ft┊ huang renjun.
❛kamis gerimis,
penuh dengan historis.
sang tigabelas menjadi alasan logis,
bagi kedua inti yang mencinta ironis.❜
1301
Ⓒjupitaekim, 2O19
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
rabu, tiga belas februaridua ribu enam belas.
'srek'
aku membuka lembaran buku berwarna cokelat tua di atas meja sembari duduk pada kursi sedikit kumuh berwarna abu-abu.
maklum, jarang ditempati.
tempatnya nyaman, membuatku enggan beranjak.
anggaplah, zona nyaman.
kurasa, ini momen yang tepat dimana pada pukul satu kurang dua menit, matahari sedang dalam keadaan terik-teriknya.
sang surya menyinari dunia, sapaan hangatnya terasa hingga jiwa raga.
perpustakaan. tempat yang memang semestinnya aku kunjungi kapan pun.
suasannya biasa saja, sama seperti kemarin dan hari sebelumnya. tetap sunyi, hanya diisi kegiatan makhluk yang membuka dan menutup buku.
begitupun denganku, membaca dengan cermat cerita yang telah kupilah di berbagai macam rak tadi.
hingga, di lembar ketiga belas, aku menjeda kegiatan membacaku.
menatap kehadiran seorang lelaki yang menarik kursi, tepat di hadapanku saat ini. "maaf, tempatnya penuh. jadi harus duduk disini," katanya. membuka obrolan.
aku menengok sekitar.
biasa aja tuh, gak penuh malah.
mungkin, dia liat makhluk tak kasat mata.
aku mengangguk. "iya gak apa-apa, santai aja. tempat umum kok."
kini giliran ia yang mengangguk. lalu mulai membuka buku yang ia bawa kemari.
sampulnya berwarna hijau, dengan gambar pepohonan.
pecinta alam sepertinya, pikirku.
loh? kok jadi merhatiin dia sih. ayo lanjut baca bukunnya.
setelahnya, aku melanjutkan membaca buku yang belum diselesaikan.
"kelas berapa?"
aku menatap netra sang lelaki yang bertanya itu. memastikan, takut bukan aku yang diajak bicara.
kalau salahkan malu.
"kamu. dimeja ini cuman ada kita."
kalimatnya biasa, wajahnya juga datar. tapi entah mengapa, terasa begitu lembut dan hangat.
efek dekat dengan matahari deh kayaknya.
"ips5. kalau kamu?" tanyaku.
"ipa1."
"pantes aja."
"kenapa?"
"e-eh, enggak kok," kataku.
kalau kuberi tahu, nanti dia kira aku mata-mata. liatin dia terus soalnya.
sudahlah, waktu membacannya dicukupkan sekian saja. dilanjut esok, aku takut sama dia.
bilang atau enggak ya.
pikiran bilangnya tidak, tapi hati bilangnya iya.
tapi kali ini, pikiran yang menang.
aku tinggal saja dia, toh gak kenal. gak perlu juga ucapkan "duluan".
kututup buku yang baru setengah dibaca tadi, lalu berdiri membetulkan rok putih abu yang terkena sedikit debu, dan mulai beranjak pergi.
"rambutmu, kena cahaya matahari jadi indah."
aku membalik badan sekilas.
dia ngomong sama siapa sih?
"ngomong sama kamu. dan kenalin, renjun," katannya. tapi gak melihat ke arahku.
aneh, aku kan jadi ke gr an.
"salam kenal ya, anjani prathya."
loh, itu kan namaku.
///
━━━━━━━━━━━━━━
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
renjun bagaskara,
tigabelas。
━━━━━━━━━━━━━━
❛kamis gerimis, penuh dengan historis. sang tigabelas menjadi alasan logis, bagi kedua inti yang mencinta ironis.❜