan sayang."


"Jijik, Mean."


"Sayang Plan."


Stop. Aku tidak sanggup. Kualihkan tatapanku sejenak. Menghindari layar ponsel, takut Mean akan menangkap basah wajahku yang memerah. Aku tahu Mean adalah pria flamboyan paling brengsek yang berusaha keras ingin kulupakan. Kupikir akan berhasil dengan teknik-teknik yang sudah disusun dengan susah payah. Nyatanya, Mean yang lama telah kembali, memenuhi sekali lagi hati dan pikiranku. Istilah gebetan lama bersemi kembali cocok untukku.


"Jangan sampai bocor darimana kamu dapet pejun ya, awas kamu. Aku jadiin geprek burungmu nanti."


"Monyet, bisa ancamannya halus? Ngeri tau!"


"Diem dih. Udah ya." Tanpa menunggu balasan darinya, kututup sambungannya.


Menenangkan detak jantungmu yang tidak stabil karenagebetan bilang sayang itu tidak mudah! Mean itu tega! Mean is mean and I hate this so much! Aku sadar Mean hanya bercanda.Tapi aku dalam mode mencintainya hingga nyaris gila. Jadi, meski Mean hanyabercanda saat bilang sayang Plan, bagiku itu cukup membuat terjaga semalaman.


Note:

Hai, kalua humornya rendah, maaf ya. Enggak bakat bikin cerita beginian. Yang mau rikues cerita MeanPlan, boleh lho. Tinggal bagi ide ceritanya aja. Saya berharap archieve MeanPlan banyak di wattpad. See you next chapter.

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now