PAMIT 35

6.5K 1.6K 206

Maaf baru UP sengaja biar ada yang nyariin dan kangen. Wkwk :p
Jangan lupa vote dan komentar yang banyak.

*****

Ucapan papa Bhanu masih terngiang jelas dikepala Rania kenapa papa Bhanu juga berbicara persis seperti papa Rania mengatakan bahwa nama Pradipta juga tidak asing ditelinganya. Apa mereka saling kenal mengingat keduanya juga berkerja di bidang bisnis dan memiliki perusahaan juga. Rania benar-benar penasaran akan ini dan ingin secepatnya agar keduanya saling bertemu.

“Kenapa diam?” tanya Bhanu.
Setelah makan malam berakhir Bhanu mengantarkan Rania untuk pulang dan tidak lupa Asilah juga ikut padahal hanya sebentar. Jika biasanya diantar dengan mobil kali ini mereka memilih jalan kaki sekalian olahraga malam.

“Mas nggak ngajak ngobrol jadi diam deh,” jawab Rania

“Insiatif dong ...” 

“Mas, cowok harusnya memulai.” Ucap Rania tidak mau kalah

Bhanu memang selalu begitu segala sesuatu tidak mau memulai duluan selalu dipancing baru peka. Malam ini Rania belum ingin membuka suara ia hanya ingin menikmati kebersamaan seperti ini, genggaman tangan Bhanu dan celotehan Asilah yang meramaikan. Rania masih tidak percaya dan seperti mimpi jika ia bisa lepas dari Adrian dan sebentar lagi Rania memutuskan untuk menikah meski ia mengambil keputusan itu dengan waktu yang singkat.

Mendapat persetujuan papa, membuat Rania memantapkan hatinya jika Bhanu terlihat bukan seperti laki-laki pada umumnya, terutama berbeda dengan Adrian. Meski Rania menerima ini tetap saja ada rasa takut menyelinap dihatinya. Ia takut tidak bisa menjadi ibu untuk Asilah, mengingat Rania belum berpengalaman, ia takut tidak bisa menjadi istri yang baik mungkin lebih baik dari istri Bhanu sebelumnya.

Rania selalu mendadak bungkam meski hatinya meronta untuk bertanya tentang kehidupan Bhanu. Hanya satu yang ditakutkan Rania— takut jika semua pertanyaan Rania menyakiti Bhanu. Karena— Bhanu sempat berbicara dan menyuruh Rania agar tidak perlu memikirkan tentang masa lalunya, Bhanu tidak suka berbicara tentang masa lalu.

“Capek?” tanya Bhanu membuyarkan lamunan Rania

“Nggak. Kalau capek aku kalah sama Asilah yang masih semangat berjalan.”

“Gitu dong .... Baru calon istri yang baik,” ucap Bhanu dibarengi dengan pukulan pada bahunya oleh Rania

“Mama Rania ... Nanti besok kita
ketemu lagi 'kan?” Tanya Asilah

Tepat saat Bhanu memberitahu pada Asilah bahwa Bhanu akan menikah dengan Rania sukses gadis kecil itu langsung menyambut bahagia dan berteriak seperti neneknya dengan mengatakan bahwa sebentar lagi dirinya punya mama yang akan menemani. Malam itu juga Asilah langsung meminta izin untuk memanggil Rania dengan sebutan mama dan Rania langsung memperbolehkan.

“Kok aku deg-degan ya,”

“Kena serangan jantung mungkin.” Celetuk Rania

“Kena serangan jantung karena jatuh cinta sama kamu yang mengagetkan.”

“Ish, mulai lagi. Lama-lama kamu jadi raja gombal.” Dengus Rania

“Biar kelihatan romantis.” Sahut Bhanu

“Ingat ya mas, nggak semua perempuan suka digombalin ....”
“Masa sih? Bukannya mereka paling suka ya,” ujar Bhanu

“Kata-kata aja nggak cukup buat menilai bahwa kamu romantis, kita butuh tindakan. Termasuk aku, kurang suka digombalin.” Jawab Rania

“Ya sudah biar dinilai romantis, ayo kita mampir ketempat orang jualan Martabak kesukaan kamu.”

Dan disetujui juga oleh Asilah dengan seruan senang ketika mendengar akan ke tempat penjual Martabak, bagaimana bisa ketika dua perempuan ini ternyata memiliki hobi yang sama yaitu; menyukai Martabak kalau Bhanu tidak terlalu suka karena baginya Martabak selalu mempunyai rasa yang kemanisan. Sedangkan Martabak telur juga terlalu berminyak Bhanu semakin tidak suka.

PAMITBaca cerita ini secara GRATIS!