Tujuh

419 12 0
                                          

Akhir pekan! Dan hari yang kutunggu-tunggu telah tiba. Menunggu hari sabtu ini sudah seperti menunggu siput berjalan, sangat lambat. Aku sudah tidak sabar untuk segera mengemasi barang-barangku dan berangkat menemui Nanta di Jogja. Namun masih ada satu mata kuliah yang harus aku lewati di jam satu ini. Padahal sudah akhir pekan, dan semua mahasiswa sudah punya rencana sendiri-sendiri, ada yang pulang kerumahnya, nonton nanti malam sama pacarnya dan termasuk aku yang ingin segera menapakkan kaki di kota gudeg tersebut. Tapi lagi-lagi kenginanku tersebut harus kutahan untuk beberapa jam kedepan karena jam 1 siang ini masih ada satu mata kuliah yang harus aku ikuti.

Sejak tadi dudukku sudah tidak nyaman. Berkali-kali kugeser bokongku agar aku bisa konsentrasi dengan apa yang dosen jelaskan, namun nihil. Aku tidak bisa meredakan gejolak hatiku, deg-degannya hatiku bahwa aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nanta.

"Ra kenapa? Ambeien?" Noni berbisik didekat telingaku, tentu saja dari tempat duduknya yang berada dibelakangku. Aku tahu bahwa cewek itu sedang menggodaku.

Aku mengacungkan kepalan tanganku padanya. Enak saja cantik-cantik kaya gini dibilang ambeien.

"Idih...yang mau ketemuan sama sahabat penanya..." Ejek Noni sekali lagi. Tadi malam memang aku sudah menyampaikan niatku untuk main ke Jogja bertemu Nanta, dan cewek itu berteriak histeris sambil memegangi tanganku dan bertanya "Kamu serius Ra? Waaah asyik ya Ra, Aku boleh ikut nggak Ra?!"

Dan dengan tegas aku menggeleng dan berkata "Tidak!"

Begitulah akhirnya kuliah panjang sore itu berakhir tepat pukul setengah tiga sore. Aku langsung tancap gas pulang kekos. Mandi, dandan cantik dan berkemas. Setelah kurasa cukup dengan persiapanku, aku meminta Noni yang juga sudah bersiap untuk pulang kerumahnya di Sragen itu untuk mengantarku ke terminal. Cewek itu oke-oke saja, dia mengantarku sampai aku mendapatkan bus.

"Baik-baik ya Ra! Jangan lupa oleh-olehnya, jaga diri baik-baik!" Serunya melambaikan tangan kearahku ketika aku sudah naik bus.

Aku membalas lambaian tangannya sambil tertawa. Padahal aku hanya pergi ke Jogja dan besok juga sudah bertemu dia lagi dikos, kenapa harus lebay begitu perpisahannya.

***

"Sampai mana Ra?" begitulah pesan dari Nanta yang terkirim di handphoneku. Mungkin saat ini dia juga sudah standby di depan kosnya atau di suatu tempat, dan ketika mendapatkan balasan pesan dariku, cowok itu akan segera tancap gas menuju tempatku turun nanti yaitu di Janti.

Aku memutar pandanganku, mecari-cari sebuah tulisan di luar jendela, siapa tahu ada sebuah tulisan nama tempat di sepanjang jalanku itu. Mataku tertuju pada Candi Prambanan yang berdiri tegak dan gagah menjulang. Yakinlah aku bahwa sekarang aku sudah sampai di Prambanan.

"Sampai Prambanan Ta."

Nanta:

"Oke! Jangan lupa ya, turun di Janti."

Aku:

"Baik Bos!"

***

Aku meremas-remas tanganku yang sudah lembab karena keringat. Padahal bus yang ku tumpangi ini sudah ber-AC, bus jurusan Surabaya-Jogjakarta yang nyaman menurutku. Namun entah kenapa jantungku kian berdegup kencang dan tanganku mulai berkeringat. Hanya dalam hitungan beberapa menit dan aku akan bertemu dengan cowok itu, bagaimana nanti? Apa yang harus aku katakan padanya? Pikiranku kembali tidak tenang. Duduk dengan raut muka gelisah dan sesekali bercermin di kaca bus yang samar-samar. Memperhatikan penampilanku, apakah sudah pas atau belum. Hingga aku tidak sadar bahwa...

Sampai! Akhirnya bus yang aku tumpangi menurunkanku tepat di Janti. Sebelum turun aku sempat menghela nafasku pelan, untuk mengusir deru jantungku yang berdegup kecang.

Aku:

"Ta, aku di minimarket."

Nanta:

"Oke! Tunggu lima menit, aku sampai disana."

Deg! Lima menit? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus duduk? Berdiri? Mengabsen satu persatu orang yang lewat di depanku dan berteriak memnggilnya jika wajahnya mirip dengan Nanta? Atau aku pura-pura cuek saja dan mainan handphone? Oke! Semua opsi itu aku pilih, aku akan berdiri, menatap jalanan Jogja yang ramai sambil memainkan handphone. Akh, kenapa rempong banget sih aku!

Akhirnya sekitar lima menit lebih sedikit. Karena sejak tadi aku terus melirik jam yang aku pakai. Sebuah motor sport berwarna merah maroon berhenti di depanku. Pikiranku bertambah kacau, aku yakin bahwa orang yang memarkir motornya di depanku ini adalah Nanta. Aku mengangkat mukaku, dan jleb! Seorang cowok di atas kemudi itu tersenyum padaku.

"Nanta?!"

*** 

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang