Lima

26 12 0

"welcome to Monas!" Teriak Mutiara dengan senang.

"Kamu ini, seperti gak pernah ke Monas aja, hampir tiap sabtu juga kita kesini" ujar wanita yang jauh berbeda usia dengan Mutiara itu.

Mutiara hanya dapat menunjukkan cengirannya pada wanita tersebut yang notabennya adalah ibu dari gadis tersebut.

"Gak papa kan ma. Sini deh, kita foto biar papa yang lagi di Singapure nyesel gak ikut kita kesini"

Wanita itu menggelengkan kepalanya, melihat anak semata wayangnya itu. Mutiara menarik tangan wanita itu, dan mengeluarkan handphonenya.

"Satu, dua, tiga! Cheese!"

Gambar itu tertangkap. Mutiara menurunkan handphonenya dan tersenyum kearah mamanya itu.

"Bagus hasilnya?" Tanya mamanya itu.

Mutiara mengangguk.

Menuliskan sebuah caption pada instagram nya dan menge-tag Riyanto, ayahnya tersebut.

Riyanto_ kenapa gak nunggu papa dulu, jahat amat sih😫

Mutiiaa907 @Riyanto_ cepat pulang ya pa, bekanya jangan di lama-lamain di sana😜

Mutiara tertawa melihat reaksi ayahnya, sungguh dirinya bukan bermaksud seperti itu. Dia hanya ingin ayahnya cepat pulang dan menghabiskan waktu bersama lagi, saat ayahnya pulang nanti.

"Muti, sini nak. Kita minum tempat biasa yuk" ajak ibunya sembari menarik gadis yang tak henti-hentinya tertawa itu.

"Minum apa ma?"

"Wedang aja"

* * *

Mutiara menghela nafas, saat harus menemani kedua orang di depannya ini untuk pergi berkencan.

"Untuk apa mengajakku jika kalian hanya ingin berkencan? Kesannya disini aku jadi seperti pengganggu" ucapan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Mutiara.

Dirga menoleh ke belakangnya, mengeluarkan sedikit cengirannya. Fiona hanya menggelengkan kepala, dia memang tidak mengerti dengan tingkah kekasihnya ini.

"Ayolah, lagian kita gak cuma bertiga kok. Ada yang kangen sama Monas" balas Dirga.

"Sekarang aku tanya, kita ini mau kencan apa gimana sih Dirga?" Ketusnya, Fiona cemberut, tentu saja dia kesal.

Dirga hanya tersenyum hingga matanya menangkap seseorang di depan sana.
Dirga mengangkat tangannya, melambai ke arah orang tersebut.

"Hai! Sorry, gue dari tadi jalan sendirian. Jadi gak ketemu sama kalian dari tadi" ucap lelaki itu tersegal-segal akibat dirinya yang berlari ke arah mereka.

* * *

Gion tersenyum girang saat melihat indahnya Jakarta, sesekali mengerutkan keningnya saat indra matanya menangkap hal-hal yang belum pernah dilihat olehnya.

Memang lucu, dia lahir di Indonesia, tetapi tidak begitu mengenal negaranya sendiri. Memang, Gion mengakui di darahnya mengalir juga darah dari seseorang yang berkebangsaan Korea --- ibunya. Ibunya masih di kategorikan asli dari Korea, bahkan nenek dan kakek Gion ada di sana.

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang