29

11K 710 30

"Kita menginap?" Carissa menatap Maxim heran saat lelaki itu membawanya masuk ke dalam hotel.

"Iyaa," jawab Maxim singkat, setelah memesan satu kamar pada resepsionis, lalu mereka berjalan menuju kamar hotel.

Carissa mengernyit. "Kenapa?" Tanyanya dengan suara pelan, membuat Maxim tidak dapat mendengarnya. Carissa mengikuti Maxim yang sudah mendahuluinya.

Setelah sampai di kamar, Carissa menanyakan kebingungannya pada Maxim. "Kenapa harus menginap, kalau kita punya tempat tinggal sendiri?"

Maxim menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menatap Carissa. "Varrel sudah ke sana."

Seketika Carissa menarik nafas. Ia terkejut mendengarnya. Tangannya mulai meremas roknya dengan cemas. Mereka baru saja menikmati perjalanan walaupun hanya sebentar, kini mereka kembali merasa gelisah. Carissa tidak tahu sampai kapan hidupnya seperti ini. Ia tidak pernah merasa tenang.

"Max, aku harus bagaimana?" Carissa tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia lelah dan juga takut.

Maxim mendekat, meraih bahu mungil Carissa ke dalam pelukannya, lalu mengusap puncak kepala Carissa dengan lembut.

"Semua akan baik-baik saja," ujarnya dengan suara yang menenangkan. Ya, itu yang ingin Carissa dengar. Karena, mulai detik ini ia akan mempercayai setiap perkataan Maxim. Hanya lelaki itu yang bisa melindunginya.

Carissa mendongak, menatap Maxim.

"Ada apa?" Tanya Maxim.

Carissa menggeleng, lalu menatap Maxim lekat. "Saat aku bersamamu, semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya itu."

Maxim mengakui, ia cukup terkejut mendengarnya. Ia merasa sesuatu yang sangat menyenangkan dari dirinya, saat mendengar perkataan itu dari Carissa. Maxim tidak tahu bagaimana lagi harus menahannya. Ia mengusap pipi lembut Carissa lalu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Carissa. Maxim membuka sedikit matanya untuk melihat Carissa.

Mata Carissa terpejam, membuat Maxim mulai melumat bibir Carissa dengan lembut dan perlahan.

Maxim meraih tangan Carissa ke bahunya dan gadis itu merespon dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Maxim. Maxim mengangkat tubuh mungil Carissa dan membawanya berbaring di ranjang. Lalu Maxim melepas tautan bibir mereka dan saling menatap.

Carissa terengah-engah kehabisan nafas, membuatnya terlihat seksi di mata Maxim. Maxim sangat ingin melanjutkannya, tapi ia takut tidak mampu menahannya. Ia mengecup kening Carissa lembut lalu berbaring di samping gadis itu.

"Maaf aku tidak bisa menahannya."

"Kau tidak perlu menahannya."

Perkataan Carissa membuat Maxim menoleh menatap Carissa yang berbaring di sampingnya. "Hati-hati dengan kata-katamu Carissa."

Carissa ikut menoleh dan menatap wajah Maxim yang sejajar dengan wajahnya. "Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin merusak masa depan yang kau inginkan itu."

Maxim ternyata sudah mengerti. Selama ini Maxim melihat betapa giatnya dan begitu besarnya keinginan Carissa untuk meraih apa yang inginkan. Maxim tidak ingin merusak itu dengan keegoisannya. Maxim memilih untuk mengalah.

Maxim mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar lalu tak lama kemudian memejamkan matanya.

Sedangkan Carissa masih menatap Maxim. Ia bersyukur Maxim sudah tidak memandangnya, karena ia merasa wajahnya memerah dan panas sekarang. Carissa heran kenapa jantungnya masih saja berdetak seperti baru selesai lari.

Ia ingin mengalihkan pandangannya, tapi ia tidak bisa melakukannya. Garis wajah Maxim terlalu sempurna untuk dilewatkan. Carissa mengerti perasaan apa ini. Tapi ia belum yakin apakah perasaan ini hanya sesaat atau tidak.

"Tidurlah ini sudah larut." Maxim masih dengan posisi yang sama, menyadari bahwa Carissa belum tidur.

Carissa yang mendengar itu, langsung tersadar dari lamunannya. Carissa bukannya menurut, ia terus memandang wajah Maxim, sampai ia kelelahan dan tertidur.

***

"Hei."

Carissa merasakan seseorang mengguncang tubuhnya dan menepuk pipinya pelan. Karena itu Carissa terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapat Maxim duduk di sisi ranjang dan tersenyum padanya. "Kau masih ngantuk?" tanya Maxim.

"Jam berapa ini?" tanya Carissa balik. Ia merasa baru saja tidur dan matanya terasa begitu berat.

"Tidurlah. Kau terlihat masih ngantuk."

Carissa mengernyit. "Kenapa kau membangunkanku?" Carissa berusaha melawan rasa kantuknya dan mengubah posisinya menjadi duduk.

Maxim tersenyum tipis. "Tidak kenapa-kenapa. Aku ingin kita pergi dari sini. Tapi kau sepertinya masih ngantuk, tidurlah."

"Ada apa? Apa ada masalah?"

Maxim menghela nafas, "sebenarnya kita harus meninggalkan kota ini."

"Kalau begitu kita harus pergi." Carissa bersiap untuk turun dari ranjang, namun Maxim menahannya.

"Tidak apa-apa?" Tanya Maxim.

Carissa tersenyum simpul. "Tidak pa pa."

***

Carissa masuk ke dalam mobil yang dibukakan Maxim untuknya, seperti biasanya. Mereka sama sekali tidak membawa pakaian atau semacamnya. Namun, Maxim memiliki beberapa pakaian yang ada di mobilnya.

Carissa terpaksa memakai kaus Maxim yang kebesaran di tubuhnya, lagi. Mereka segera pergi meninggalkan kota itu.

"Kita kemana?" Tanya Carissa.

Maxim menghela nafas frustrasi. "Entahlah. Setidaknya kita harus keluar dari kota ini."

"Lalu bagaimana keadaan di rumah? Apakah Nancy baik-baik saja?"

Maxim menggenggam tangannya dan menoleh ke arah Carissa. Maxim sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi rumahnya di Portland, sehingga ia tidak menjawab pertanyaan Carissa itu.

"Tidurlah, kau masih ngantuk kan?" Maxim kembali fokus pada jalan.

Carissa melepas genggaman Maxim dan mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Maxim kembali menghela nafas. Mereka sedang dalam keadaan sulit. Varrel sudah mengetahui keberadaan mereka dan sedang mengejar mereka. 

Sudah dua jam perjalanan. Maxim bersyukur tidak ada halangan. Ia menghentikan mobilnya di pom bensin, untuk mengisi minyak.

Setelah mengisi minyak, tiba-tiba sepeda motor melewati mobil Maxim dengan kecepatan penuh, lalu disusul sepeda motor lainnya. Maxim dapat menghitung berapa sepeda motor yang sudah mendahuluinya.

Carissa menoleh ke arah Maxim dengan sorot cemas.

Kumpulan pengendara sepeda motor itu, kini berhenti beberapa meter dan menghalangi jalan Maxim. Maxim terpaksa menghentikan mobilnya.

"Siapa mereka?" Tanya Carissa.

Maxim berdecak saat melihat beberapa mobil mengepung mereka di belakang. Maxim menoleh ke arah Carissa lalu memeluk gadis itu dengan erat.

"Varrel sudah menemukan kita."

***

Jangan lupa kasih vote yaa
Terimakasih❤

MY MYSTERIOUS BODYGUARDWhere stories live. Discover now