Empat

40 14 0

"wah, ada siapa nih? Mutiara? Gue gak salah lihat kan?"

gadis bersurai gelombang itu tertawa saat melihat Mutiara.

"Gimana kabarnya? Udah gak punya mama papa lagi ya? Pasti sedih banget. Iya gak Bi?" Ujar gadis tersebut pada teman di sebelahnya yang surainya berwarna hitam kemerah-merahan itu.

Jessica dan Biency.

Kedua orang yang selalu menindas Mutiara di masa SMA-nya, atau mungkin lebih tepatnya kedua orang yang merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh Mutiara saat itu.

Mutiara yang mendengar hal tersebut tidak menunjukkan ekspresi wajahnya, dia lebih memilih diam dari mereka. Toh, juga memang kenyataannya yang dibilang sama mereka benar.

Biency hanya diam, dia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, ekspresi wajahnya cukup untuk menunjukkan seberapa angkuh dirinya.

Gion yang melihat hal tersebut hanya menaikkan sebelah alisnya, sedikit merasa tidak senang karena dirinya seakan tidak terlihat di tempat itu dan mendengarkan semua percakapan yang terbilang cukup mengiris hati seseorang.

Meski dirinya tidak begitu tau apa masalahnya, tetapi bagi siapapun yang berada di tempat Mutiara sekarang --- pasti merasa tersakiti.

Deg~

" Heh, emang kalau udah gitu kalian mau apa? Kalau masalah sedih gue rasa lu pada juga kalau di tinggali sama orang tua pasti sedih. Hush hush, heran gue cewek cantik kok kerjanya cuma bisa ginian doang. Yang lain sana kerjain" ucap Gion, menggantungkan tangannya pada bahu Mutiara, sedikit membungkukkan badannya agar dapat menyeimbangi tinggi Mutiara.

Jessica yang merasa tidak terima atas ucapan Gion, menghentakkan kakinya dan pergi dari tempatnya tersebut. Entah merasa malu atau apapun itu, begitu juga dengan Biency.

Keduanya pergi seakan terhempas oleh kata-kata Gion.

Gion yang melihat itu, tersenyum kemenangan. Membalikkan pandangannya hingga kedua manik tersebut saling bertemu.

Dirinya baru menyadari kalau jarak keduanya sangat dekat.

Mutiara hanya terdiam melihat mata hitam itu,tidak bergerak sama sekali dari posisi itu hingga dirinya tersadar dan membuang pandangannya kearah lain.

Gion yang merasa canggung menjauhkan tangannya dari bahu Mutiara. Mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal, wajahnya yang merah padam sangat kelihatan karena kulitnya yang putih, begitu juga dengan Mutiara.

"A...aku ambil minuman dulu ya" ucap Mutiara berniat kabur dari situasi yang rumit itu.

Gion hanya menggelengkan kepalanya, terlalu malu untuk nya mengeluarkan suara.

"Hei! Kok gak gabung sama yang lain?" Tanya James, melangkahkan kakinya ke arah Gion.

"Nemenin teman" jawab Gion.

"Wait? What heppen? Kenapa wajahmu merah, apa kau meminum alkohol atau hal lainnya?" Ucap James bertanya-tanya lantaran dirinya tau Dirga tidak mungkin menyediakan alkohol untuk para tamu.

James tau itu karena Dirga sendiri tidak tahan dengan minuman beralkohol, apa lagi di Indonesia minuman keras banyak di palsukan sehingga Dirga takut salah memilih minum keras yang terjamin.

"Tidak, aku hanya sedang merasa malu saja" sarkas Gion.

"Oh, kau jatuh hati? Pada siapa?" Ucap James yang tahu maksud dari perkataan Gion.

"Seseorang yang baru kukenal tadi"

* * *

Mutiara meneguk minumannya lagi, entah sudah yang keberapa kalinya dia meneguk minuman itu, yang dia inginkan sekarang hanyalah meredam amarahnya --- atau mungkin meredam malunya?

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang