(Bagian 1.)

26K 1.2K 18
                                    

Alena menghela nafas berkali-kali, kemudian menghembuskannya secara kasar. Setelah perdebatan panjang lewat telpon dengan ayahnya
Selama dua jam, dan diakhiri dengan memutuskannya secara sepihak, Alena mencoba menetralkan emosinya. Dia meyakini bahwa hidup penuh dengan kejutan, kadang kejutan dan kenyataan yang diinginan tidak berjalan beriringan. Apa yang diinginkan bukan itu yang didapatkan.

Sungguh, dia sangat lelah saat ini, kepalanya masih pusing dan perut terasa begah, dua jam naik pesawat kemudian naik bus selama enam jam berikutnya. Dia tidak bisa mencicipi makanan dan perutnya hanya dipenuhi oleh air. Satu hal yang di inginkannya saat ini adalah tidur, meluruskan tubuhnya serta menenangkan pikiran.

Dia adalah wanita karir yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk liburan, hidupnya hanya sekitar kampus, rumah dan perpustakaan daerah, tak ada yang istimewa, semua berjalan datar, tapi Alena menikmati semua itu, kehidupan yang dianggap orang begitu membosankan.

Dia melirik laki-laki yang mengamatinya dari tadi, tak ada ucapan apapun dari pemuda itu, dia terkesan datar dan tidak peduli, dia seperti security yang hanya bertugas menjaga keamanan, tanpa bicara, tanpa kata dan tanpa gerakan yang berarti.

Alena mendengus sekali lagi, laki-laki yang baru saja mengaku adalah suaminya itu hanya diam, kemudian merebahkan dirinya dengan santai sambil menengadahkan kepalanya kelangit-langit kamar dengan jari-jari yang saling bertaut. Entah apa yang difikirkannya, mungkin dia juga merasa bosan seperti Alena.

"Hei! kamu." Akhirnya Alena bersuara setelah dua jam mengendalikan diri, dia mengenali pria itu sekilas, tapi tidak begitu yakin karena saat ini laki- laki itu tumbuh sempurna menjadi pria dewasa yang sangat tampan. Dulu beberapa tahun lalu dia hanya remaja tanggung yang tak banyak bicara, dia hanya akan melakukan apa yang disuruh.

Pemuda itu menoleh kepada Alena dengan sedikit terperanjat, tersadar dari fikirannya sendiri.

"Ya?" Dia mengangkat kepalanya sedikit, menatap lurus wajah Alena yang terlihat malas malasan.

"Aku tak mengerti kenapa pernikahan ini terjadi tanpa secepat ini tanpa ayah memberi tahuku untuk datang. Aku memang menyetujui untuk menikah dengan pilihan ayah, tapi aku tak habis fikir kenapa malah pernikahan itu terjadi bahkan tanpa kedatanganku, banyak pertanyaan di dalam fikiranku, kenapa Ayah melakukan ini? kenapa kau pun menerimanya? setidaknya kalian memberikan kesempatan kepadaku waktu untuk berkenalan." Alena mendesah pelan dan tertawa getir.

Dia mengetahui bahwa ketika ijab qabul mempelai wanita tidak harus ikut menghadiri prosesinya, karena ketika rukun dan syarat terpenuhi maka pernikahan itu sah hukumnya.

Dia memang menyetujui menikah dengan pilihan ayahnya, karena seorang ayah pasti mencarikan pendamping yang paling baik, tapi apa ini? Suaminya seorang tukang kebun tebu keluarganya, yang benar saja, laki-laki ini terlalu jauh dari standar suami idamannya selama ini.

Pemuda di depannya menghela nafas pelan, kemudian menatap Alena dengan tenang, dia pun bingung menanggapi situasi ini, yang jelas dia hanya menjalankan apa yang diperintahkan majikannya saat ayah Alena mengatakan bahwa anaknya menerima setiap keputusannya.

"Maaf, Nona. Aku tidak punya keberanian menolak permintaan ayahmu." Dia berhenti sejenak , kemudian melanjutkan, "beliau mengatakan nona sudah menerima suami yang beliau pilihkan untuk nona, saya juga terpaksa melakukannya, karena jasa ayah nona belum terbalas oleh saya sampai saat ini."

Alena kembali tertawa pahit, dia mengacak rambutnya frustasi, dia sudah meyakini pria pilihan ayahnya pasti laki-laki yang hebat dan matang, tak bisakah ayahnya meminta pendapat terlebih dahulu kepadanya siapa yang layak untuknya? apakah ayahnya sengaja tak memberitahu ketika akad itu terjadi supaya dia tidak menolak laki-laki itu? tapi kenapa? akalnya tidak bisa mencerna dengan baik.

"Masalah balas budi itu, merupakan urusanmu dengan ayahku, aku tidak pernah berfikiran untuk menikah secepat ini, terlebih lagi dengan...." Alena mengamati laki-laki itu dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai, kemeja lusuh bewarna sudah agak pudar dipadukan dengan celana jins hitam yang tak kalah pudarnya, apa laki-laki itu tidak menghargai ketampanannya dengan pakaian seperti itu dia terlihat sangat buruk.

"Aku tau maksudmu, Nona. Dan aku tau posisiku, kau tak perlu melanjutkan ucapanmu dengan tujuan merendahkanku." Intonasinya tegas, Alena cukup heran kemana pemuda yang memandangnya takut dua jam yang lalu.

Tanpa Alena sadari, dia sudah duduk di samping ranjang Alena dan menatap lekat mata gadis berambut hitam legam itu.

"Suka tidak suka, semua sudah terjadi, dan aku tak pernah berniat untuk menceraikanmu."

Mulut Alena terbuka tak percaya, inikah yang dipilihkan Ayahnya? seorang pemuda kampung yang bisa membantah ucapannya dan membuatnya terkejut.

"Oke." Tiba-tiba Alena kehabisan kosa kata, dia merasa terintimidasi , dia benar-benar lelah secara fisik dan psikis, yang dibutuhkannya saat ini adalah tidur.

"Sekarang silahkan kau menjauh dari ranjangku, karena aku belum menerimamu sebagai suamiku. Aku rasa sekarang kau dan ayahku mengerjaiku bahkan disaat aku tidak ulang tahun." Alena frustasi, laki-laki itu sekarang menatapnya dengan berani dan sedikit kesal.

Alena melanjutkan, "bisa kah kau ... siapa namamu?"

" Jaka," jawabnya cepat

" Baik, Jaka. Sekarang aku butuh berfikir, ini sangat mengejutkan. Bisakah kau tidak tidur di kamarku?"

Alena menatap Jaka penuh harap. Laki- laki itu hanya menatapnya dengan datar. Alena bersumpah, dia ingin malam ini benar-benar istirahat supaya dia bisa menghadapi kenyataan pada esok pagi.

"Maaf, Nona, aku tak bisa mengabulkan permintaanmu karena begitu amanah ayahmu, kalau kau kawatir aku akan menerkammu, kau tenang saja, Nona! aku tak segampang itu tertarik kepada wanita."

Mulut Alena semakin terbuka tak percaya.

"Bunuh saja aku!" Alena setengah menjerit, matanya berapi-api.
Kemudian Alena melempar bantal beserta satu selimut kehadapan Jaka.

"Kau tak ku izinkan tidur di tempat tidurku, malam ini dan seterusnya kau tidur di lantai."

Jaka tidak menanggapi, dengan santai dia menata bantal di atas karpet tebal lantai kamar Alena. Dia tidak begitu ambil pusing dengan kegalakan Alena, dan dia tidak begitu berharap dengan pernikahan ini.

Jaka menghela nafas, ini juga berat untuknya, tak pernah terfikir memiliki istri seperti Alena, Alena terlalu sempurna, wanita itu hampir tak ada cacat kekurangannya hanya karena sifat kaku, dingin dan ketus. Jaka takut, takut jika suatu saat dia tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.

Jaka melirik ranjang king size Alena. Dia tau gadis yang sangat cantik itu belum tidur, terlihat dari kegelisahannya dalam mencari posisi yang nyaman. Ah gadis itu, seumur hidup Jaka tak pernah bermimpi terlalu tinggi untuk hidupnya. Betapa cantiknya gadis itu, bahkan wangi rambut panjangnya memenuhi ruangan kamar tujuh kali delapan tersebut.
******

Suami Pilihan Ayah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang