Bagian 2.

14.7K 974 17
                                    

Entah sudah jam berapa, yang jelas sudah lebih dari tiga jam setelah Alena melemparkan bantal dengan geram kepada Jaka. Lihatlah Jaka, begitu gampangnya dia tertidur sedangkan Alena merasa ingin bunuh diri saat ini. Hidupnya tak ubah seperti drama, tiba-tiba saja sudah mendapatkan suami, seperti undian saja rasanya.

Jika ada kompetisi membuat kejutan paling hebat di dunia, Alena yakin ayahnya akan menang. Ayahnya selalu memiliki ide gemilang yang terkadang begitu aneh dan konyol.

Begitu hebat skenario ayahnya dalam memberikan kejutan demi kejutan dalam hidupnya. Mulai dari mengurus surat cutinya bekerja secara sepihak dengan alasan Alena harus pulang kampung untuk menyelesaikan sengketa kebunnya di desa, kemudian diikuti dengan kejutan yang lebih dahsyat lagi, tiba -tiba seorang laki-laki yang berumur kira-kira 27 tahun sudah duduk manis di kursi kecil di dalam kamarnya malam ini dan mengaku adalah suaminya.

Alena seharusnya tertawa dengan kelucuan yang dihasilkan oleh perbuatan ayahnya, mendapat suami mendadak tanpa persiapan sama sekali, seharusnya dia ke salon dulu melakukan perwatan tubuh menyambut sang suami, atau berdandan secantik mungkin, Alena tertawa masam.

Alena melirik ke lantai tak jauh di bawah ranjangnya. Pemuda kesayangan ayahnya itu terlihat santai dan begitu tenang, dalam hati Alena mengakui Jaka cukup mempesona. Dengan wajah tampan dan tubuh tegap idealnya dia cukup menarik. Untuk standar laki- laki yang tinggal di kampung Jaka termasuk yang paling unggul, tapi bukan berarti dia bisa menerima laki-laki itu sebagai suaminya. Banyak kriteria yang merupakan standar bagi Alena, yang pertama tentu usianya harus lebih tua darinya, setidaknya berusia tiga puluhan dan sudah matang, yang kedua harus memiliki karir yang mantap, setidaknya seprofesi dan memiliki pendidikan yang setara. Ketiga laki-laki itu harus bisa membimbingnya untuk lebih mencapai beberapa ambisi yang belum tercapai di hidupnya.

Sekarang kenyataannya tak satupun dari Jaka termasuk dalam kategori itu, mendekati saja tidak, dia masih jauh tertinggal dalam beberapa hal, usia, kemapaman, pengalaman dan kecerdasan. Di semua poin dia telah kalah.

Alena mangakui dalam tiga puluh tahun hidupnya dia tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Alena selalu sibuk belajar dan menghabiskan waktunya untuk menimba ilmu. Selama lima tahun terakhir ayahnya kerap menjodohkannya dengan banyak laki-laki, namun Alena selalu menolak dengan alasan tidak terfikir untuk menikah.

Mungkin inilah alasan ayahnya menikahkannya dengan Jaka. Akan tetapi Alena tak habis fikir kenapa harus tukang kebun itu yang menjadi suaminya. Andaikan dulu dia menerima salah satu pria yang di sodorkan ayahnya,  setidaknya dia menjadi istri seorang dokter. Menjadi istri dokter tidak terlalu buruk.

Alena kembali manatap lekat Jaka yang telah terlelap. Mencoba mencari apa kelebihan yang dimiliki laki-laki itu selain wajah tampan dan tubuh tegapnya. Alena menurunkan pandangannya pada dada bidang yang terbuka karena kancingnya terbuka sebagian. Alena bisa melihat betapa kokoh dada itu dengan bulu yang mengintip malu-malu, fisiknya bugar dan memiliki otot yang tak bisa diberi nilai enam, mungkin delapan lebih cocok, tidak ... menurut Alena sembilan koma satu cukup untuk nilainya.

Astaga, apa yang difikirkannya. Wajahnya memerah malu ketika menyadari pemikirannya sendiri. Alena mengejek dirinya sendiri, bukankah beberapa jam yang lalu dia terang-terangan menolak laki-laki itu. Perkara fisik bukanlah standar penting saat ini.

Alena kemudian membela dirinya. Mungkin dia berfikir begitu karena dinginnya malam yang membuat tubuhnya serasa beku, dia wanita dewasa yang memiliki hormon khusus seperti wanita lainnya, Alena kembali menggeleng, apa hubungannya hormon khusus dengan mukanya yang memerah. Akhirnya Alena kesal dengan dirinya sendiri, dan menenggelamkan kepalanya dibawah bantal.

Dia tak semudah itu mengagumi lawan jenis, sepertinya standar nilai Jaka harus diturunkan, mungkin delapan koma satu, tapi penilaian itu tidak objektif lagi menurut Alena, tiba- tiba merubah nilai karena kesal dan alasan khusus adalah tindakan yang tidak profesional.

"Sial," decak Alena pelan.

Suami Pilihan Ayah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang