~ 1. Sekolah baru

133 18 9

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hati ku saja
Tapi mengapa cinta kini datang terlambat

....


Pria dingin dengan wajah tampan tanpa senyum itu menuruni tangganya dengan raut wajah kusut dan berjalan kemeja makan

"Apaan sih ma, ini masih pagi" Decak nya frustasi tapi berusaha selembut mungkin

Pria itu bernamakan Arkan, Arkan yang dalam keadaan apapun tak akan pernah bersikap kasar pada orang tuanya

"Ada Vio, temenin gih" Balas mamanya dengan senyum merekah

Gadis yang bernamakan Vio itu menatap pria yang ada di samping nya dengan harap harap cemas tapi masih berusaha menebarkan senyuman manisnya

Arkan menatap Vio dari atas hingga bawah dengan wajah super dingin yang mampu membuat semua orang tak mampu berdiri

"Ngapain ke sini"

Vio meneguk ludahnya susah payah, tangan gadis itu sudah meremas bajunya sendiri

"Ya dia mau liatin pacarnya lah" Jawab nesha ~ mama Arkan

Vio menatap nesha dan Arkan secara bergantian tampa mengeluarkan sedikitpun kata-kata

"Dia bukan lagi pacar Arkan ma"
Jawab Arkan tanpa ekspresi

"Mendingan sekarang lo pergi, lagian lo punya otak nggak sih? " Ucap Arkan mengalihkan pandangannya dari nesha

"Pu... Punya Ar" Jawab Vio seadanya

"Nah kalo punya mikir donk pakek otak, sepagi ini lo dateng kerumah orang dan minta ditemenin? Gue nggak punya waktu" Tegas Arkan yang mungkin sedikit kasar

"Arkan mau ke atas ma, siap siap ke sekolah" Pamit Arkan tanpa menunggu kalimat selanjutnya dari sang mama, meninggalkan Vio yang sedang membeku

"Tapi seenggaknya kamu makan sarapan aku yah"

Arkan mendengar nya tapi sengaja tak ia ubris, pria itu tetap berjalan dengan santai kekamarnya

"Kamu jangan nyerah ya" Ucap nesha dengan senyum hangat pada mantan pacar anaknya itu

"Iya tan" Balas Vio yang masih berusaha mengembangkan senyum nya

...

"Va, bangun"

Gadis yang masih terlelap dalam mimpinya itu hanya mengeliat

"Ishhh, bangun cepetan"

"1jam lagi" Ucap gadis itu ngelantur

Gerald melihat jam sekali lagi dan berdecak kesal

"Buruan... Atau kalo kamu nggak mau bangun, aku peluk nih" Ancam Gerard pada gadis itu yang masih terlihat memejamkan matanya

Gadis itu tak menjawab, tubuhnya malah tergerak memeluk pinggang Gerald yang ada di ujung ranjang seakan ia tak takut ancaman pria itu

"Oh jadi gitu? Terserah kamu aja deh, intinya kalo nasi goreng nya habis jangan salain aku ya"

Dengan setengah kesadaran yang gadis itu miliki, tangannya mencekal tangan Gerald yang hendak pergi

"Huaaa... Siapa yang masak? "

"Khusus buat kamu, aku yang masak"

Lagi-lagi Gerald tak bisa memasang wajah datarnya di depan gadis itu, matanya yang berbinar mampu membuat Gerald tersenyum

Dia ArkankuBaca cerita ini secara GRATIS!