Enambelas (end)

703 17 4
                                          

Canggung!

Itulah perasaan yang saat ini aku rasakan ketika kami berdua sama-sama duduk berhadapan. Lain dari pertemuan kami yang dulu, beberapa tahun yang lalu. Waktu kami masih muda, masih menganggap apa yang kami rasakan akan pudar seiring berjalannya waktu.

Berkali-kali aku menahan nafas dan menghembuskannya pelan, mencoba untuk mengusir perasaanku yang sama sekali tidak bisa aku gambarkan. Bayangkan saja, aku tidak menyangka sedikitpun kalau akan bertemu Nanta kembali, karena Alex hanya mengatakan bahwa dia ingin mengajak temannya dan aku sama sekali tidak berfikir bahwa itu Nanta. jika aku tahu kalau yang datang bersama Alex tersebut adalah Nanta, setidaknya jauh sebelum hari ini aku bisa menyiapkan kata-kata untuk aku tanyakan padamya. Tidak seperti sekarang ini, perasaanku seperti seorang narapidana yang akan dieksekusi.

Justru pikiranku berkelana ke beberapa tahun silam. Saat kami bertemu untuk pertama kalinya, menyusuri jalanan kota Jogjakarta yang romantis, atau menikmati hujan saat pertemuan kedua kami. Menonton film dan malu satu sama lain ketika ada adengan kiss scene di dalamnya.

"Ra...diem aja?" Nanta kembali membuka suara.

Aku menoleh, kembali kulihat dia menyunggingkan sebuah senyum kearahku, wajahku memerah. Malu sendiri dengan pikiranku tadi.

"Aku...aku masih tidak percaya kalau itu kamu Ta." Jawabku pelan, dan tidak sepenuhnya bohong. Karena aku memang masih belum percaya dengan dia yang ada di depanku sekarang.

Nanta tertawa renyah.

"Percaya dong Ra! Ini aku." Jawabnya.

Aku tersenyum, hatiku sedkit mulai menguasai keadaan sekarang.

Mulai rasa penasaranku tiba-tiba muncul. Memang manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Terbersit juga dipikiranku sebuah pertanyaan untuknya. Apakah dia sudah punya pacar? Sudah menikah?

Tapi tunggu! Fira! Itu terlalu cepat. Untuk apa kau menanyakan hal seperti itu, kalau dia saja tidak menanyakan padamu sama sekali!

"Kenapa belum menikah Ra?" Tanya Nanta kemudian, seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

Aku menelan ludah, apa aku harus jujur kalau aku sampai sekarang belum menikah hanya karena sepotong hatiku masih merindukannya? Akh, hati..kenapa kau setega itu padaku, dan ketika sekarang, sang pembawa hati itu sudah berada di depanku dan menanyakan alasan kesendirianku, aku tidak bisa mengatakan apapun. Skak mat! Aku kalah, dan akankah aku harus mengakuinya?

"Emm... aku belum nemu yang cocok Ta." Jawabku pelan.

"Kalau kamu?!" Yes! Akhirnya aku bisa memulai menanyakan hal itu kepadanya, mengobati rasa penasaranku.

Nanta terkekah.

"Aku juga sama kaya kamu Ra. Belum nemu! Alasan yang sangat klasik bukan?!"

Aku mengangguk kemudian tertawa disusul dengan tawa Nanta yang mengikuti. Belum nemu? Itu sebuah alasan yang lebih dari sekedar klasik sebenarnya. Aku memang belum nemu Ta, belum nemu yang seperti kamu. Dan kamu juga belum nemu. Belum nemu yang seperti apa Ta?

Aku ingin menanyakan hal itu. Maklumlah, cewek kalau rasa penasarannya sudah diubun-ubun, dia akan mencari tau semuanya melebihi agen FBI. Namun urung kulakukan karena Alex tiba-tiba nyembul dari balik pintu.

"Eh, sudah dulu ya reuninya. Aku sudah dapat tenda buat nginep kita di Parangtritis!"

"Benarkah?!" Seruku kemudian, mencoba berlagak terkejut, karena sejak tadi siang tidak ada yang lebih mengejutkanku selain kehadiran Nanta yang tiba-tiba di hadapanku. Swear!

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang