ENAM

77 8 2

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kejadian hari itu berbuntut pada panggilan guru BP untuk semua siswa yang terlibat. Perempuan itu serta beberapa orang yang membantunya tempo hari berdiri dalam barisan. Di hadapan mereka, sang guru BP duduk di balik mejanya, mengomentari perbuatan mereka dengan tatapan mata yang menakutkan.

Dua orang anggota gank tersebut juga ada di dalam ruangan yang sama. Ternyata, mereka adalah pelapor kejadian ini. Perempuan itu melirik jijik ke arah mereka. Cih, dasar pengecut. Kalau bikin ulah seenaknya, giliran dibalas minta perlindungan, desis perempuan itu dalam hati.

"Kalian sudah menyadari perbuatan kalian?" tanya guru BP kepada semua yang berdiri di hadapannya. Seperti paduan suara, mereka menjawab dengan kata dan nada yang sama.

Lalu guru BP beralih pada dua orang anggota gank tersebut. "Jadi berapa orang teman kamu yang dikerjai mereka?"

"Ada tujuh, Bu," jawab salah satunya, cepat.

"Ya, Bu. Ada tujuh." Yang lainnya menambahkan, bonus dengan tampang memelas.

Guru BP mengangguk-angguk paham. "Ya sudah, teman kalian yang lima orang suruh turun ke sini juga kalau begitu," ujar guru BP kemudian.

Lekas, kedua orang itu pergi meninggalkan ruangan, dan dalam hitungan menit sudah kembali dengan seluruh personel gank tersebut utuh. Perempuan itu memerhatikan kedatangan cowok-cowok reseh yang hari ini justru tampak sangat tidak reseh. Tidak ada raut wajah beringas, sebaliknya tampang innocent yang sangat butuh disayang dan dikasihani. Pintar sekali akting mereka, pikir si perempuan.

"Sudah kumpul semua ya?" tanya guru BP.

Lagi-lagi, semua menjawab kompak seperti paduan suara.

"Karena kenakalan kalian. Kalian akan mendapatkan hukuman pekerjaan sosial. Ibu akan susun tugas kalian. Seperti; membersihkan toilet, menyapu dan mengepel koridor sekolah, membantu parkiran sepeda motor, membersihkan mushala, dan lain-lain."

Si perempuan menunduk pasrah, jumlah waktu di sekolah akan bertambah lebih panjang, dan ia tak bisa sesegera mungkin pulang ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama Hujan. Namun, apa yang bisa ia perbuat sekarang selain menerimanya?

"Supaya kalian tidak konflik lagi. Maka kalian akan menjalankan hukuman di hari yang berbeda. Kelompok kamu, setiap hari Senin dan Rabu." Guru BP menunjuk pada si perempuan dan kelompok siswa yang membalas dendam.

"Kelompok kalian setiap Selasa dan Kamis." Gantian guru BP menunjuk pada gank tersebut. Mata mereka membelalak spontan. Saling pandang karena keheranan dengan apa yang diucapkan oleh si guru BP. Salah satunya segera menginterupsi.

"Lho Bu. Ini salah vonis kali ya? Kan, yang jadi korban kita Bu. Kenapa kita yang dihukum?"

Guru BP melontarkan senyum sinis. "Iya, kalian jadi korban. Cuma sekali. Tapi kalian jadi pelaku sudah berkali-kali. Ibu memang sudah lama mengincar kalian. Tapi nggak ada yang berani laporan. Mana bisa tangkap pelaku kalau nggak ada aduan. Kebetulan ada kasus ini, mereka juga bicara tentang tindakan kalian selama ini. Jadi, kalian juga dihukum. Adil, kan?"

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!