Bab 8. (Hasbi's alter-ego)

679 36 0

Ustad in love


Bab 8.

Hasbi's alter-ego

.
.
.

(Warning : Segala hal yang kutulis didalamnya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, typo, gaje, absurd but this story is mine.)

.
.
.

~Aku ataupun dirinya, tak bisakah kau pahamai bahwa kami adalah satu?~

.
.
.

Hasbi pov.

Alter ego, sebuah kondisi dimana seseorang membentuk karakter lain dalam dirinya secara sadar. Aku tau itu, bahkan kuakui aku salah satu penderita alter ego. Aku baru menyadarinya saat awal masuk sekolah menengah pertama. Entah karena pergaulanku atau karena merasa sedikit bosan dengan perlakuan orang-orang di pesantren yang sama sekali tak bisa kubayangkan. Gus Muzaki yang begitu dihormati dan disegani, jujur aku kurang nyaman saat semua orang menghormatiku secara berlebihan bahkan santri yang umurnya lebih tua darikupun menunduk atau yang lebih parah duduk bersimpuh saat aku berjalan melewati mereka. Ayolah, ini bukan zaman kerajaan dimana orang-orang akan melakukan hal yang sama seperti itu.

Aku juga sering menanyakan ini pada abi tapi jawabanya sama sekali tak membuatku puas. Beliau bilang memang seperti itu adabnya seorang santri pada ulama'. Yah, aku tau itu, dalam islam itu dikenal dengan tawadhu' dan memang kuakui, ada hikmah tersendiri saat bersikap seperti itu. Sikap yang memang melekat pada santri sedari dulu.

Tapi salahkah aku jika berfikir logis? Entah mengapa jauh dari lingkungan pesantren membuatku lebih merasa hidup. Ya, kau benar. Setelah lulus sekolah dasar aku melanjutkan pendidikanku di luar  kota. Jauh dari pengawasan dan peraturan-peraturan pesantren yang membuatku terkekang dan mungkin itulah yang membentuk diriku menjadi sosok seperti sekarang. Dingin, tak tersentuh dan penampilanku terlalu jauh dari kata alim. Tapi apa peduliku?

"Bi, ingatlah! Sekarang kau sedang menjadi Gus Zaki!" Entah ini untuk keberapa kalinya mas Ridwan mengingatkanku.

"Hn." Jawabku acuh sembari mengekorinya menuju gedung megah dengan dekorasi yang mampu menyilaukan mata.
Kami menghadiri pernikahan saudara dari mas Rizal, sahabat kakakku sekaligus seniorku saat di UGM dulu. Yah, dulu aku pernah kuliah disana dengan gelar sarjana ekonomi yang sudah kuperoleh. Terlalu banyak masa lalu yang suram dan tak ingin ku ungkit lagi.

Aku tersenyum tipis dan memberikan salam balasan saat beberapa orang dengan pakaian serba putih serta peci hitam yang mereka kenakan menyapa kami. Mereka adalah beberapa kyai yang kutahu berasal dari daerah Rembang, tempat mas Rizal berasal. Pantas saja tadi pagi mas Ridwan menyuruhku untuk berpenampilan seperti ini. Dengaan baju koko putih, peci, meski aku tetap kukuh memilih mengenakan celana bahan daripada sarung. Bahkan rasanya rahangku pegal karena terus tersenyum sejak tadi.

Acara berlangsung meriah dan lancar, iya lancar sebelum netraku menagkap sosok gadis yang tengah bercengkrama dengan beberapa orang di sudut ruangan. Dania, sepupu gadis dari masa laluku.
Entah kenapa oksigen seakan lenyap saat aku melihat senyum itu. Rasanya sungguh sesak. Seakan dadaku tertimpa beban ribuan ton dan saraf di tubuhku lumpuh total.

Jangan lagi, kumohon jangan lagi.

"Bi, kau baik-baik saja?" Bisik mas Ridwan namun entah kenapa bahkan kini lidahku terasa kelu. Tak ada satupun kata yang berhasil keluar. Sesak, rasanya semakin sesak bahkan kini pandanganku mulai mengabur. Hanya suara panik mas Ridwan dan juga kata 'mas Zaki' yang sempat kudengar sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!