5: Mama

16.2K 2.1K 58

Andra

Rasanya gue masih malu. Sumpah. Gue mendapatkan nomor Adira dengan cara yang konyol. Mana kata-kata gue lebih mirip kayak om-om mesum yang mau ngegangguin anak gadis yang habis diajak ngobrol.

Iya, gue tahu umur gue sudah macam om-om, tapi kan Adira bukan gadis lagi. Maksud gue, umur kami kan tidak begitu jauh. Oke. Jangan bahas umur.

“Nomor saya? Untuk?”

Salah gue dari awal sih. Kalimat gue terlalu ambiguistis. “Buat besok, biar saya bisa ngabarin juga gitu,” balas gue, berusaha menyelamatkan diri. “Tapi kalau nggak juga yah, gapapa.”

Kebodohan memang. Gue nyaris berpikir Adira akan menolak untuk memberikan nomornya, mana gue juga sudah bilang nggak apa-apa. Tapi untungnya, keberuntungan memang teman baik gue. Akhirnya Adira memberikan nomornya juga.

Begitu dapat nomornya, gue justru takut sendiri. Canggung rasanya kalau tiba-tiba menelpon apalagi mengingat ekspresi Adira yang kelihatan bingung bercampur setengah tidak ikhlas.

Mungkin itu hanya sekadar kesoktahuan gue, tapi bagaimana pun gue tetap tahu posisi. Seenak jidat nelpon bos, besok-besok Papa langsung narik gue karena mendapat laporan anaknya tidak becus bekerja dari pimpinan redaksi—which is, Adira.

Karena masih ingin hidup baik-baik, gue memilih untuk mengirim pesan lewat Whatsapp begitu berangkat ke kantor.

Andra Mahendra S.

Pagi, Adira.
Saya sudah jalan ya. :)

Dan hanya beberapa menit, gue mendapatkan balasan dari Adira.

Adira Perdana

Pagi juga, Andra.
Oke, saya juga sudah siap.

Gue serius sewaktu mengatakan rumah Adira dan apartemen gue memang dekat. Hanya butuh sekitar 15 menit untuk sampai ke rumah Adira. Gue memarkirkan mobil di dekat trotoar, kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke pekarangan rumah Adira.

Awalnya gue terpikir untuk mengirim pesan lagi ke Adira, jadi gue merogoh saku. Tapi itu konyol sih, untuk apa buang-buang pulsa padahal bisa tinggal tekan interkom rumah dan orangnya langsung keluar? Sopan boleh, tapi jangan bego juga.

Tangan gue sudah siap untuk menekan interkom, hanya saja sebelum sempat melakukannya, pintu rumah tiba-tiba terbuka, membuat gue sedikit tersentak. Seketika gue mengambil langkah mundur hingga seorang anak kecil keluar dengan baju kotak-kotak yang menurut gue itu seragam sekolah.

“Aku duluan nih ya? Da—”

Suara anak kecil itu terhenti begitu dia melihat gue. Kepalanya menengadah dan mata bulatnya menatap ke arah gue. Rambutnya yang dikuncir dua itu bergoyang.

Canggung, gue hanya bisa balik tersenyum sambil pelan-pelan menyapa, “Halo.”

Sama anak kecil aja grogi gue.

“Eh, Dinda, ini bekal kamu belum lho.” Dari dalam terdengar suara teriakan lainnya, dan kali ini satu perempuan yang lebih besar muncul. Dia melihat gue sesaat dan tersenyum.

“Permisi,” kata gue, “ada Adira-nya?”

“Oh, bentar ya.” Dia kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. “Kakak, ini ada yang nyari nih!”

Dan tak butuh waktu lama terdengar sahutan dari dalam rumah. “Siapa?”

Perempuan yang ada di depan gue ini tidak menjawab, mungkin bingung juga gue siapa. Kepalanya masih menoleh hingga satu sosok lain muncul. Kali ini Adira yang muncul, berjalan dengan kakinya yang sedikit terseok, tapi lebih baik ketimbang kemarin. Ya, syukurlah. Dia membenarkan kerah kemejanya sebelum menolehkan kepalanya ke arah gue.

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang