Prolog (67)

16 0 0

2001, Desember 25. Sheryn dan Leo pergi.

2001, Desember 26. Mrs.Portman . Agenda. Hadiah.

2008 November 14. Hellen pindah ke Paris. Buku.

2011, Desember 6. Murid baru. Merokok.

2012, Desember 31. Taman Lakeside. Jam 10pm.

Ingat#Maret, 10...........

                                                                         ***

New York, Januari, 2008.....

"Tidak, tidak, jangan masukan itu ke dalam daftar. Kau harus pikir ulang untuk daftar kesana. Jauh. Kita pisah, aku tidak mau. Please, just don't..." Hellen melirik lembaran kertas yang sedang dipegang Geo; itu daftar-daftar perguruan tinggi yang akan mereka pilih, dan mereka sedang dalam masa dilema karena perbedaan pendapat yang sejak pagi tidak kunjung usai. Awalanya mereka berencana memasuki Unirvesitas Columbia, namun Hellen tidak direstui oleh sang ayah karena jauh dari pengawasan, walaupun sebenarnya kedua orang tua Hellen memberikan kepercayaan pada Geo (yang notabene sahabat anaknya sejak kecil) tetapi tetap saja, mereka tidak mungkin tinggal satu atap tanpa pengawasan. Apalagi Hellen yang karakternya belum memiliki pendirian, maka Geo dan Hellen harus berdiskusi lagi, merundingkan kemana mereka akan melanjutkan sekolah.

Hellen menggigit-gigit bolpoinnya, terkadang ia juga sempat memerhatikan Geo yang berbaring di sebelahnya sedang serius membaca visi, misi, serta histori dari berbagai perguruan tinggi. Sayang sekali rasanya jika Geo harus mengikuti arah kemana Hellen berjalan. Dia punya bakat yang luar biasa, dan Hellen tidak mungkin bersikap egois karena kebutuhannya akan kehadiran Geo menjadikan cowok itu seperti ekor. Geo mengalami masa sulit yang menurutnya, itu hal paling menyedihkan yang pernah ia dengar. Dan mengapa ia menjadikan cowok itu sebagai penyemangatnya adalah karena Geo masih bisa hidup penuh kerja keras dan semangat. Baginya manusia zaman sekarang yang bermotif sama seperti Geo itu sudah hampir punah.

"Hei, aku akan masuk Jèsme kalau begitu." Kata Hellen akhirnya, "dilihat dari segi pengawasan ayah dan ibuku, kupikir mereka akan setuju karena Jèsme memiliki asrama. Lagipula, bukan tidak mungkin aku masuk san..hei! kenapa kau mencoretnya dari daftar?!" Pupil matanya membesar melihat nama Unirvesitas Jèsme di garisi vertikal oleh Geo. Dan lagi-lagi mereka harus melanjutkan perdebatan, padahal jika saja salah satu diantara mereka mau mengalah..., "jadi sebenarnya kita akan masuk perguruan tinggi apa?" Tanya Hellen dengan nada kesal.

"Jèsme tentu saja."

"Apa?"

"Kau bilang beberapa detik yang lalu ingin masuk Jèsme."

"Tidak, maksudku," Hellen menolehkan kepalanya ke Geo, menatap kesempurnaan dari wajah sahabatnya itu. Dia tidak punya cacat fisik, jauh dari namanya problema kulit dan sebagainya. Tapi itulah titik point dari seorang Geofany Joe Michelle, dimana semua pria justru berlomba-lomba merusak kerupawanan mereka hanya karena ingin dilabeli jagoan, namun Geo tidak. Dia memiliki jiwa nerd yang sungguh mendebarkan para gadis satu unirvesitas kalau-kalau nanti mereka sudah kuliah. "Aku yang akan masuk, kau tidak."

"Jadi secara tak langsung kau bilang aku bodoh?"

"BUKAN BEGITU!"

Geo meringis tertawa sambil menepuk-nepuk rambut Hellen, "iya aku tahu. Kita masuk Jèsme tentu saja. Chris memberikan informasi kalau disana tes tertulis jauh lebih sulit daripada tes lisan. Jadi kusarankan...."

"Tes lisan. Aku mengerti. Tapi bukan berarti kau memasuki Jèsme karena aku juga, benar?" Ia duduk menghadap Geo, menyikut pahanya sampai-sampai cowok itu ikut bangkit duduk dan menatap Hellen sangsi. "17 tahun, punya pendirian adalah target utamaku yang mengubur beribu mimpi karena...yeah, aku terbiasa berlari bersamamu. Aku hanya tidak ingin kau menjadi kloningan seorang Hellen Portman."

"Sinting," Geo tersenyum kecil, "masuk Jèsme target utamaku saat SMA. Jadi jangan khawatir."

"Baguslah kalau memang begitu." Dan bintang malam tiada bersembunyi diantara hamparan langit kelam yang menenggelamkan keramaian. Geo tidak tahu sampai kapan hidupnya akan menjadi beban bagi keluarga Hellen, mereka sudah terlalu banyak memberi daripada menerima apapun dari dirinya. Dia harus membantu merajut mimpi sahabatnya agar balas budi yang ia berikan sedikit terlunasi, dan, api juga harus padam saat lilin mulai meleleh.

                                                                          ***

Ujian masuk unirvesitas tinggal menghitung detik, dan Geo serta Hellen duduk di taman besar Unirvesitas Jèsme yang dikerubungi pohon-pohon beringin kekuningan. Jèsme memiliki postur tubuh yang berkelok indah, dan tegap juga berkesan klasik. Tentu saja karena sekolah ini tidak dibangun saat mereka berumur seumur jagung. Kapas fatamorgana menghias lintasan alam dengan terik cahaya yang diserap beribu dedaunan diatas kepala mereka. Banyak orang disini, selain karena ada ujian masuk, beberapa pelajar Jèsme masih ada yang suka berkeluyuran sambil menenteng tumpukan kertas yang dijepit. Geo, menunggu giliran panggilannya, dan dia masuk ke panggilan seratus lima puluh empat, juga menunggu Chris yang akan mengambil ujian tertulis karena oh yeah, sejujurnya Geo juga ingin mengikuti tes tertulis kalau saja Hellen mempunyai kejeniusan yang berimbang sedikit. Namun rasanya tidak baik membiarkan sahabatnya masuk ke lorong tes lisan sendirian tanpa sosok-sosok yang dikenalnya.

Geo mungkin sudah mengetahui apa yang akan dosen-dosen tanyakan, sayangnya Hellen tidak bisa mengukur sejauh mana mereka akan memberi pertanyaan-pertanyaan sulit. Hellen cukup menyiapkan mental, dan Geo memberikan sedikit tips jika wawancara berjalan tak semestinya.

"Geo, aku takut." Hellen mencengkram sweater yang Geo kenakan. Dia tidak biasa berada di sekitar orang-orang yang tak ia kenal. Membiasakan diri dalam lingkungan baru bukanlah hal mudah, satu-satunya hal yang tidak pernah ia lupakan adalah ketika pertama kali dirinya dan Geo bertemu. Saat itu ia benar-benar takut terhadap Geo, bahkan melihat manik coklat hazel yang beradu indah dengan terpaan cahaya ia pun harus bergelut dengan iman.

"Tips yang kuberikan masih ingat?" Geo melekatkan tubuh Hellen ke sampingnya, mencoba memberi ketenangan pada gadis bermarga Portman tersebut. "Pertama..."

"Jangan takut, kedua jangan terbawa emosi, ketiga jangan terlalu serius, keempat jangan...argh, aku lupa." Ia melepaskan kedekatannya dari Geo dan berlari menjauh. Hellen menyentuh kedua telapak tangannya yang basah keringat dingin, pasti ini akan terjadi di dalam nanti. Pasti ketegangannya akan terlihat jelas lewat hidungnya yang kembang kempis. Ugh. "Geo, bisakah aku pulang?"

"Yo! Bung! Maaf membuatmu menunggu," Chris datang dari belakang Geo dan menepuk pundaknya, mereka melakukan tos khas lelaki diiringi tawa yang memekakan. Chris adalah salah satu dari sahabat Geo yang mampu dekat dengan Hellen, dia punya surai emas, rahang yang kuat dan tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Geo. Entah kenapa jika Hellen melihat mereka merangkul satu sama lain, ia seperti melihat acara televisi yang menampilkan romantisa sesama jenis. Setelah berbincang sedikit dengan Geo, Chris dan Hellen bertemu pandang, dan Chris tersenyum sampai gingsulnya terlihat, "halo, Hellena. Kau makin cantik."

Namun poin kesempurnaan cowok itu justru berkurang akibat pipa bocor yang terus mengucurkan ocehan kosong dan basi. Rayuan, tentu saja termasuk. "Hellen. Hellena itu terlalu panjang." Ia memutar bola matanya risih. Geo menatapnya, mengisyaratkan agar membalas pujian Chris. "Terimakasih." ucapnya pelan.

Lalu mereka bertiga berjalan berdampingan memasuki gedung unirvesitas; Geo dan Hellen malangkah diantara Chris yang melingkarkan lengannya diatas bahu mereka. Semakin lama punggung mereka menghilang ditutupi angin yang berhembus sambil membuat skema musim gugur, hanya menunggu arloji berdenting untuk kedatangan mereka sesaat lagi.Apakah persahabatan itu masih akan berlanjut walau satu diantara mereka terpisah...Geo tidak pernah tahu, yang terpenting untuk saat ini adalah saling mengisi satu sama lain, bukan hadir karena untuk diminta.

67.79Baca cerita ini secara GRATIS!