Tetes Air 2: Perihal Kehilangan (Bagian 2/Tamat)

40 1 0

Keesokan harinya, berita buruk kudengar dari Kak Mona. Ia mengabarkan bahwa tahun ini sekolah tidak mengirimkan siswanya untuk megikuti OSN. Kabar itu menjadi pukulan berat untukku—dan mereka yang menuliskan OSN sebagai salah satu mimpinya. Mimpiku pun sudah telanjur kutambatkan di sana. Tapi, semua gagal. Aku harus mengubur semua mimpiku.

Dan kau tahu? Apa yang menyebabkan sekolah tak mengikuti OSN tahun ini? Setelah aku telusuri dan bertanya kesana kemari, aku mendapatkan jawabannya. Semua staff kantor sedang sibuk mengurus IES, sehingga disepakati untuk tidak mengirimkan delegasi OSN tahun ini. Alasan itu terlalu sepele. Mengapa semua orang lebih mementingkan IES? Dan melupakan begitu saja urusan penting lainnya. Aku baru mengetahui jawaban mengapa Pak Yoyon tak mengadakan seleksi. Karena Pak Yoyon salah satu staff kantor dan pastilah ia mengetahui kabar ini lebih awal. Ia tak ingin membuat kami kecewa. Kecewa? Hei, aku baru mengingatnya. Pastilah Rama lebih kecewa dariku, ia sudah belajar sejak pengumuman kelolosan itu. Seandainya semuanya belum terlambat, ingin sekali aku menyampaikan kepada staff kantor Pak, tahukah anda? banyak yang anda kecewakan disini. Cukup itu.

Aku berjalan gontai. Sampai seseorang menepuk pundakku. Kak Mona. Setelah berbasa-basi sebentar. Ia memberikanku sobekan kertas. Terlihat lusuh. Sepertinya soal ulangan bekas. Aku menerimanya. Penasaran apa ini?. Orang tak akan menyangka jika ini kertas penting. Penting untukku, Kak Mona dan tiga orang lainnya. Kau mau tahu? Dugaanku benar. Itu sobekan soal ulangan. Tapi dibaliknya tertulis "OSN Matematika". Nama Kak Mona tertulis paling atas. Tiga nama setelahnya anak kelas 2. Aku mengenalnya. Karena satu kelas ekstrakulikuler denganku.

"Kau berhasil, Rey. Pak Yoyon tak perlu mengadakan seleksi untuk memilih delegasinya. Beliau lebih dari tahu kemampuan anak didiknya. nama kamu tertulis disitu bukan? Beliau percaya denganmu, Rey. Walaupun Kau masih kelas satu," Kak Mona mulai berbicara tepat ketika aku membaca namaku di kertas itu.

"Harusnya hari ini..." Aku bergumam lirih, air mataku luruh.

"Jangan menangis, Pak Yoyon tetap memberikan ganti kepada kita. Beliau mencarikan lomba lain. Walaupun tak se-bergengsi OSN. Persiapkan dirimu, lombanya akan diadakan tiga minggu lagi," Kak Mona menepuk-nepuk pundakku. Merangkulku. Isyarat matanya berbicara kepadaku buktikan di lomba ini, kau bisa, Rey. Aku hanya mengangguk pelan.

"Oh iya. Kau semingu lagi akan mengikuti seleksi IES di luar kota kan? Jangan kau lupakan. Itu juga sangat penting," Kak Mona mengingatkan hal yang sudah kulupakan.

"Huft, padahal aku sudah lupa dengan hal itu. Terimakasih, Kak." Kemudian, kami berpisah.

Aku berjalan menuju taman sekolah. Beruntung, ada satu bangku kosong. Aku duduk di bangku itu. Suasana sangat ramai. Namun, aku tetap merasa sepi. Aku berhasil? Tidak. Mimpiku selama ini hanya satu. Mengikuti OSN itu. Tapi, mereka menghancurkannya. Hanya gara-gara program bodoh itu. Aku senang, aku bisa membuktikan kata-kataku bahwa aku bisa mengikuti OSN walaupun masih kelas satu. Tapi, tak pernah ada OSN tahun ini. Aku gagal. Sebenarnya, ada alasan khusus mengapa aku sangat ingin menjadi delegasi OSN. Salah satunya karena Rama.

Akan aku ceritakan sedikit tentang masa laluku dengannya. Saat itu kami masih kelas 2 SMP. Bertemu ketika kami mengikuti OSN juga. Kala itu kami cukup akrab walaupun dari sekolah dan bidang yang berbeda. Sayangnya, hanya dia yang berhasil lolos ke tahap provinsi. Mulai saat itu, kami saling berjanji untuk bertemu lagi saat OSN SMA. Namun, kami juga tak menyangka ternyata masuk sekolah yang sama, bahkan satu kelas!

Aku tak cukup berani untuk mengajaknya berbicara, apalagi mengingatkan janji masa lalu itu. Mungkin, memang hanya aku yang mengingat janji itu. Sudahlah, kapan-kapan akan aku ceritakan lebih detail.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!