Bagian 3.

13.3K 976 11
                                    

Alena sudah bangun pagi-pagi sekali. Ketika ayam sudah berkokok dan suara muadzin mesjid terdengar sayup-sayup. Udara di kampungnya cukup dingin, daerah yang masih asri dan terletak di pinggang gunung merapi, jarak rumah dengan puncak gunung hanya berkisar enam kilo meter. Tanah di sini begitu subur cocok untuk berladang dan berkebun, rata-rata warga desa menggantungkan hidup dari hasil kebun tebu.

Anak muda di kampung ini lebih memilih mengadu nasib keperantauan dari pada menjadi petani tebu, bagi mereka menjadi tukang kebun atau petani adalah pilihan terakhir jika memang tak ada lagi pekerjaan lain. Tingkat pendidikan disini masih rendah, anak anak usia SMP lebih memilih tidak melanjutkan ketingkat SMA, mereka lebih memilih pergi merantau atau bekerja di usaha konveksi rumahan.

Ayahnya asli di sini, merantau saat menikah dengan ibunya, mengadu nasib sambil melanjutkan pendidikannya, walaupun sudah mengahabiskan waktu berpuluh puluh tahun di rantau orang, ayahnya tetap mencintai kampung halaman, minimal pulang setahun sekali ketika lebaran, dengan atau tanpa Alena.

Ayahnya memiliki harta warisan yang sangat luas di kampung ini, luas kebun tebunya tak terukur, sejauh jauh mata memandang, kebun tebu itu milik ayahnya.

Kembali kesituasi saat ini, Alena melirik lantai tempat Jaka tidur semalaman, laki-laki itu menggeliat malas dan berlahan membuka matanya.

"Sudah subuh, ya?"

Pertanyaan itu lebih cocok untuk dirinya sendiri yang tidak perlu ditanggapi Alena. Pria yang cocok jadi adiknya itu, mengucek matanya dan melepaskan selimut yang menutup tubuhnya.

Alena bangkit dari ranjang, menyeret kakinya sambil meringis merasakan dinginnya lantai keramik kamar. Rasa dingin itu menusuk ke dalam tulang, pantas saja di sini orang lebih memilih membangun rumah dari kayu supaya lebih terasa hangat.

Beberapa menit kemudian dia melihat Jaka sudah mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Sepertinya Jaka bersiap-siap untuk shalat ke mesjid. Air wudhuk masih menetes dari dagunya, sekilas dia mematut penampilannya dicermin.

Oke, ini mungkin salah satu kelebihan yang bisa Alena terima. Suami yang lebih cocok menjadi adiknya itu adalah laki-laki yang rajin beribadah. Dia mungkin tidak begitu soleha, tapi dia menyukai laki-laki yang rajin sholat.

Jaka baru saja ingin meninggalkan gadis berkulit putih mulus itu, sebelum dia mendengar Alena memanggil namanya.

"Jaka, tunggu! aku ingin ikut." Alena segera membuka lemari pakaian dan mengeluarkan mukenanya dari sana. Jaka tersenyum sekilas, menatap istrinya yang kewalahan memasang mukenanya karena rambut panjangnya tidak diikat terlebih dahulu.

Akhirnya sepasang suami istri itu berjalan berlahan menuju mesjid yang cukup jauh dari rumah. Jalan aspal tidak terlalu besar, aspalnya pun seadanya, kerikil masih bertebaran karena jalan itu sudah mulai rusak.

"Kenapa dari dulu masyarakat di sini tidak berubah? Setidaknya mereka merelakan satu lampu di luar rumah supaya ada pencahayaan sampai ke jalan."

"Di sini orang-orang hemat energi listrik, Nona, " jawab Jaka, mereka berjalan beriringan.

"Ini bukannya hemat, tapi pelit," sanggah Alena.

"Masyarakat di sini tidak sekaya nona, uang lima ratus perak saja masih sangat berharga di sini."

"Oh ya?" Alena setengah tidak percaya.

"Betul, sekarang petani tebu sedang krisis, karena harga gula merah turun anjlok, banyak orang yang beralih ke pekerjaan lain seperti jadi tukang bangunan. "

Alena hanya mengangguk-angguk, tak terasa mereka sampai di mesjid kecil namun begitu banyak orang yang shalat berjamaah di sana, bahkan jamaah perempuan mencapai lima shaf, jamaah laki-laki tujuh shaf, Alena takjub, rasanya seperti shalat tarawih di bulan puasa.

Kondisi di sini berbanding terbalik dengan di kota, banyak mesjid besar dan mewah namun hanya didatangi oleh beberapa orang saja, itu pun yang datang itu-itu saja, orang yang berusia di atas enam puluh tahun, kalaupun ada yang muda-muda bisa dihitung dengan jari.

Alena terbiasa shalat jama'ah kemesjid, karena dari kecil ayahnya membiasakan membawanya setiap pergi shalat berjama'ah, dan kebiasaan itu masih dijalankannya sampai sekarang.

Untuk perkara ibadah, Alena cukup taat walaupun dia belum mengenakan hijab, namun selama ini dia selalu berpakaian tertutup, kemeja panjang dan celana longgar adalah ciri khasnya.

Suami Pilihan Ayah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang