Tetes Air 2: Perihal Kehilangan (Bagian 1/2)

64 2 0

Hai, selamat pagi! Walau aku tak tahu kapan saat kau membaca tulisanku dan di belahan bumi mana. Aku hanya berdoa, semoga kau tidak sedang kehilangan sesuatu—kehilangan mimpimu misalnya. Jangan, kumohon. Jaga mimpi-mimpi itu dengan baik. Setidaknya, rawatlah mereka, agar kelak tak hanya berhenti sebatas angan. Hingga suatu hari, kau tak akan pernah berkata, "Andai saja waktu itu..." atau "Seharusnya saat itu..." dan yang sejenisnya.

Oke, kita kembali pada sebuah kehilangan. Kala itu, tepatnya beberapa tahun lalu, aku baru saja menikmati bagaimana rasanya memakai seragam putih abu-abu. Bukan hari pertama, sudah sekitar satu semester terhitung sejak pertama kali memakai seragam ini. Menyenangkan rasanya, seperti menonton kartun spongebob saat episode baru! Itu menurutku, aku yakin kau akan mempunyai pendapat yang berbeda. Oh tentu saja perasaan itu hanya berlangsung paling lama satu minggu, setelah itu terasa biasa saja. Iya aku tahu, setiap orang pasti memiliki pengalaman yang tak sama. Sampai sini, mengapa kau tak coba mengingat bagaimana perasaanmu kala itu? Atau kau lebih ingin tahu, bagaimana perasaan kehilangan versiku? Baiklah, kita mulai ceritanya.

"Kak Mona, sudah menunggu lama?" sapaan pertamaku untuk hari ini. Ialah Kak Mona, kakak kelas satu tingkat di atasku.

"Enggak Rey. Ngomong-ngomong apakah kau sudah belajar tadi malam?"

"Belajar apa?" Tanyaku dengan ekspresi kebingungan. Maklumi saja, aku memang tipe yang tidak akan belajar tanpa tujuan. Maksudku, aku hanya akan belajar jika ada tugas atau ulangan harian. Apalagi, Kak Mona adalah kakak kelas. Membuatku semakin bingung saja.

"Astaga! Kau lupa?" Kak Mona tak kalah dengan ekspresi terkejutnya.

"Bukannya aku lupa, aku tak tahu," jawabku datar.

"Bagaimana kau bisa tak tahu, hari ini adalah hari seleksi peserta OSN Rey!" Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi ekspresi gemas. Kau pasti tahu kan? Seberpa bergengsi OSN atau Olimpiade Sains Nasional itu?

"Benarkah? Kak Mona tahu dari mana? Padahal kemarin Pak Yoyon mengajar di kelasku, tapi beliau tak menginformasikan apapun," jawabku sekenanya. Pak Yoyon adalah guru matematika sekaligus guru kelas olimpiade.

"Aku tahu dari Maya."

"Kak Maya? Bukannya ia masuk kelas kimia?" Aku semakin bingung. Sebenarnya, aku sudah mendengar berita bahwa kelas kimia akan mengadakan seleksi. Namun, tidak untuk kelas matematika yang kuikuti. Ya, itu bukan pernyataan implikasi yang berupa 'jika kelas kimia melakukan seleksi maka kelas matematika melakukan seleksi'. Oke maaf, aku jadi sedikit membahas teori logika matematika yang aku yakin kau tak ingin mendengarnya lebih lanjut.

"Memang, hari ini kelasnya akan mengadakan seleksi. Jadi, kupikir kelas kita juga." Ckeckmate! Ternyata, Kak Mona berpikir seperti itu. Walaupun pernyataan impilkasi itu bisa saja benar-benar terjadi. Namun, tetap saja aku tak mengharapkannya. Ngomong-ngomong Kak Mona mengikuti ekstakulikuler yang sama denganku yaitu kelas olimpiade untuk bidang matematika. Oh ya satu lagi, Kak Maya teman satu kelas Kak Mona yang saat ini kelas 2 SMA.

"Oh, jadi Kak Mona hanya mengira-ngira saja, kan? Semoga saja kelas matematika bukan hari ini." Perasaanku sedikit lebih lega setelah mendengar pernyataannya itu.

"Baiklah. Nanti saja kita langsung tanyakan ke Pak Yoyon. Ayo, kita harus bergegas." Kak Mona menarik tanganku. Tanpa diperintah dua kali, aku segera melangkah mengikutinya.

Benar saja, hari ini hanya kelas kimia yang mengadakan seleksi. Aku mengetahui karena salah satu guru TU masuk ke kelasku dan meminta izin kepada guru pengajar saat itu untuk memanggil mereka-mereka yang mengikuti kelas kimia. Beberapa teman menanyakan apakah hanya kelas kimia saja? Dan hanya berakhir dengan sekali anggukan dari guru TU itu.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!