02 - The Heart Beats

70 27 2

Selepas bel berbunyi pertanda pelajaran hari ini berakhir, seperti biasanya Annet langsung pulang kerumah, meskipun teman-teman di kelas sedang ribut menentukan kemana mereka akan hang out hari ini. Bukannya Annet tidak diajak, teman-teman selalu mengajaknya, hanya saja Annet tidak bisa melakukannya.

Truthfully, Annet tidak benar-benar memiliki teman yang sangat dekat dengannya. Teman yang dapat Annet bagi cerita bersama. Teman pulang dan pergi ke sekolah. Teman yang dapat melakukan segala hal yang anak SMA lakukan dalam pertemanan. Dan sedihnya, Annet baik-baik saja dengan itu, atau mungkin saja cewek itu terlalu pandai menutupinya dari teman-teman nya di kelas.

Sepanjang jalan, pikiran Annet kembali teringat adegan dikantin tadi. Annet bertanya-tanya adakah cowok zaman sekarang yang masih seformal itu saat berbicara? Dan kenapa juga ia harus menceritakan setiap alasan mengapa ia menabrak Annet dengan alasan ia tidak ingin terlihat berengsek di mata Annet.

Tidak ada seorangpun yang menceritakan alasan apa yang ia punya kepada Annet, meskipun karena cowok itu memang salah, tapi Annet benar-benar senang, untuk pertama kalinya seseorang melakukan itu padanya. Sayangnya Annet tidak mengetahui siapa nama cowok itu.

Heart's don't break around here milik Ed Sheeran terputar melalui headset yang terpasang di kedua telinganya. Jalanan besar sudah tidak jauh lagi, sesekali Annet bersenandung mengikuti lirik. Tapi saat Annet melangkahkan kakinya turun dari trotoar, sebuah motor berhenti di sampingnya. Cewek itu tidak menyadarinya hingga lengannya ditarik, Annet baru berhenti dan melihat kebelakang.

"Ya ampun, lo bikin gue kaget aja!" seru Annet menarik tangannya dari genggaman cowok yang ada di motor, kemudian Annet melepas sebelah headsetnya.

"Maaf, tapi gue sunguh-sungguh dengan perkataan gue sebelum lo pergi tadi. Atau jangan-jangan lo nggak mendengarnya?"

Annet kebingungan dan mengerutkan keningnya mengingat-ingat apa yang cowok itu katakan terakhir kali dikantin padanya. "Gue nggak inget," ucap Annet jujur.

"Lo bukan nggak ingat, tapi nggak mendengarnya! Gue bilang, pulang sekolah lo ikut kerumah gue untuk buat donat yang waktu itu gue jatuhin."

"Honestly gue nggak perlu pertanggung jawaban lo, okay? Lo jatuhin itu karena lo nggak sengaja nabrak gue pagi itu. Lagian gue nggak rugi karena donatnya tetap laku sama anak-anak di kelas." ucap Annet mengingat anak-anak tidak mempedulikan kalau donatnya sudah jatuh, mereka bilang belum 5 menit kan Net? Sontak saja Annet mengangguk mengiyakan.

"Oh satu lagi, makasih udah berlaku baik sama gue. Tapi maaf, gue benar-benar nggak butuh pertanggung jawaban dari lo."

Mendengar penolakan dari Annet, Kafka hanya bisa terdiam. Namun beberapa saat ia berkata, "Tapi gue mau pesan donat buat ulang tahun pacar gue besok, dan gue mau lo buatnya di rumah gue. Gimana?"

"Gue nggak bisa." ucap Annet kembali menolak.

Kafka mendesah, "Gue bakal gaji lo buat bikin donat dirumah gue. Masih mau nolak?"

"Kenapa lo bisa berpikir kalau lo kasih gue uang dan gue nggak akan nolak?" tanya Annet geram.

"Karena pasti uang itu akan berguna buat lo," balas Kafka tersenyum pada Annet.

"Ok, lo menang." ucap Annet pasrah. Adrian benar, ia pasti membutuhkan uang itu.

"Ayo naik,"

"Lo ngajak gue kemana?" tanya Annet menaikan sebelah alisnya.

"Rumah gue. Udah ayo cepet, keburu sore." ucap Kafka memberikan sebuah helm pada Annet.

"Gue nggak bisa hari ini," ucap Annet menatap helm yang disodorkan padanya.

Remains Of The DayBaca cerita ini secara GRATIS!