empatbelas

352 8 0
                                          

Aku tersenyum ketika kulihat seorang cowok berdiri di depan Stasiun Tugu. Tanpa aba-aba kupercepat langkahku untuk berjalan mendekatinya. Rupanya dia juga tersadar bahwa aku sedang berjalan kearahnya, cowok itu kemudian tersenyum dan melambai kearahku.

Aku menghela nafas panjang, menyembunyikan rasa gugup dan degup jantungku yang kian keras. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya di kota ini, dan seperti waktu yang berputar kearah yang sama, aku kembali menapakkan kaki ke kota ini untuk bertemu orang yang sama. Kembali merangkai kenangan yang sudah mulai aku pendam dan aku lupakan. Aku kira, semuanya akan berbeda. Hati ini, perasaan ini dan tatapan ini, tapi ternyata tidak. Perasaanku masih sama padanya, persis seperti setahun lalu waktu aku pertama kali bertemu dengannya.

"Ta!" Panggilku sambil tersenyum, ketika sampai di depannya. Kutatap wajah Nanta yang sedikit berubah. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan lebih gemuk, serta potongan rambutnya juga sudah berbeda. Hanya satu yang masih sama ketika aku kembali menatapnya, yaitu tatapan matanya yang masih terasa meneduhkan hatiku.

Cowok yang berada di atas motor itu tersenyum kemudian menyerahkan sebuah helm yang dibawanya khusus untukku.

"Gimana Ra, tadi di kereta ramai gak?" Tanyanya basa-basi.

Aku mengangguk, kupandangan langit kota Jogjakarta yang berwarna hitam, gerimis kecil mulai turun ke bumi.

"Iya, aku baru bisa duduk ketika sampai di Lempuyangan." Jawabku datar kemudian memposisikan badanku di atas sepeda motor Nanta tanpa disuruhnya.

"Kita mau kemana Ta?" Tanyaku kemudian setelah cowok itu mulai menyalakan mesin motornya. Kupandang sekali lagi langit kota Jogja yang kian bertambah pekat, naluriku mengatakan bahwa sebentar lagi hujan pasti akan turun dengan derasnya.

Nanta tidak segera menyahut, diangkatnya kepalanya menegadah langit, dia pasti juga berfikir akan kemanakah kita nanti karena hujan akan segera turun. Ketika di kereta tadi aku sempat berfikir untuk kembali menyusuri sudut-sudut kota Jogja dengan Nanta, tapi sepertinya tidak mungkin karena kita pasti akan diguyur hujan.

"Nonton aja yuk Ra!" Ajanya kemudian.

"Ada film fenomenal. Aku belum sempat nonton."

Aku berfikir sesaat, ajakan yang tidak buruk juga, pikirku.

"Oke. Nurut aja deh!" Jawabku. Lagipula memang itu adalah solusi terbaik agar kita terhindar dari hujan.

Nanta menarik gas motornya pelan. "Semoga masih keburu sampai Amplas ya Ra. Semoga nggak kena hujan di jalan."

Aku tersenyum kecil. Kuikuti saja kemana Nanta membawaku dengan motornya. Seperti setahun yang lalu, kini kami juga sedang melakukan hal yang sama, menyusuri jalanan kota Jogjakarata yang belum banyak berubah.

Sementara itu langit di atas sana semakin menghitam, butiran-butiran hujan mulai jatuh membasahi kami yang sedang berusaha untuk segera sampai Amplas agar tidak basah kuyup karena hujan. Namun memang keberuntungan tidak sadang berpihak pada kita berdua, hujan tiba-tiba turun dengan deras membasahi sebagian baju kami, karena dirasa tidak memungkinkan untuk terus, akhirnya Nanta membelokkan arah motornya kesebuah warung pinggir jalan di belakang kampus UIN.

Nanta memarkir motornya tepat di depan warung mungil itu. "Kita berteduh sini dulu aja ya Ra."

Aku hanya mengangguk, mengikutinya saja dengan pelan ketika Nanta mulai masuk kedalam warung kopi yang terkesan sempit itu.

"Pesan apa Ra?" tanyanya kemudian setelah kami duduk disebuah tempat duduk kosong di pinggir warung, seorang ibu-ibu setengah baya berdiri di samping kami, sedang menunggu pesanan kami.

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang