Satu

2.1K 39 0
                                          

Aku menarik nafas pelan, kupandangi beberapa tumpukan kardus yang kuangkat sendirian tadi dari dalam mobilku. Kardus-kardus yang berisi peralatan dan barang-barangku yang kubawa dari kontrakanku di Surabaya, dan kini beralih tempat ke kontrakanku yang berada di Solo. Iyap! Aku dipindah tugaskan oleh perusahaanku, untuk pindah di Solo karena ada cabang baru dikota ini.

Aku tersenyum, tepatnya sudah lebih dari 7 tahun aku meninggalkan kota ini dan bekerja di Surabaya, dan seperti takdir yang menarikku untuk mengenang kota ini, aku kembali. Kembali untuk bekerja disini, dan menghabiskan hari-hariku kembali disini. Menikmati kota Solo yang menyenangkan. Aku bisa sepuas hati menikmati Nasi Liwetnya, atau Timlo dan Serabinya setiap hari. Menyenangkan bukan?! Makanya ketika atasanku menawarkanku untuk pindah ke Solo, tanpa berfikir lagi aku langsung berkata. "Iya!"

Beberapa kotak kardus yang kubawa sudah terlihat berdebu. Bukan apa-apa, kotak kardus itu masih tetap begitu ketika aku membawanya ke Surabaya setelah hari kelulusanku, sama sekali tidak kubuka sedikitpun sejak waktu itu, sampai saat ini, ketika takdir memanggilku kembali ke kota ini. Memang aku pernah berniat untuk membuangnya, namun isi didalamnya kurasa begitu sayang jika harus kubuang begitu saja, siapa tahu suatu saat nanti aku masih membutuhkannya.

Dan mungkin hari ini adalah hari itu, ketika aku memang harus membukanya dan memilah-milah barang apa saja yang masih berguna, yang sekiranya masih bisa kupakai dan bisa masuk kedalam kontrakanku yang lebih kecil daripada kontrakanku di Surabaya.

Hampir saja aku bersin-bersin ketika tutup kardus itu kubuka dan debunya berhamburan disekitar wajahku, maklumlah hidungku sangat sensitif, sekali kena debu pasti akan melakukan penolakan, yaitu bersin-bersin sepanjang waktu.

Aku tersenyum, ketika hal pertama yang kujumpai ditumpukan paling atas adalah sebuah buku catatanku waktu kuliah, dengan coretan tanganku yang khas dan tulisan-tulisan lainnya yang pernah membuatku pusing dua hari dua malam karena harus menghafal catatan-catatan itu ketika hari ujian tiba. Di tumpukan kedua kulihat sebuah buku catatan harianku, yang berisi jadwal-jadwal seminar dan undangan-undangan lainnya.

Di tumpukan ketiga aku tertegun sejenak, sebuah buku catatan mini berwarna cokelat dengan hiasan batu-batu kecil berwarna biru yang ditempel disampulnya terlihat sudah mulai memudar dimakan usia. Aku mencoba mengingat buku itu, sebuah sayatan kecil terasa lembut menggores hatiku ketika kuangkat buku itu dan kubuka halaman per halaman. Di dalam buku itu kulihat fotoku beberapa tahun lalu, aku terlihat masih muda, dan terlihat rambut panjangku yang tergerai dengan bebas menutupi pundakku. Aku menghela nafas panjang, bukan fotonya yang membuatku memikirkan sesuatu, namun seseorang yang mengambil gambar itu untukku. Nanta!

***

Tujuh tahun yang lalu.....

"Fira!" Suara Noni sahabat sekampus plus sahabat satu kosku mengagetkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang, dimana sahabatku itu duduk tepat di belakangku.

"Ngelamun ya!" Serunya lagi sambil memasukkan buku yang ada di depannya kedalam tas. Aku sedikit bingung melihat sahabatku itu sudah memberesi buku-buku pelajarannya.

Aku menoleh kedepan, dimana dosenku yang sejak tadi membicarakan tentang pelajaran ternyata sudah melangkah keluar dari dalam kelas. Astaga! Rupanya kuliah sudah usai dan aku tidak sadar!

"Ni... kuliah sudah selesai ya?!" Tanyaku tanpa menoleh kearah Noni, aku juga mengikuti langkah cewek itu memasukkan buku-buku kedalam tas punggung warna hitamku. Meskipun aku tahu, sejak tadi buku pelajaran dan tulisan-tulisan dipapan tulis itu sama sekali tidak mengena diotakku. Jadi aku hanya mengeluarkan dan memasukkan buku itu tanpa arti dan pura-pura mendengarkan saja setiap kali dosenku menerangkan.

Wind (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang