"Ibuuuuuuuuu kipas angin di rumah saya mati! Saya sama temen saya harus pulang buat ikut tahlilan Bu!"

Tidak masuk akal!

"Gak Gilang! Kamu ngerti gak sih bahasa manusia?!"

"Saya seringnya ngerumpi sama ibu-ibu jadi bisanya bahasa kaldu!"

"Kalbu sayang!"

"Jangan di koreksi, ibu bukan go keyboard!"

"Aduh, ini anak lahirnya gimanain sih!"

Bu Maya menggelengkan kepalanya pusing. Gilang itu salah satu muridnya yang sangat sulit untuk di bantah. Tingkat ngeyel Gilang hampir setara dengan kengeyelan ibu-ibu yang selalu merasa benar saat di razia di perapatan. Makannya, Bu Maya pun harus banyak sabar + istighfar!

"Gilang ganteng.. ibu bilang gak boleh keluar ya gak boleh keluar ngarti teu kasep?"

Gilang cemberut total. Ia menghentakkan kakinya sebal. "Bu Maya kalo gak ijinin Gilang keluar, Gilang bakal suruh ibu-ibu di kompleks perumahan Gilang buat nerror rumah ibu tiap malam Jumat Kliwon!"

Bu Maya melotot tak percaya. Ia mengusap-usap bulu kuduknya ngeri. "Aduh Gilang kamu itu aneh-aneh aja jadi bocah. Udah sana balik ke kelas, bertingkahlah selayaknya anak manusia."

"Gak mau Bu! Ijinin Gilang keluar!"

"Nggak!"

"Ijinin!"

"Nggak!"

"Ijinin ibu ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin ijinin-"

"Yaudah iya!"

Bu Maya skakmat di tempat. Ia menghembuskan nafasnya sambil memijit-mijit keningnya pelan. Kedatangan Gilang ke ruang guru hanya membuat Bu Maya geleng-geleng kepala sambil ngucap istighfar. Tolonglah manteman, Bu Maya tidak di gajih hanya untuk mendengarkan ocehan Gilang.

"Asekkkkkkkkk mana surat ijin nya Bu!"

Bu Maya mendengus kesal. Ia mengambil secarik kertas di laci mejanya dan menuliskan sesuatu di kertas itu. "Ini surat ijin nya. Awas ya jam pelajaran terakhir kamu harus sudah berada di sekolah! Kalo kamu bikin onar ataupun kelayapan, ibu coret nama kamu dari kartu keluarga!"

"Mana bisa di coret Bu, Bu Maya kan bukan ibu saya."

"Tapi kan saya ibu kamu di sekolah Gilang Pratamaaaaa.."

"Emangnya di sekolah ada kartu keluarga juga ya Bu? Saya kira di rumah aja yang ada-"

"UDAH SANA KAMU! KELUARRRRRR!"

Gilang ngacir cepat menjauhi zona bahaya. Ia keluar dari ruang guru dengan ekspresi bangga. Kevan dan Randy yang sedang duduk sambil mainin tai ayam pun menoleh refleks. Menatap Gilang yang menyengir lebar ke arah mereka.

"Ayok tawuran!"

"Di ijinin emang Lang?" Randy berdiri dari tempatnya duduk. Ia menghampiri Gilang yang masih anteng memasang wajah bodoh andalannya. "Di ijinin lah. Ini!"

Mata Randy menyipit seketika. Bukan karena sedang ngintip Bu Maya yang lagi ganti be*ha, tapi karena Gilang menunjukan surat ijinnya tepat di depan muka Randy. Membuat cowok berkulit sawo matang itu kesulitan untuk membacanya.

"Bego, lu nunjukin nya terlalu deket."

"Yaudah ini!"

Gilang menjauhkan surat ijinnya dari pandangan Randy. Membuat mata Randy kembali menyipit tajam. "Kejauhan bego!"

MY STUPID ENEMY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang