Candy Boy (Chapter 15)

1K 249 38
                                          

     Sehun berhenti bergerak. Sumpit yang ada ditangannya terletak kembali kedalam mangkuk. Mulutnya yang sedang mengunyah mendadak kaku. Dengan keterkejutan itu, ia alihkan pandangannya dari mangkuk menuju wajah Yoona. Ternyata Yoona juga sama sepertinya. Tak bergerak. Juga tampak kaget. Yoona juga tengah menatap Sehun. Menatapnya tak percaya. Tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Pandangan Yoona pelahan turun. Dari mata Sehun menuju tangannya. Tangannya yang sedang menyeka kuah Jjampong didagu Sehun.

     Ia sadari itu. Mata Sehun yang tengah menghunjam matanya tampak sangat menakutkan. Menakutkan? Begitulah menurutnya. Dengan sangat cepat Yoona tarik kembali tangannya dari wajah suaminya itu. Keheningan menguasai meja makan. Yoona sudah terlalu takut untuk bergerak sedangkan Sehun masih saja menatapnya dengan ekspresi yang sangat membingungkan. Tak jelas apakah marah atau apa.

     Mata Yoona sibuk mencari objek lain untuk ia lihat. Terlalu menakutkan jika melihat kearah Sehun, karena ia tahu itu. Sehun masih melihat kearahnya. Pikiran Yoona mulai disibukan dengan berbagai macam pertanyaan.
     Ada apa denganku?
     Kenapa tanganku menyentuh wajahnya?
     Sejak kapan aku memiliki pemikiran untuk melakukan hal semacam itu?!!

     Suara dentingan sumpit dan mangkuk kaca terdengar. Disusul dengan suara seseorang menyeruput kuah dengan nikmat. Yoona reflek menoleh ke Sehun. Ya, suaminya itu kembali menikmati Jjampongnya. Dan dari ekspresi yang tampak, mimik wajahnya terlihat sangat datar. Menunjukan bahwa ia tidak mempermasalahkan apa yang tadinya Yoona perbuat.

     Tak mungkin pergi begitu saja. Yoona telan baik-baik rasa takut yang tengah mengganggunya. Ia paksa tangannya untuk kembali meraih sumpit. Dengan debaran jantungnya yang perlahan membaik, Yoona lanjut menikmati Jjampong miliknya.

     Sehun menyelesaikan santapannya lebih dulu. Tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan meja makan lalu masuk kedalam kamar. Tinggallah Yoona dimeja makan dengan Jjampong miliknya yang masih tersisa sangat banyak. Karena Yoona mendadak kehilangan nafsu makannya.

     Tidak ada niat untuk lanjut menyantap, Yoona angkat mangkuk miliknya beserta milik Sehun. Langsung ia cuci kedua mangkuk itu. Aktifitas itu menghentikan kegusarannya sejenak. Ia nikmati kelembutan busa yang ada ditangannya. Lalu dinginnya air keran yang mengenai tangannya. Tanpa sadar, ia telah bermain air di wastafel dapur selama 10 menit lamanya.
     “Kau akan terus seperti itu?”

     Suara Sehun membuatnya reflek mematikan air keran. Yoona keringkan tangannya dengan kain lap yang ada disamping wastafel, lalu berbalik menghadap suaminya itu—yang ternyata sudah berdiri dibelakang meja makan menatapnya.

     Sehun sudah mengganti setelan pakaian kantornya dengan kemeja hitam polos dan overcoat berwarna senada. Dari pakaian yang ia kenakan, tampaknya ia hendak pergi. Yoona yang tak berani bertanya memilih menyusun mangkuk yang tadinya ia cuci di rak stainlees.

     Lagi-lagi Sehun menatapnya dengan sorot mata yang tak terbaca. Ekspresi datar di wajah tampannya juga semakin membingungkan. Dan Yoona dapat merasakan itu, sorot tajam suaminya terus mengikuti setiap pergerakan yang ia lakukan. Membuatnya merasa tak nyaman karena telah diamati seperti itu.
     “Kenapa?”
     Entah mendapatkan keberanian dari mana, Yoona berhasil mengatakan itu. Ia balas tatapan Sehun dengan mimik wajahnya yang dipaksa agar tampak tenang. Mata mereka betemu pandang. Seketika Yoona merasa bahwa dirinya tengah diperhatikan lekat-lekat, suaminya itu seakan tengah merenungkan sesuatu yang tentunya berkaitan dengannya.
     “Ikutlah denganku. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
     “Siapa?”
     “Kau akan segera tahu.”

--

     Mereka melangkah keluar dari gedung resort. Berjalan santai di tepi jalan dengan pepohonan yang mengiringi dari sisi kiri ditambah pemandangan arena ski yang tampak di sisi kanan disepanjang langkah mereka.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now