151 : Gelanggang Yevimofich - part 4

1.1K 174 92
                                    

Erix melesat dengan sangat cepat. Saking cepatnya, ia terlihat seakan menghilang. Lalu menebas gelang anti sihir yang melingkar di tangan dark elf itu. Ilrune sendiri sampai kaget melihat galangnya yang tiba-tiba sudah hancur.

Setelah itu, Erix muncul di depan Ilrune dan menusuk dark elf tersebut.

"E-Erix ... kau ...."

"Baiklah. Sekarang bisakah kau mati?" bisik Erix.

"Ha?"

"Sudahlah, pura-pura mati saja."

"Oh." Ilrune menyadari apa yang dipikirkan Erix sekarang. Katana Erix menebus celah antara perut dan tangan kanannya sehingga terlihat seperti tertusuk dan dengan cepat menarik kembali katana tersebut.

Tidak ada darah, sudah jelas kan.

Ilrune terduduk sambil memegang perutnya dan tergeletak.

Dua orang staf mesuk ke dalam arena sambil membawa sebuah tandu. Kedua staf itu segera meletakkan tubuh Ilrune ke atas tandu tersebut.

"Baiklah Erix, kami menunggumu di luar," ujar salah satu staf.

Erix mengenali laki-laki itu. "Yuhka?" dan menoleh ke staf satunya, "Shin?"

Tanpa menjawab, Yuhka dan Shin segera membawa tubuh Ilrune ke luar arena. Disusul dengan riuhnya sorakan penonton.

Beberapa saat yang lalu.

Erix dan Ilrune saling menjauh setelah tiga dentingan terdengar di arena. Dari sudut pandang penonton, saat ini kedua orang itu saling diam penuh awas.

Tapi, Shin dan Mathilda tahu apa yang sedang Erix dan Ilrune lakukan. Mereka berdiskusi.

Karena saling diam, semua penonton mulai bertanya-tanya. Berbisik dengan sesamanya menggosipkan situasi Erix dan Ilrune yang tidak bergerak.

"Ayo ikut aku!" ajak Shin tiba-tiba. Mathilda mengikutinya tanpa protes.

"Kita mau kemana Shin?" tanya Yuhka.

"Kalian mau ke mana?" Selina ikut bertanya.

"Sudah. Ikut saja!" saut Shin.

Shin dan Mathilda, disusul teman-teman mereka, segera keluar dari bangku penonton. Yuhka dan Selina yang masih bertanya-tanya, ikut dengan berbagaipertanyaan terlontar namun tidak dijawab. Berbeda dengan Hercules, Tydeus, Medusa dan Hiel yang ikut tanpa bicara.

Di sisi lain.

"Kenapa mereka diam?" tanya Ante.

"Sepertinya mereka menyadari jika mereka seimbang sehingga mereka saling siaga," jawab Peter.

"Sepertinya tidak demikian," gumam Maia.

"Maksudmu?" sahut Peter.

"Mereka terlihat seperti sedang berdiskusi," tambah Maia.

"Aku pun merasa seperti itu," ujar Rodin. "Dan juga, di mana katana Erix? Dia tidak pernah melepas ketananya itu, kan?"

"Benar juga," saut Hendro.

"Diskusi, kah?" gumam Peter.

"Hey, Lihat!" seru Takiya, ia menunjuk sisi lain gelanggang yang tak jauh darinya.

"Ada apa Takiya?" tanya Ante.

"Di sana!"

Semua teman-temannya menoleh ke arah yang ditunjuk samurai itu.

"Selina?" kata Ante. Namun, dari deretan orang-orang yang bersama wanita yang ia kenal itu, Ante cuma mengenal Selin dan Yuhka. Selebihnya adalah orang asing baginya.

Dungeon HallowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang