Empat

543 18 1
                                          

Aku berfikir sesaat, benar juga apa yang dikatakan cowok itu. Kenapa aku harus terlihat lemah didepan Doni, padahal cowok itu tidak memperlihatkan perasaan iba sedikitpun kepadaku. Justru didepanku Doni malah seperti ingin memperlihatkan bahwa dia lebih bahagia tanpa aku, dan sudah melupakan semuanya saat bersamaku.

Nanta:

"Ra, kok diem?"

Aku:

"Nggak Ta, lagi berfikir aja."

Nanta:

"Mikir apa lagi Ra?"

Aku:

"Mikir bahwa yang kamu omongin itu benar Ta"

***

Aku berjalan sendirian diantara pohon-pohon rindang yang ditanam sepanjang jalan didalam kampusku. Aku ingin menikmati semilir angin sebelum masuk kedalam kelas, mendengarkan gemerisik dedaunan yang disapu angin sambil menikmati matahari. Kulihat beberapa helai daun berwarna kuning berterbangan dilangit karena tertiup angin, meninggalkan ranting yang selama ini menjadi tumpuannya hidup dan memilih menjatuhkan helaiannya diatas tanah.

Aku tersenyum, mengingat kata-kata Nanta padaku tadi malam. Benar apa kata cowok itu, bahwa aku harus terlihat kuat didepan Doni, seseorang yang tiba-tiba saja meninggakanku dengan alasan konyolnya beberapa minggu lalu, dan akhirnya kini aku menemukan jawabannya, bahwa dia bukannya jenuh denganku, namun sudah menemukan seseorang yang dipikirnya jauh lebih baik daripada aku. Oke, aku terima!

Kita adalah pasangan yang serasi, itu kata teman-temanku setiap melihat aku dan Doni jalan berdua. Sudah mirip dengan Rama dan Shinta, atau Romeo Juliet dan yang lainnya, karena dimana ada Doni disitu pasti ada aku. Tapi sekarang ketika kami putus, predikat Rama-Shinta atau Romeo Juliet itu sudah mulai terhapus dari ingatan semua orang. Jangankan untuk saling menyapa atau menebar senyum satu sama lain, untuk bertatap muka saja rasanya terasa berat. Apalagi untukku, aku sudah tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun ketika bertemu dirinya. Setiap bertemu tak ada rasa yang kusematkan didalam hatiku untuknya selain rasa kecewa dan "benci" yang mulai tumbuh didalam hatiku dan tak bisa aku cegah begitu saja.

Ting!

Tiba-tiba handphone yang sejak tadi kupegang berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

0878128XXXXX

"Siang-siang kok jalan sendirian."

Aku menghentikan langkahku, aku yakin si penulis SMS itu berada disekitar tempatku berdiri saat ini. Aku memutar kepalaku, berharap seseorang yang menulis pesan dan sedang menganggu imajinasiku itu ada disekitarku. Benar saja, lagi-lagi Galih, cowok itu sudah tersenyum dan berjalan kearahku. Lagi-lagi dia, dan aku mulai malas!

Aku menghela nafas panjang. Getol banget cowok itu mencari tahu nomor ponselku, setelah semalam aku hanya memberikan sebuah angka dari duabelas digit nomor ponselku, yaitu angka nol. Aku yakin, pasti semalaman dia tidak tidur dan mengirimi pesan teman-temannya satu persatu untuk meminta nomor teleponku, atau mungkin dia langsung meminta kepada salah satu teman sekelasku, dan dia pasti mendapatkannya dengan mudah.

Cowok itu masih berdiri dengan senyuman khasnya didepanku. Aku mulai memperhatikannya, dari ujung rambutnya yang tampak klimis karena minyak rambut Pomade, sampai sepatu olahraganya yang terlihat serasi dengan jaket baseball warna hitam dan jeans biru yang dipakainya. Banyak yang bilang, kalau Galih adalah salah satu tipe cowok ideal dari 75 % cewek yang kuliah di kampusku. Mereka bilang, Galih adalah seorang yang baik, perhatian, ramah dan penyayang. Tapi entah kenapa, justru aku merasa risih dengan segala tingkah lakunya padaku akhir-akhir ini. Mungkin karena saking ramahnya, sehingga dia selalu menebar senyum padaku disetiap kesempatan kami bertatap muka.

"Kamu...dapat nomorku dari siapa?" Tanyaku to the point. Mungkin itulah kata yang tepat kulontarkan padanya karena tiba-tiba saja dia sudah mengirimi aku pesan. Rasanya agak kesal juga setelah aku berusaha untuk tidak menyebarkan nomorku padanya, namun dia mendapatkannya begitu mudah dari orang lain.

Galih tersenyum.

"Ada deh. Nanti kamu marah sama dia kalau aku kasih tau." Katanya kemudian berjalan lebih dekat kearahku.

Aku menghela nafas panjang. Aku tidak boleh memperlihatkan perasaan kesalku padanya.

"Dari Noni?"

Galih menggeleng.

"Alex?"

Galih menggleng.

"Ben, Dodi, Dwi ,Erna, Siska?" Aku berusaha untuk menyebutkan satu persatu teman-teman se-Fakultasku yang jumlahnya seabrek itu. Aku yakin diantara nama yang kusebutkan itu pasti ada salah seorang yang memberikan nomorku pada Galih.

Galih tetap menggeleng. Dia tertawa geli melihat apa yang sedang aku katakan.

Aku kembali menghela nafas. Ingin segera berbalik pergi meninggalkan cowok itu. Bodo amat jika akhirnya dia mendapatkan nomor teleponku. Aku hanya tidak usah membalas pesannya ketika dia SMS dan tidak mengangkatnya jika dia telepon.

"Ya sudah, aku mau ke kelas." Kataku berbalik arah.

"Ra, tunggu!" Galih menahanku dengan memegang lenganku.

Aku terkejut dan seketika menoleh, berani-beraninya ya dia pegang-pegang tanganku. Kenal saja nggak, dekat apalagi. Aku hampir saja memukulnya, kalau dia tidak segera menjauhkan tangannya dari lenganku.

"Sorry Ra, reflek!" Katanya melepaskan tangannya dari lenganku. Dia terlihat sedikit merasa bersalah, apalagi ketika melihat bola mataku yang sudah hampir keluar, hendak menampar mukanya yang menyebalkan itu.

"Kenapa sih?!" Suaraku meninggi. Perasaan kesal yang sejak tadi aku pendam didalam hati akhirnya keluar juga.

"Aku cuma mau ajak kamu makan malam." Jawabnya kemudian. Menatap mataku, berharap aku bisa mengatakan "Iya" dengan cepat, secepat tangannya yang memegang lenganku tadi.

Aku menggeleng.

"Ma'af, malam ini aku ada acara sama Noni." Jawabku lugas namun sebenarnya berbohong. Bagaimana aku bisa jalan dengan seseorang yang bisanya membuat mood-ku berubah menjadi jelek hanya dalam waktu hitungan detik seperti tadi. Oke, aku akui kalau Galih cukup tampan dan gayanya kekinian. Namun apakah semua hal harus diukur dengan modal tampan dan gaya yang kekinian? Bukankah ada ha lain yang lebih dari itu, yaitu "rasa nyaman", dan aku sama sekali tidak mendapatkan itu dari Galih. Hanya perasaan kesal saja yang muncul dari benakku ketika melihat wajahnya, meskipun aku tahu dia tidak pernah membuat kesalahan padaku.

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang