Gue mengangguk mengerti, "Kalau gitu, Anne packing dulu ya, Mi," Mami mengangguk dan gue lekas ke kamar buat packing ke Bandung besok.

Beberapa setel pakaian gue masukin. Bang Suhandi bilang, gak perlu pesan hotel, karena di rumahnya udah tersedia kamar tamu.

Mama pun gak keberatan kalau gue tidur di tempatnya. Dari pada di hotel, katanya buang-buang uang.

Gue kesana sesuaiin sama jam Bang Suhandi pulang kerja. Jadi, gue pilih kereta yang nyampenya itu sore hari.

Selesai packing, gue bergegas tidur, biar gak terlalu capek di kereta karena kurang tidur.

Siangnya, gue di anter Pak Usman sama Mami. Jisoo ada kelas siang ini, jadi dia gak nganter gue ke stasiun. Mom enough for me.

Mami memeluk gue, "Hati-hati ya. Jangan mainan handphone terus di kereta. Jangan ngeluarin handphone terlalu lama di tempat ramai. Kalau laper, pesen makanan di kereta. Kalau capek, istirahat. Kalau merasa gak kuat, pulang.."

Gue kaget denger kata-kata Mami yang terakhir. Mami melepas pelukannya dan nyingkirin anak-anak rambut gue dengan lembut, "Kalau Suhandi udah jadi pilihan kamu, Mami dukung kamu. Jangan membenci seseorang. Jangan sakit hati sama seseorang. Kamu terlalu berharga, Ann. Papi sama Mami ngerawat kamu bukan buat jadi seorang pembenci, pendendam."

Gue mengangguk dan tersenyum sendu. Mami nalangin tangannya dan buat kening gue mengerut, "Apa, Mi? Mau minta uang ke Anne?"

Mami menggeleng, "Obat penenang kamu jangan di bawa. Mana?"

"Tapi, Mi—"

"Gak ada tapi-tapian. Buru, kasih ke Mami," gue terpaksa ngeluarin obat itu dari tas kecil gue. Karena obat itu gak gue simpen di koper.

Setelah gue kasih ke Mami, Mami ngantongin obat itu, "Udah sana masuk! Nanti keretanya berangkat," gue mengangguk.

Gue pakai jasa kuli angkut, karena Mami yang nyuruh, dan Mami juga yang bayar. Gue mah ngikut aja, selama enak di gue.

Bergegas gue masuk. Sebelumnya kuli angkut udah nanya gerbong dan tempat duduknya. Beliau yang mimpin di depan, sedangkan gue ngekorin di belakang. Udah kayak bapak sama anak.

Kuli angkutnya naruh koper gue di bagasi atas, "Mbak, saya taruh sini ya,"

"Iya, Pak. Terima kasih," setelahnya bapaknya ninggalin gue.

Karena kereta gue yang eksekutif, gue gak perlu sempit-sempitan kayak kelas ekonomi. Cukup buat tenang. Gak lupa, gue kirim pesan ke Bang Suhandi, kalau gue udah mau otw Bandung. Dan panggilan dari Bang Suhandi pun masuk.

"Udah di kereta?"

Gue ngeliat ke luar jendela. Keretanya mulai berjalan pelan, "Udah, Bang. Abang bisa jemput? Kalau gak bisa, aku pakai gocar aja,"

"Bisa, kok. Abang lagi ngebut ngerjain laporan biar bisa jemput kamu,"

"Jangan di paksa, Bang. Kalau gak bisa juga gakpapa. Kasih alamat aja, nanti aku pakai gocar,"

Bang Suhandi menghela nafasnya pelan, tapi masih bisa terdengar, "Jangan ngeyel! Kamu nyampe kan abis maghrib. Abang udah selesai ngantornya jam segitu,"

"Gak lembur emangnya?"

"Gak. Udah santai aja. Nanti abang tunggu di stasiun."

"Ya udah. Terserah abang aja,"

"Kalau gitu, udah dulu ya. Abang ada rapat,"

"Mm.." habis itu panggilan terputus.

Gue menutup telinga pakai headset, pasang musik buat ngurangin rasa berisik suara kereta. Kalau naik kereta gini, inget ke Bandung bareng Charles. Gue ngerasa bersalah sama dia. Iya, gue labil. Gue gak mau nyakitin Charles. Dan di sisi lain, Bang Suhandi menawarkan dirinya sendiri buat gue sakitin.

Hubungan gue sama Bang Suhandi belum ke tahap serius. Gue cuma lagi mencoba. Dan bang Suhandi pengen ngenalin gue lagi. Setelah Willis ngenalin gue ke orang tuanya, sekarang Bang Suhandi yang ngenalin gue ke orang tua yang sama. Lucu ya, hidup gue jadi kayak piala bergilir. Yah, dari pada gue jadi jalang yang nongkrong dan mabok di liquid, mending jalan ini yang gue ambil.

Sekitar kurang lebih 8 jam, gue sampai di Bandung. Sekalian nunggu Bang Suhandi, gue nyari mushola di stasiun. Bang Suhandi ngechat gue, dia bilang ke jebak macet. Jadi gue di suruh nunggu. Dari pada bosen nunggu, gue sekalian sholat aja biar lega.

Gue keluar dari musholla dan bertepatan sama Bang Suhandi ngabarin dia udah ada di pintu keluar stasiun. Gue bergegas kesana sambil narik koper gue.

Gak butuh waktu lama buat nemu Bang Suhandi. Dia berdiri di barisan paling depan. Jadi pas gue keluar, langsung ketemu Bang Suhandi.

"Lama ya?" tanya dia.

Gue menggeleng, "Gak, Bang."

"Sini kopernya. Abang bawain," gue mau nolak, tapi koper gue udah di rebut duluan dan Bang Suhandi masang senyum lima jari.

Gak balas senyuman Bang Suhandi, gue cuma ngekorin Bang Suhandi ke parkiran buat ke mobilnya.

Bang Suhandi unlock mobilnya, "Masuk duluan. Abang masukin barang kamu ke bagasi," gue mengangguk patuh. Mobil Bang Suhandi Honda City, yang ada bagasi belakangnya layaknya sedan biasa.

Gak lama, Bang Suhandi masuk, "Pasang seatbeltnya, Ann," gue menurut dan memasang seatbeltnya sesuai perintah Bang Suhandi.

"Kamu yakin gakpapa kalau nginep di tempat Mama sama Papa?"

Gue membuang muka ngeliat pemandangan malam kota Bandung dari balik jendela, "Kan abang sendiri yang minta. Sekarang malah abang yang bingung. Aku fleksibel," jawab gue seadanya.

Bang Suhandi menghela nafasnya pelan. Mungkin biar di kasih kesabaran sama sikap cuek gue. Berbanding terbalik sama sifat gue yang dulu ceria dan perhatian, "Udah makan, Ann?"

"Udah. Tadi di kereta,"

"Makan apa?"

"Pop mie,"

Bang Suhandi terdiam sesaat sebelum ngomong lagi, "Mau makan dulu?"

"Kenyang, Bang. Mau istirahat aja,"

Kembali. Bang Suhandi menghela nafasnya pelan. Tanpa ada obrolan lagi, mobil Bang Suhandi membelah ramainya jalanan kota Bandung. Kota yang penuh kenangan. Banyaknya kenangan buruk. Dan gue masih nekat dateng kesini.

Butuh waktu satu jam buat sampai ke rumah keluarga Bramantyo. Gue keluar dari mobil Bang Suhandi, dan Bang Suhandi ngeluarin koper gue dari bagasi mobilnya. Sebelumnya udah gue paksa, gue sendiri aja yang ngeluarin, tapi namanya cowok gentle, gak mungkin biarin cewek dalam kondisi kesusahan.

"Yuk, masuk! Mama udah nyiapin makan malam katanya,"

Gue mengangguk dan mengekori Bang Suhandi dari belakang.

Di ruang tengah, Mama dan Papa menyambut hangat, "Anne!!" Mama memeluk gue dan mengusap punggung gue.

Gue membalas pelukan Mama sama hangatnya, "Gimana kabarnya, Ma?"

"Alhamdulillah, baik," Mama melepas pelukannya dan menangkup wajah gue, "Kok kamu tirusan, Ann? Makan, kan?" gue jawab dengan anggukan. Mama tersenyum sendu, "Mama buat kamu gemukan lagi selama disini,"

"I hope so,"

Beralih ke Papa, gue salim ke beliau, dan beliau ngusap kepala gue dengan lembut. Mereka gak ada yang ngomongin hubungan gue sama anak kedua mereka.

"Abang! Masukin barang Anne ke kamar tamu ya. Terus nyusul ke meja makan," Bang Suhandi mengangguk menuruti perintah Mama. Sedangkan gue di bimbing Mama ke meja makan.

"Tadaa!! Masakan kesukaan kamu, kan?" gue tersenyum kecil dan mengangguk. Gue dulu saat pertama kali ketemu Mama, Mama nanya makanan kesukaan gue. Karena calon mertua, akhirnya gue kasih tau makanan kesukaan gue.

Sembari nunggu Bang Suhandi, sebuah suara barinton menggema di telinga gue, "Assalamu'alaikum,"

Atensi kita semua beralih ke pemilik suara. Walau gue udah tau, siapa pemilik suara itu. Tapi hal yang gak gue duga, dia bawa ceweknya, Zena.

Willis sama terkejutnya kayak gue,

"Ann.."

something new ✔Where stories live. Discover now