Tetes Air 2: Perihal Kehilangan (Bagian 2/Tamat)

Mulai dari awal

Sejak mengetahui bahwa sekolah tak lagi mengirim delegasi OSN tahun ini, aku semakin tak bersemangat mengikuti briefing IES. Aku selalu menyalahkan program itu. Gara-gara IES, sekolah kami tak mengirimkan delegasi OSN tahun ini. Seleksi IES diadakan 3 hari mendatang. Semua peserta mempersiapkannya—kecuali aku. Sebaliknya, Aku semakin giat belajar matematika.

Saat seleksi, aku mencoba membuang rasa benciku terhadap program ini. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerjakan soal dengan ikhlas, tanpa beban dan yang terpenting tanpa rasa benci. Aku mendapatkan banyak teman baru hari itu. Oh ya, pengumuman seleksi diumumkan 2 minggu lagi. Hei, itu berarti satu hari setelah lomba matematikaku.

Setiap hari, kuisi hariku dengan belajar matematika bersama Kak Mona. Hingga tak terasa hari itu tiba juga. Hari dimana diadakannya lomba matematika. Kami berlima diantarkan Pak Yoyon. Lomba berdurasi 90 menit dengan 40 soal pilihan ganda. Pukul satu siang, kami kembali ke sekolah. Pengumumannya akan diumumkan keesokan harinya..

Keesokan harinya, pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat bel pergantian pelajaran, kepala sekolah masuk ke kelasku.

"Rey, Dinny. Ayo, ikut dengan Bapak." Suara beliau terdengar tegas. Aku dan Dinny hanya bertatap sebentar, sama-sama tak tahu mengapa kepala sekolah memanggil kami. Aku memutar otakku cepat. Mencoba mengingat-ingat pelanggaran yang mungkin tak sadar aku lakukan. Hasilnya nihil, aku tak berhasil mengingat apapun. Kami mengikuti beliau sampai ke ruangannya. Saat membuka pintu, ternyata 4 teman lain sudah lebih dahulu berada di ruangan ini. Aku semakin bingung.

"Kalian tahu, mengapa kalian Bapak kumpulkan disini?" Suaranya masih terdngar tegas.

Kami berenam serempak menggeleng. Kepala sekolah menatap kami satu persatu. Kami semakin tak berani menatapnya apalagi berbicara. Hanya menunduk dan diam.

"Selamat, kalian lolos seleksi IES tahap pertama." Kepala sekolah menyampaikan maksudnya.

Kami baru mengangkat kepala dan saling menatap. Bahagia. Telihat sekali dari wajah Dinny. Ia memang sangat tertarik dengan program ini. Tidak sepertiku. Seketika itu juga, aku teringat dengan lomba matematikaku. Hari ini juga pengumumannya. Saat aku tanyakan ke beliau, ia belum tahu. Setelah beliau memberikan nasehat kepada kami, kami diperbolehkannya kembali ke kelas.

Ucapan selamat berdatangan untuk kami berdua saat sampai di kelas. Keempat teman lainnya berbeda kelas dengan kami. Tak lama kemudian, Kak Mona datang ke kelasku. Ia memintaku keluar kelas untuk menemuinya. Kau tahu? Ia menyampaikan kabar bahagia untukku. Kali ini aku benar-benar bahagia mendengarnya. Aku mendapat peringkat ke 7 di lomba matematikaku. Itu berarti, aku akan mengikuti lomba di tingkat provinsi.

Beberapa hari kemudian, aku mengikuti lomba itu. Tapi aku tak berhasil lolos ke tingkat selanjutnya. Tak apalah, sampai tingkat provinsi itu sudah cukup hebat menurutku. Oh ya, aku tak tahu bagaimana kabar Rama dan kelas kimianya. Namun, sepertinya ia tak mendapatkan ganti untuk mengikuti lomba lain. Setiap aku melihat ke bangkunya, ia masih saja membuka buku kimia.

Berbeda dengan seleksi IES yang kuikuti. Setelah seleksi dan pengumuman, aku dan Dinny kembali lolos untuk mengikuti seleksi berikutnya. Seiring berjalannya waktu. Aku mulai menyukai program ini. Banyak teman baru yang aku dapatkan. Aku baru menyadarinya sekarang. Program ini keren.

Seminggu setelah pengumuman, kami kembali mengikuti seleksi. Kali ini penguman berjarak satu bulan dari seleksi. Cukup lama. Waktu yang cukup panjang untuk menambatkan harapanku pada IES. Ketika harapanku benar-kokoh dan tertambat di sana, pengumuman yang kutunggu mengabarkan bahwa aku kembali lolos untuk seleksi tingkat nasional. Tapi tidak untuk Dinny. Hanya aku. Aku yang tak pernah mengharapkan mengikuti program ini. Aku yang pernah menyalahkan program ini. Dan aku yang pernah membenci program ini. Mengapa harus aku yang terpilih?

Namun, memang itu yang aku harapkan sekarang. Senggang waktu yang lama itu membuatku merubah semua pandangan burukku terhadap program ini. Persiapanku menuju seleksi nasional tak mudah. Banyak waktu yang harus kukorbankan. Masih ada satu seleksi lagi, seleksi berkas. Dan aku kembali lolos dalam tahap ini. Hingga tersisa hanya 16 peserta dari 1.600 peserta pada saat awal seleksi. Kalian tak akan tahu bagaimana rasanya jika sudah sampai tahap ini. Mimpi itu seakan sudah di depan mata. Tapi tak mudah untuk meraihnya. Hingga pengumuman terakhir tiba. Aku dinyatakan tak lolos. Kalian tahu mengapa? Kesalahan besar yang aku lakukan. Aku melupakan kunci terbesarnya. Aku ceroboh, aku telah benar-benar menambatkan harapanku. Harapan itu terlanjur mekar tak berbilang. Aku tak memenuhi salah satu syarat program tersebut. Umur. Dan itu sudah kuketahui dari awal. Kupikir, aku tak akan sampai sejauh ini. Semakin aku lolos ke tahap yang lebih tinggi, aku berfikir umurku sudah tak menjadi masalah. Ternyata dugaanku salah. Jika sudah seperti ini, apa yang bisa kuperbuat?

Perihal kehilangan. Apakah aku benar-benar kehilangan? Tidak. Aku hanya terlalu fokus pada kekecewaan, hingga tak pedulikan hal lainnya. Dua mimpi terbesarku memang sudah tertambat di sana. Namun, biarkan saja. Mereka tak pernah hilang, mereka masih tetap tertambat di sana. Hanya saja, keadaan sedang tak memperbolehkanku mengunjungi mereka. Aku percaya, alam punya cerita terbaik yang telah dipersiapkannya untukku—dan untukmu.

============================

Percaya saja. Alam selalu punya rahasia-rahasia yang tak semua diketahui manusia. Mereka mematuhi Tuhan dengan segala skenario terbaik yang telah ditulisnya.

Jadi, jaga dengan baik mimpi-mimpimu. Barangkali, alam meng-amin-kan apa yang telah kau sebut setiap malam.

=============================

Mohon maaf, sudah lama tidak update. 

Berat sekali menulis cerita ini, hehe. Semoga kalian dapat mengambil yang baik dari kisah kali ini. Terima kasih sudah mampir :) Oh iya, jangan lupa vote dan komen. 

Sampai jumpa pada kisah tetes air hujan selanjutnya! Bye!

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Baca cerita ini secara GRATIS!