Sembilan

453 7 0
                                          

Dokter di klinik itu mengatakan bahwa aku harus diinfus untuk memasukkan vitamin dan obat alergi yang harus masuk lewat injeksi. Aku menurut saja, lagipula daripada aku harus tersiksa dengan hidung mampet dan bersin-bersin yang terus saja menganggu, lebih baik aku mengiyakan saja.

Entah obat apa yang masuk, aku tertidur beberapa saat dengan lelap. Sebelum tidur kulihat Galih sedang sibuk mengurusi segala macam administrasiku dan lain sebagainya. Aku hanya bisa memandanginya dari tempat tidurku, dengan kondisi badan yang masih lemah. Tapi aku merasa, dia benar-benar bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya padaku.

Ketika membuka mata, kurasakan badanku sedikit lebih segar, kulirik botol infus yang tergantung di sampingku. Cairan infus yang berwarna pink kemerahan itu sudah hampir habis, hanya tinggal kira-kira tiga perempat saja. Dokter tadi mengatakan bahwa aku boleh pulang ketika infusku sudah habis.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Matahari sore terlihat masuk dari jendela-jendela bening yang berada di klinik yang tampak bersih itu. Entah sudah berapa lama aku tidur, yang jelas aku yakin saat itu waktu sudah sore dan matahari hampir saja terbenam. Kuedarkan pandanganku sekali lagi, berharap Noni sudah datang hendak menjemputku. Namun ternyata bukan Noni yang kujumpai melainkan Galih yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Melihatku sudah bangun dia tersenyum kemudian mendekatiku.

"Gimana Ra? Sudah enakan?" Tanyanya sambil menarik sebuah kursi plastik di sampingku kemudian mendudukinya.

Aku mengangguk pelan. Hidungku sudah tidak mampet dan gatal seperti tadi, serta badanku rasanya juga tidak terlalu panas seperti tadi. Yah, semuanya kurasakan jauh lebih baik daripada beberapa jam yang lalu.

"Mana Noni?" Tanyaku kemudian disambut dengan senyuman khas Galih, yaitu lesung pipinya yang selalu tampak.

"Sudah pulang. Waktu kamu tidur tadi dia sudah kesini. Dia minta tolong aku untuk mengantarkanmu balik kos."

Aku mendengus. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang Galih katakan. Apa benar Noni memang pulang sesuai keinginannya sendiri, atau justru Galihlah yang menyuruhnya pulang dan menawarkan diri untuk mengantarku. Terserahlah! Aku tidak peduli kalaupun Galih yang mengantarku pulang ke kos hari ini.

"Tadi pagi, kamu mau ngomong apa?" tanyaku kemudian, teringat kejadian tadi pagi ketika Alex berteriak bahwa Galih ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku.

Galih tidak menjawab, tangannya sibuk merapikan selimut yang kupakai. Cowok rese itu terlihat lebih dewasa saat ini, dia tidak banyak bicara dan menyebalkan seperti biasanya.

"Nggak, cuma ingin ketemu kamu aja." Jawabnya disertai cengirannya.

Aku melotot, baru beberapa saat yang lalu aku memujinya di dalam hatiku bahwa saat itu dia lebih dewasa, tapi sikap resenya membuatku mulai illfeel kembali dengannya.

"Nggak Ra. Aku kangen kamu!" Katanya kemudian, membuatku kembali melongo. Secara frontal dan tanpa tedeng aling-aling cowok itu mengatakan kangen padaku. Apa mungkin sepuluh menit lagi dia akan mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dasar, rese! apa kamu nggak terlalu lebay mengatakan demikian, padahal setiap hari kamu sudah nongkrong terus di depan Fakultas Ekonomi. Apa kamu amnesia Lih? Dalam sehari kita bertemu lebih dari tiga kali!

"Lebay..."

Galih tertawa.

"Aku jujur kok Ra!" Serunya membela diri.

"Pokonya kamu lebay!" Aku tidak mau kalah. Kuperhatikan Galih yang masih tertawa padaku, dia memang terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Mungkinkah karena sekarang ada sedikit rasa terimakasihku padanya karena sudah mengantarku dan mengurusiku tadi? Sehingga pandanganku padanya berubah? Bahwa sebenarnya dia juga tidak seburuk yang aku pikrikan.

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang