Rentang Kisah

4.9K 55 8
                                    

Judul buku  : Rentang Kisah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Judul buku : Rentang Kisah.
Penulis : Gita Savitri Devi.
Penerbit    : GagasMedia.
Tahun terbit : Cetakan pertama, 2017.
Halaman      : VII + 207 halaman.

Sinopsis :

Apa tujuan hidupmu?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku nggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekedar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku-termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.

Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengatur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.

Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.

The purpose to live a happy life is to always be grateful and don't forget the magic word: ikhlas, ikhlas, ikhlas.

————————————————

Buku yang berjudul Rentang Kisah karya Gita Savitri ini bercerita tentang masa kecil Gita Savitri dan berbagai fenomena kehidupan dengan banyak pelajaran berharga bagi Gita. Gita kecil bukanlah sosok yang senang dengan orang tua. Terutama ibunya. Gita kecil melihat ibunya sebagai sosok diktator dan menakutkan. Segala arahan dari ibu harus selalu ia turuti. Kalau tidak, ibunya bisa marah besar. Kemarahan itu yang membuat Gita kecil takut sekaligus membenci ibunya. Terkadang, Gita iri dengan teman-teman sebayanya yang bisa terlihat harmonis dan akrab dengan kedua orang tua mereka. Gita tidak bisa demikian. Satu-satunya hal bisa Gita lakukan adalah menuruti semua perintah ibunya. Alhasil, Gita sudah disibukkan dengan berbagai macam kursus sesuai arahan sang ibu. Kegiatan kursus Gita tersebut selalu diantar jemput oleh ibunya. Jarang bagi Gita untuk bisa nongkrong cantik bersama teman-temannya.

Suatu saat, Gita sudah lulus SMA. Dunia perkuliahan sudah menanti di depan mata. Gita yang sampai saat itu masih belum memiliki cita-cita, merasa bingung dengan jurusan apa yang ingin ia tempuh. Ia bukan tipe rajin belajar. Bahkan, Gita merasa bahwa dirinya tidak tahu bagaimana cara belajar yang benar. Akhirnya ia mengikuti pendapat orang yaitu memilih jurusan kuliah berdasarkan passion yang dimiliki. Walaupun, Gita lagi-lagi bingung dengan apa passion yang dia sukai sekarang.

Setelah perenungan panjang, Gita memutuskan untuk mengambil jurusan desain grafis di ITB melihat hobinya yang senang menggambar. Gita memfokuskan diri dengan belajar soal-soal latihan masuk perguruan tinggi. Setelah belajar keras dan mengikuti seleksi nasional, Gita berhasil mendapatkan kampus impiannya.

"Kamu mau kuliah di ITB atau di Jerman?" tanya ibu setelah mengetahui pengumuman hasil seleksi. Gita terkejut. Setelah ia bersusah payah belajar untuk masuk universitas serta setelah Gita menentukan pilihannya, ibu justru bereaksi lain. Bukan diberi selamat atau apa kek. Padahal udah susah-susah belajar. Gerutu Gita dalam hati.

Gita kembali dilanda kebingungan. Ibunya memberi pilihan yang sulit. ITB sudah di depan mata. Sedangkan Jerman terlihat menarik untuk dicoba. Melihat ayah dan ibunya yang dahulu juga tinggal di Jerman, Gita memilih Jerman dan melepaskan ITB. Sayangnya, nasib Gita tidak sebaik itu. Ibunya telah memperoleh informasi dari sales X tentang perkuliahan di Jerman yang menerima mahasiswa minimal berusia 18 tahun. Saat itu usia Gita baru menginjak 17 tahun. Sebenarnya Jerman menerima mahasiswa di bawah usia 17 tahun tapi segala bentuk persetujuan administrasi harus atas nama wali atau penanggung jawab dari mahasiswa. Akan merepotkan jika apa-apa harus minta tanda tangan ayah. Padahal ayahnya sedang sibuk bekerja di luar negeri. Keputusan akhirnya, Gita harus menelan pil pahit dengan menunggu selama setahun di rumah sebelum benar-benar berangkat ke Jerman. Waktu senggang selama setahun sempat Gita keluhkan. Lambat laun, Gita mulai menerima waktu senggangnya. Ia menghabiskan waktu untuk bersantai dan nongkrong bersama teman-temannya. Waktu senggang yang dulu tidak bisa ia rasakan karena disibukkan dengan kursus ini-itu.

Setahun berlalu. Gita benar-benar berangkat ke Jerman. Gita mengalami culture shock berupa sistem pendidikan di Jerman. Sistem pendidikan di Jerman memang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Di Jerman, calon mahasiswa harus menempuh Studienkolleg beserta tes tulisnya selama dua tahun sebagai syarat masuk perkuliahan di Jerman. Pelajaran yang ditempuh di Studienkolleg antara lain materi pelajaran SMA. Bedanya, di Jerman kita dituntut untuk menguasai konsep dan alasan bagaimana suatu rumus dapat terbentuk. Jadi, pelajaran nampak luar biasa sulit bagi Gita. Gita banyak melahap latihan soal selama di Jerman karena jika tes Studienkolleg-nya tidak lulus, bukan hanya ia tidak diterima masuk perkuliahan di sana melainkan dipulangkan ke Indonesia. Mengapa harus menghafalkan banyak rumus kalau beberapa rumus berasal dari satu turunan yang sama?

Masalah lain yang dihadapi Gita ketika kali pertama di Jerman adalah penguasaan bahasa Jerman. Gita memang sudah mengenal bahasa Jerman semenjak kelas 2 SMA dengan mengikuti kursus bahasa Jerman. Tapi hal itu tidak membantu Gita ketika benar-benar terjun ke bumi Jerman. Alhasil, di samping mengikuti program Studienkolleg, Gita berlatih keras untuk menguasa bahasa Jerman. Di samping kebutuhan sosial dan pembelajaran, bahasa Jerman juga menjadi syarat bagi mahasiswa baru untuk berkuliah di Jerman karena bahasa pengantar kuliah di Jerman adalah bahasa Jerman sendiri. Pada akhirnya, Gita dapat melalui beberapa tes dengan nilai sangat baik. Di samping itu, Gita berhasil masuk universitas paling bergengsi di Jerman yaitu Freie Universität Berlin jurusan Kimia Murni.

Kisahnya di Jerman terus berlanjut hingga tak terasa tujuh tahun berlalu. Banyak pengalaman serta pelajaran yang Gita dapatkan selama tujuh tahun di tanah rantau. Semua pengalaman itu tentunya mampu mengubah Gita menjadi pribadi yang matang dan lebih baik. Tidak seperti dulu.

———————————————

———————————————

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gita Savitri DeviTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang