Tetes Air 1: Kado dari Masa Depan (Bagian 2/ Tamat)

107 2 0

Cindy membuka matanya. Ia melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Pukul 09.50 AM. Pintu keberangkatan telah dibuka. Para penumpang mengantre untuk terakhir kalinya melakukan pengecekan tiket oleh petugas bandara. Cindy bangkit dari duduknya, mengembalikan draft novel itu ke dalam amplop dan memasukkan ke tas punggungnya. Ia segera menyiapkan tiketnya kemudian mengambil tempat dibelakang para penumpang untuk ikut mengantre.

Pukul 10.00 AM pesawat yang ditumpangi Cindy mulai terbang. Sebelum menuju Indonesia, Cindy terlebih dahulu transit di Kuala Lumpur International Airport. Pesawat mengudara kurang lebih selama 14 jam. Dalam pesawat tak banyak hal yang bisa dilakukan Cindy. Hanya membaca novel dan selebihnya ia memilih tidur. Di Kuala Lumpur cuaca juga cerah. Tak ada hambatan. Dengan perbedaan waktu 7 jam, pukul 07.00 AM waktu setempat, pesawat landing sesuai jadwal.

Turun dari pesawat, Cindy harus menunggu pesawat selanjutnya yang menuju Jakarta. Tepatnya sekitar 2 jam. Ia berkeliling di sekitar ruang tunggu. Suhu di Kuala Lumpur lebih hangat, Cindy melepaskan jaket tebalnya. Lelah berkeliling, ia kembali duduk di kursi ruang tunggu.

Saat itu, cuaca juga sedang cerah seperti hari ini, gumam Cindy. Ia kembali mengingat-ingat salah satu peristiwa spesialnya.

***

Terjadi dua tahun lalu. Tepat satu bulan setelah Cindy menginjakkan kaki di kota London untuk pertama kalinya. Siang itu, ia sedang berada di Costa Coffee. Memilih tempat duduk di dekat jendela sambil menyeruput Caramel Cappuccino miliknya. Tak ada hal khusus yang ia lakukan, hanya berjalan-jalan di sekitar untuk mengisi waktu kosong sembari menunggu hari aktif kuliahnya yang belum dimulai. Menurutnya hal itu sangat menyenangkan, memperhatikan orang berlalu lalang di sekitar pertokoan yang berada di jalan Earls City. Seperti ikut merasakan kesibukan kota London pada siang hari.

Caramel Cappuccinonya masih setengah cangkir, walaupun Cindy sudah 30 menit berada di sana. Ia tenggelam dalam cerita novel yang ia baca. Tak lama kemudian, seorang pelayan mengenakan seragam putih mendekat ke meja Cindy dan menghidangkan sepotong Cheese cake di atas mejanya.

"Enjoy your cheese cake, Miss."

"I didn't order it! I think you're wrong." Cindy sedikit terkejut. Mengisyaratkan dengan tangannya bahwa dia tak memesannya.

"No, someone ordered this cake for you"

"Who?" Alis Cindy semakin berkerut. Penasaran.

"I'm sorry, but He didn't want to tell his name."

"Okay, say thanks to him." Cindy mengakhiri pembicaraannya dengan si pelayan.

Itu bukan Cheese cake biasa. Di atas piring tempat kue itu disajikan, tertulis "Happy Birthday Cindy" menggunakan lelehan coklat. Cantik. Tak hanya itu, terdapat satu lilin kecil yang menyala di kue itu.

Siapa orang yang memberikanku kue ini? Bagaimana dia tahu hari ulang tahunku? Hey, dia juga tahu kue kesukaanku!. Cindy sedang berada di negeri orang, tak banyak mengenal penduduk sini dan ia mendapat kado di hari spesialnya.

Terimakasih siapapun kau, orang yang ikut merayakan ulang tahun pertamaku di kota London, gumamnya lirih. Kemudian, Cindy meniup lilin sembari berdoa agar ia dipertemukan dengan orang yang memberikan kue ini.

***

Bruukk....!!!

Seseorang jatuh karena tersandung kaki Cindy. Ternyata Cindy sempat terlelap cukup lama di ruang tunggu. Saat tidur, kakinya yang ia luruskan membuat orang lain celaka. Dengan sedikit linglung, Cindy berdiri dan meminta maaf. Ia kembali berjongkok untuk membantu mengumpulkan kertas yang berhamburan. Ada pasport hijau tosca di antara ketas-kertas itu. Untung saja dia orang Indonesia, gumam Cindy pelan, ketika orang itu sudah jauh meninggalkannya.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!