1. Accident.
Brak!
Decitan suara ban mobil terdengar cukup kentara setelah sang pemilik menginjak rem secara mendadak karena baru saja menabrak seorang gadis yang kini terkapar tak berdaya di atas aspal jalan. Begitu banyak orang berkerumun di sekitar gadis malang itu, terlihat darah segar mengalir dari pelipis kirinya serta wajah yang dipenuhi luka lebam, ujung bibir sebelah kiri pun terlihat kebiruan. Luka yang disebabkan bukan karena kecelakaan itu saja, tapi hal lain.
Parvis juga lebih dari panik, ia turun dari mobil lantas membanting pintu begitu saja dan menghambur menerobos kerumunan orang-orang. Ia berjongkok di sisi gadis yang tak sadarkan diri itu.
"Ya Tuhan," gumam Parvis sembari menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi, ia baru saja mendapat masalah dan kini harus ditambahi bahkan lebih parah. Di mana keadilan untuknya hari ini?
"Bawa ke rumah sakit sekarang, Mas!" seru salah seorang ibu-ibu yang terlihat cemas di antara banyaknya manusia yang berkerumun di sana.
"Iya tuh! Harus tanggung jawab!" ucap lainnya menimpali.
"Buruan, Mas! Nanti malah kehabisan napas bisa lebih gawat, Anda bisa masuk penjara!"
Parvis mulai stres, ia gemas dengan keadaan yang sangat membebani dirinya. Jika pagi tadi ia tak sarapan bisa saja sekarang sudah pingsan karena lemas mendengar ocehan penghakiman orang-orang di sekitarnya, belum lagi pening di kepala karena hubungannya baru saja berakhir dengan sang kekasih--masalah lain yang membuatnya ngebut di jalan hingga menabrak gadis malang itu.
Tak mau ambil pusing lebih lama, Parvis mengangkat tubuh gadis malang itu ala bridal style. Ia beranjak lantas menatap orang-orang di sekitarnya.
"Tolong bukain pintu mobil saya, biar saya bawa dia ke rumah sakit sekarang," pinta Parvis pada siapa pun yang mau membantunya.
Salah seorang pria berlari ke arah mobil Parvis lantas membukakan pintu untuknya hingga laki-laki 23 tahun itu bisa mendudukan tubuh gadis malang di sebelah jok kemudi, tak lupa Parvis memasangkan seat belt agar lebih aman. Setelahnya ia mengitari kap mobil dan duduk di balik kemudi, kini kerumunan pasar kaget itu sudah bubar sejak Parvis memutuskan bertanggung jawab.
Segera Parvis tancap gas dan melaju pergi dari tempat itu, ia sedang tak bisa mengontrol dirinya sendiri setelah Kimberly--yang kini berstatus sebagai mantan kekasihnya memutuskan hendak menikah dengan pria lain, padahal hubungannya dengan Parvis sudah menginjak usia empat tahun, tapi dengan mudahnya Kimberly mencampakan dirinya seperti seonggok sampah yang tak layak untuk dilihat.
Sesekali Parvis menoleh pada gadis di sebelahnya, jika ia tak frustrasi pasti takkan mencelakai nyawa orang lain.
"Argh!" erang Parvis sembari memukul dash board berkali-kali hingga kulit tulang jemarinya kemerahan, bagaimanapun amuknya juga rasa sakitnya tak mungkin hilang dalam sekejap, efek kesakitan yang Kimberly bagi sungguh luar biasa!
***
Begitu masuk ke area rumah sakit, brankar berjalan itu langsung diisi oleh tubuh mungil si gadis yang penuh luka. Para perawat mendorong brankar itu dengan cepat menuju IGD rumah sakit, sedangkan Parvis dengan sabar menunggu hasil terbaik di luar ruangan itu. Ia duduk sendirian sembari menopang keningnya yang begitu berdenyut dengan kedua tangan.
YOU ARE READING
Ynamorata
Romance"Perempuan paling kucinta." Parvis tak sengaja dipertemukan dengan gadis tunawicara yakni Eiffel Manansala karena insiden kecelakaan yang melibatkan mereka, Parvis tak pernah menyangka jika gadis bisu itu akan mengubah sedikit demi sedikit kehidupan...
