Part 6

972 173 13

"Hallo.."

"Ya? Siapa ini?"

"Aku, Lucas."

"Oh," tangan Angelica menutup mulut saking terkejutnya. "Bagaimana kau tahu nomorku?" tanyanya berbisik. Pandangan Angelica tertuju pada Lory yang sibuk dengan ponselnya. 

"Aku menyimpan satu kartu namamu." Lucas mengambilnya tanpa izin Angelica.

Angelica mengeluh, dirinya memang bodoh. Ia menjauh dari Lory. Mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Ia takut asistennya akan bertanya siapa yang meneleponnya dan juga menguping. Angelica tidak menyebutkan nama si penelepon sedari tadi. "Apa kau menanyakan jasmu?"

"Ya, kau benar," ucap Lucas dengan tenang.

"Jasmu ada di apartemenku," sesekali melihat Lory yang di dalam restoran lewat kaca restoran. "Aku akan menyuruh kurir untuk mengantarnya."

"Aku akan ke apartemenmu. Atau aku akan menemuimu di butik." Lucas sampai tahu alamat butiknya. Sontak kepalanya berdenyut nyeri.

"Jangan!" ia tidak  ingin terlibat masalah lagi dengan pria itu. Lucas telah menikah cincin di jemari itu yang menganggunya. Angelica sampai mencari di Google identitas Lucas Reiner, sayangnya tidak ada informasi satupun. Hanya perusahaan dan beberapa penghargaan yang di dapatnya. Angelica takut masuk perangkap pria beristri itu. Cukup dua kali ia melakukan kebodohan. Dirinya tidak mau menemui Lucas lagi, itu berbahaya. "Aku akan pergi."

"Kemana?"

"Ke rumah ibuku di Maryland beberapa hari. Jadi aku akan mengirimkan jasmu dengan kurir."

"Apa terjadi masalah?" tanya Lucas terdengar cemas. Itu yang membuat Angelica gugup. Takut tercium kebohongannya.

"Ya.. Ada sesuatu. Tentang ibuku."

"Baiklah, biar orangku yang mengambilnya."

"Ya, lebih baik orangmu. Ada yang penting di dalam jas itu. Maaf, aku sudah memeriksanya."

"Tidak apa-apa, hanya dompet kartuku."

"Itu penting.." hampir menyebutkan namanya. Sedari tadi ia berhati-hati untuk tidak memanggilnya. "Besok suruh orangmu datang ke apartemen. Tunggu di lobby, aku akan menyerahkannya sebelum aku berangkat ke Maryland."

"Baiklah, aku harap ibumu baik-baik saja."

"Ya, aku juga berharap seperti itu." Dalam hatinya meminta maaf pada sang ibu karena telah berbohong memakai namanya. Mereka menutup sambungan telepon mereka. Angelica kembali masuk ke dalam restoran. Ia bersikap biasa saja.

"Siapa?" tanya Lory saat Angelica duduk.

"Yang pesan pakaian."

"Oh, aku kira pria yang sedang berkencan denganmu. Aku melihat kau seperti kebingungan."

"Kau ini!" ucap Angelica memelototinya.

"Apa James sedang sibuk? Biasanya kau mengajaknya makan malam bersama kita." Lory menyendokan salad ke mulutnya.

"Dia sedang sibuk," Angelica mulai memakan steaknya.   

Lory hanya mengangguk, "aku kira ada kemajuan hubunganmu dengannya."

"Lory.." tegur Angelica menatapnya.

"Aku tahu perasaanmu padanya, Angel. Jangan membohongi itu," lanjut Lory menambahkan.

Angelica menghela napas, "sepertinya aku tidak harus berharap banyak."

"James memang bodoh! Dia tidak tahu akan perasaanmu padanya!" umpat Lory marah.

Love Me (In Google Play Book)Baca cerita ini secara GRATIS!