duabelas

346 10 0
                                                  

Aku mulai menjelajahi postingan cowok itu. Mataku menyipit ketika sebuah postingan beserta sebuah fotonya bersama dengan seorang cewek berada di halaman facebook-nya. Foto itu baru diunggahnya kemarin, dan foto itu terlihat bukan foto lama.

Aku menahan nafasku, perasaanku campur aduk. Mungkinkah cowok itu sudah bisa melupakanku dan bersama dengan seseorang. Secepat itukah? Hanya dalam waktu hitungan minggu. Aku menahan hatiku yang terus bergejolak, kubuka kembali album foto-foto di dalam facebook itu. Beberapa bulan yang lalu, ada banyak fotoku yang di-upload-nya waktu kita jalan-jalan di Jogjakarta dahulu. Tapi sekarang tidak ada! Sama sekali sudah hilang!

Secepat kilat kuambil handphone yang ada di sampingku, dengan secpat kilat pula kutulis sebuah pesan yang kutujukan untuk Nanta. Aku tidak bisa berdiam diri, aku harus menanyakan sesuatu. Sebenarnya apa yang salah dengan dia memposting foto cewek di-facebook-nya, atau menghapus foto-fotoku disana. Toh itu hak dia, toh aku juga bukan siapa-siapa buat dia. Tapi entahlah, hatiku sakit melihat itu semua.

"Ta, kenapa foto-fotoku kamu hapus di facebook?!"

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

"Maaf Ra, aku lupa konfirmasi ke kamu."

"Tentang?"

"Dia nyuruh aku buat hapus foto kamu."

"Kenapa?"

Aku menarik nafas panjang. Tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas, aku tidak mempunyai kekuatan untuk mengatakan sesuatu, bahkan untuk menulis balasan untuknya. Aku mengerti siapa yang dimaksud dengan "dia" oleh cowok itu. Pasti cewek yang fotonya diposting di facebook. Aku menyerah, kembali menyerah untuk sebuah cinta yang akhirnya kandas sebelum aku mulai. Sebuah cinta yang melukai hatiku sebelum aku mengatakan semua perasaanku. Waktu memang sudah tidak bisa aku putar, dan kini aku menyesal.

***

Semua sudah berada di jalannya sendiri-sendiri. Aku dengan kesibukanku, dan Nanta dengan kesibukannya. Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak penah menghubunginya lagi, sedikitpun! Aku merasa tidak ada gunanya lagi jika aku masih terus berhubungan dengan dia. Nanta sudah memiliki kehidupannya sendiri sekarang. Bersama seorang gadis, yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Aku tidak peduli.

Aku lihat dari apa yang di-upload-nya di-facebook, dia sudah wisuda dan aku tahu juga kalau dia juga lulus dengan predikat terbaik, iya usahanya tidak sia-sia. Namun lagi-lagi aku juga tida mengucapkan apa-apa. Aku hanya mengatakan selamat padanya, namun hanya di dalam hatiku saja. Sekali lagi, rasanya aku juga tidak perlu memberinya selamat. Pun juga ketika dia berangkat ke Jakarta untuk memulai pekerjaannya, aku juga tidak mengatakan apapun. Meskipun hatiku ingin berteriak "Selamat Ta! Semua yang kau inginkan tercapai!"

Semuanya sudah usai. Mengabur begitu saja seperti angin, menguap begitu saja seperti embun. Kita sudah menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku masih dengan ceritaku, kuliah dan berusaha untuk menyelesaikannya tepat waktu seperti kamu. Mungkin hanya begini saja cerita antara kamu dan aku. Mungkin kamu memang hanya singgah sepintas waktu, mengisi hatiku yang kesepian dan terluka karena cinta masa laluku. Biarlah, aku mengisi hariku kembali, toh kamu hanya datang sekali dalam hidupku meskipun membekas jauh di dalam hatiku.

***

"Bagaimana sih kamu Ra! Kalau judul skripsi saja tidak benar-benar, mana bisa kamu lulus tepat waktu!" Suara pak Iwan, pembimbing skripsiku menggelegar memenuhi ruangannya yang tidak terlalu lebar itu.

Aku menunduk, tidak berani menatap wajah seorang pria setengah abad lebih, yang aku tahu saat ini sedang benar-benar marah padaku. Sudah beberapa kali aku mengajukan judul untuk skripsiku, namun sama sekali belum benar menurut pandangan beliau.

"Bagaimana kamu ini!" serunya lagi sebelum aku menjawab apa yang dikatakannya tadi. Aku benar-benar lelah, skripsi membuatku kurang tidur, skripsi membuatku lupa makan da skripsi membuatku mimpi buruk.

Aku menghela nafas.

"Ma'afkan saya pak. Saya akan perbarui lagi." Gumamku sendu. Padahal aku belum tahu juga, apa judul baru yang akan aku konsulkan nanti. Judul skripsi yang sekarang ini berada di depan pak Iwan itu saja aku butuh waktu lama untuk memikirkannya, dan nyatanya judul itu belum juga baik menurutnya. Apa lagi?!

"Kalau kamu anggap bimbingan dengan saya hanya main-main, kamu jangan datang lagi kemari." Katanya tegas. Membuatku kembali menghela nafas berat, dan memang rasanya beraaat sekali. Aku tidak tahu lagi. Apa ini yang dirasakan Nanta setahun lalu, ketika dia juga hampir gila karena tugas akhirnya. Ah, lagi-lagi Nanta yang muncul di pikiranku. Sudah hampir setahun, namun wajah cowok itu masih terus berputar di kepalaku.

*** 

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang