Part 5

912 171 10

Setelah membeli beberapa kebutuhan selama di resort Ben dan Fahrania pulang. Mereka memilah-milah bahan makanan yang akan di taruh di kulkas. Pria itu sesekali memperhatikan Fahrania. Mungkin jika mereka menikah akan seperti ini, pikirnya. Belanja bersama, memilah-milah dan hanya ada mereka berdua sebelum memiliki anak. Bayangan tentang masa depan membuat Ben mengulum senyumnya.

"Sudah selesai." Fahrania menutup pintu kulkas.

Ben kesiap, "terimakasih sudah membantuku," ucapnya. Fahrania hanya mengangguk. Ia akan kembali ke kamarnya. "Mau minum kopi denganku?"

"Tidak, terimakasih. Aku sudah mengantuk." Ia tidak ingin lebih lama lagi berduaan dengan Ben, hari ini cukup membuatnya gelisah. Terutama hatinya. Ben meminta pendapatnya tentang pernikahaan. Fahrania merasakan ada sesuatu yang pria itu inginkan darinya. Entah itu apa? Dirinya pun masih bingung.

"Baiklah, selamat tidur.."

Fahrania segera meninggalkan dapur. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Duduk di tepi ranjang lalu tertegun. Saat mereka akan masuk ke dalam supermarket. Ben mengatakan sesuatu yang membuat hatinya risau. Ia tidak mendengar begitu jelas apa yang dibicarakan pria itu.

"Tadi dia bicara apa ya? Kenapa aku jadi seperti ini." Ia mengeluh terhadap dirinya sendiri. Kepalanya mendadak nyeri. "Itu tidak penting." Fahrania ke kamar mandi untuk cuci muka lalu tidur.

***

Sayup-sayup Fahrania mendengar suara tawa dan teriakan dari luar. Tubuhnya menggeliat merenggangkan otot yang terasa agak kaku. Ia menyibak selimut yang menghangatkan tubuhnya semalaman. Bangun dan berjalan ke dekat pintu balkon. Ia melihat Reifan dan Nuria yang sedang berenang. Bola mata Fahrania hampir loncat saat melihat dengan matanya sendiri. Nuria mengenakan bikini yang memamerkan lekuk tubuhnya. Fahrania sampai menahan napas. Dengan langkah terburu-buru ia keluar dari kamar.

"Nuria!" teriaknya dengan tatapan marah.

"Kakak, sini kita berenang." Nuria dengan wajah senang.

"NURIA!" teriaknya memanggil kembali. Nuria belum menyadari kenapa Fahrania marah. "Naik dan ganti bikinimu!" lanjutnya berang.

"Kakak," Nuria yang sedang berenang langsung naik. Fahrania mengambil bathrobe yang ada di atas kursi. Ia mendekati adiknya lalu memberikannya. Menyuruh Nuria memakai itu untuk menutupi tubuhnya. Dengan wajah ditekuk Nuria mengenakan. Fahrania menalikan dengan kencang.

"Aku sudah bilang tidak ada bikini. Apa kamu tidak mendengarnya?!" wajahnya memerah karena menahan amarah yang siap meledak kapan saja. "Disini ada orang lain. Bagaimana kalau... " Fahrania tidak bisa melanjutkannya.

"Kak Ben dari tadi tidak dirumah, Kak. Dia olahraga lari sampai sekarang belum pulang." Reifan menerangkan. Ia cukup prihatin pada Nuria. Fahrania bisa bernapas lega. Ben tidak di rumah.

"Kalau mau berenang pakai celana pendek dan t-shirt saja. Ganti sekarang!" perintahnya.

"Tapi, Kak.." ucap Nuria hendak membantah. Fahrania langsung menatapnya tajam. Adiknya ketakutan dan menuruti keinginan Fahrania. Ia berjalan dengan lemas. Ada Fahrania membuatnya tidak bebas.

"Reifan! Apa kamu tidak bisa memberi tahu Nuria? Untuk tidak pakai bikini?!" giliran Reifan yang kena semprot omelan Fahrania. Adik laki-laki masih berada di dalam kolam renang.

"Ya kan itu kemauan Nuria, Kak. Aku tidak bisa apa-apa."

"Alasan saja!" timpal Fahrania marah. "Kamu harus menjaga adikmu. Kalau seperti ini biar Kakak bilang ke Daddy!" ancamnya.

"Kak, jangan Kak." Reifan naik untuk mendekati Fahrania. "Rei, mohon jangan ya, Kak." Ia memegang tangannya. "Aku janji mau jaga Nuria apapun itu."

Heart Is Beating (GOOGLE PLAY BOOK)Baca cerita ini secara GRATIS!